1

1248 Words
1 “Hati-hati di jalan. Jangan mengebut,” kata Layla ketika mengantar sang adik ke mobil yang terparkir di halaman rumah. Mobil pick up berkabin ganda itu tampak sangat kotor. Debu dan lumpur menempel di mana-mana. Bisa dimaklumi mengingat mobil itu sehari-hari digunakan untuk ke medan perang, alias kebun. Ayah Layla memiliki beberapa hektare kebun kelapa sawit. Arie, adik Layla yang berusia dua puluh dua tahun, memilih ikut mengurusi kebun daripada melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Sementara Layla, dulunya kuliah jurusan akuntansi, berbanding terbalik dengan kegemarannya dibidang tata boga. Waktu itu, ia hanya ikut-ikutan Lusi, sepupunya. Lulus kuliah, alih-alih bekerja sesuai dengan latar pendidikannya, ia justru mengembangkan kegemarannya dalam dunia masak-memasak. Masakan tertentu akan ia bagikan di akun instagramnya, lengkap dengan resep. Kini ia sudah memiliki belasan ribu pengikut. Sehari-hari, Layla menjual bolu kemojo. Ketika awal merintis, yang membeli hanya teman-temannya. Kini, pembelinya kian banyak. Dari untuk sekadar mengudap, arisan, hingga oleh-oleh. Layla juga sering mendapat orderan mengiklankan produk tertentu di instagramnya. Di usianya yang ke-25, Layla cukup bangga pada diri sendiri. Ia bisa membeli mobil dengan uang sendiri, meski masih menyicil dan bukan mobil mewah. Ketika tiba di dekat mobil, Layla, sang adik, dan Charles—tetangga sekaligus teman sepermainan Layla, berhenti melangkah. “Charles, ini untuk ibumu. Salam untuk Bibi Mira,” kata Layla sembari mengulur satu tas kertas berisi dua loyang bolu kemojo buatannya. Arie dan Charles rutin ke Pekanbaru, entah itu untuk berbelanja kebutuhan pertanian atau pun berlibur. Sama seperti Arie, Charles yang seumuran dengan Layla itu, lebih memilih mengurusi kebun kelapa sawit milik ayahnya dibandingkan kuliah. Charles menerima tas kertas itu. “Terima kasih, Layla. Kau yakin tak mau ikut pulang?” Layla menggeleng. “Aku baru pulang tiga minggu yang lalu.” “Tapi tetap saja Mama merindukan Kakak,” sela Arie. “Setiap video call, Mama terus bertanya kapan Kakak pulang.” Layla tertawa. “Yah…, kita tahu Mama ingin Kakak tinggal di Bengkalis saja.” “Bengkalis tanah kelahiran kita, Layla. Kenapa kau justru memilih tinggal di sini?” tanya Charles. Layla memandang pria tinggi bertubuh kekar itu. “Aku betah di sini, Charles.” Layla telah beberapa tahun tinggal di Pekanbaru, tepatnya sejak lulus SMA dan melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Pekanbaru. Ayahnya membelikan rumah untuknya, yang waktu itu ia tinggali bersama Lusi. Sejak lulus kuliah, Layla tinggal sendirian, sementara Lusi bekerja di Jakarta. Awalnya, sang ayah tidak mengizinkan Layla tinggal sendirian. Namun Layla meyakinkan bahwa kompleks perumahan mereka aman. “Menurutku Bengkalis lebih menyenangkan. Tenang. Jauh dari hiruk pikuk.” Layla tertawa. Ya, jika kau menyukai ketenangan tanpa aktivitas kota yang berisik, maka pulau Bengkalis adalah pilihan yang tepat. Sayangnya Layla menyukai kehidupan kota. Ia senang menikmati akhir pekan dengan pergi ke mal, membeli novel di toko buku, atau menonton di bioskop. Semua kegiatan yang sangat ia sukai itu tak bisa dilakukan di kota kelahirannya. Belum ada mal di sana. “Aku lebih senang di sini, Charles.” Charles pun tak berdebat lebih jauh. Layla berbalik menghadap adiknya dan menyerahkan beberapa tas kertas. “Ini, ada bolu kemojo untuk Mama, dan bolu pisang untuk Papa, juga nasi lemak untuk bekal perjalanan kalian.” Arie menerima tas kertas berisi makanan dari sang kakak. “Cake keju kesukaanku tidak ada?” “Kakak tidak sempat bikin, Arie. Lain kali, ya.” Arie cemberut dan mengangguk lesu dengan dramatis. Layla menonjok pelan bahu adiknya dan tertawa. Arie pun ikut tertawa. Tak lama kemudian, Arie dan Charles berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Setelah mobil itu berlalu, Layla mengunci pintu pagar dan masuk ke dalam rumah. Ia melangkah ke sofa dan meraih ponsel dari atas meja. Tidak ada pesan dari Harvey. Layla menghela napas panjang. Ia duduk di sofa dan meraih sepotong bolu kemojo yang terhidang di atas meja. Seminggu sudah berlalu dari malam ia menolak rayuan sang kekasih untuk bercinta. Sejak itu, Layla belum lagi bertemu dengan Harvey, hanya sesekali mereka saling berkirim pesan. Memang selama ini pun mereka tidak setiap hari bertemu. Layla sangat mengerti. Harvey memiliki supermarket terbesar di Pekanbaru. Kekasihnya itu sangat sibuk. Apalagi, Harvey berencana membuka cabang supermarket. Saat ini gedungnya sedang dibangun. Akan tetapi, belum pernah mereka tidak berjumpa sampai sepekan. Layla mengunyah bolu kemojo dengan perasaan kosong. Rasa rindu menggelegak di dadanya. Ia sangat ingin bertemu Harvey. Namun, sang kekasih tak juga kunjung menampakkan muka. Haruskah ia yang mengunjunginya? Tidak. Tidak. Layla menggeleng. Ia tak boleh mengganggu kesibukan Harvey. Jadi Layla akan menunggu, meski rindu di dadanya amat menyesakkan. *** Tawa Arion Mahardika berderai. Harvey Almanzo melirik sebal sahabatnya itu. Keduanya sedang duduk santai di sofa empuk ruang kerja Arion, di hotel pria itu. Dua gelas kopi hitam panas dan cake lapis legit, terhidang di atas meja. Satu pekan sudah berlalu dari malam Layla menolak bercinta dengannya. Harvey yang uring-uringan akhirnya tak tahan untuk bercerita pada sang sahabat. Jadi, sore itu, setelah meninggalkan supermarketnya, Harvey mampir ke hotel Arion. Sebenarnya ini bukan kali pertama Harvey bercerita kalau ia belum berhasil meniduri Layla. Selama ini, baginya meniduri Layla adalah tantangan. Ia sangat bersemangat dengan misinya itu. Akan tetapi, setelah enam bulan berjalan, dan ia masih saja jalan di tempat, yakni hanya sebatas ciuman dan sedikit cumbuan, bukankah bisa dikatakan ia gagal? Ia harus angkat topi pada Layla Shevalonica, bukan? Harus diakui, kekasihnya itu luar biasa tangguh memegang prinsipnya. Kurang apa kelihaian Harvey dalam berciuman dan merayu? Namun ternyata tak mampu menaklukkan Layla Shevalonica. “Aku datang ke sini bukan untuk ditertawakan,” dengkus Harvey kesal. Alih-alih berhenti, tawa Arion kian meledak. Harvey pasrah. Akhirnya ia diam dan membiarkan sang sahabat tertawa sepuasnya. “Kenapa kau tidak berpisah dengannya dan mengencani gadis lain saja?” “Aku tak bisa.” Harvey teringat pertemuan pertamanya dengan Layla. Saat itu pesta pernikahan kenalannya. Layla bukanlah gadis tercantik malam itu. Namun, untuk kali pertama sampai di usianya yang ke-32, Harvey tak mampu mengalihkan pandangan dari seorang wanita. Layla Shevalonica mengenakan gaun berwarna perak tanpa lengan dengan belahan leher berbentuk V, dipadu dengan tas dan sepatu hak tinggi berwarna senada. Penampilannya sederhana, tapi tampak anggun memukau. Ketika Harvey melihatnya untuk kali pertama dalam keramaian pesta, Layla sedang mengobrol dengan seorang gadis lain. Lesung pipinya muncul ketika ia tersenyum dan tertawa. Harvey bukanlah satu-satunya pria yang terpesona. Tampak pria lain juga menatap gadis itu lekat-lekat. Harvey merasa sangat beruntung mendapatkan gadis itu sebagai kekasih. Sayang, keberuntungan itu tidak diikuti dengan hadiah kenikmatan. “Kenapa?” Arion mengangkat alis. “Apa kau bisa mengencani gadis lain setelah bersama Flora? Aku tak melihat kau berkencan dengan satu wanita pun, kecuali untuk membuat Flora cemburu.” Arion kembali tertawa. “Itu berbeda, oke? Ternyata aku mencintainya. Apa kau mencintai Layla?” Harvey menyeringai samar. “Tentu saja tidak!” “Kau yakin?” Harvey mengangguk mantap. Ia ingat bagaimana dulu Arion dengan penuh percaya diri mengatakan tidak mencintai Flora, tapi berakhir bertekuk lutut di kaki wanita itu. Harvey yakin seyakin-yakinnya dirinya tak akan berakhir seperti sang sahabat. Cinta hanya perasaan naif yang akan memperbudak. “Kalau begitu, tentunya kau tak perlu melanjutkan sebuah hubungan yang sia-sia. Sebagai pria normal, kita butuh seks, Kawan. Enam bulan selibat, bukankah menyakitkan?” Arion memanas-manasi. Harvey terdiam. Sahabatnya itu benar. Berbulan-bulan selibat rasanya menyakitkan. Seks adalah kebutuhan. “Atau kau bisa diam-diam mengencani gadis lain.” “Dan mengambil risiko ketahuan dan ditinggalkan Layla?” Arion tertawa. “Kalau begitu, satu-satunya solusi, kau harus menikahinya.” Harvey melirik sang sahabat dengan sorot tak percaya. Menikah demi seks semata? Yang benar saja! *** Love, Evathink Instagram: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD