"Apa salahku sampai-sampai mereka sangat membenciku, Mas?" Niskala mencengkram erat kemeja Bhumi. Tangisnya begitu menyedihkan, bahkan Bhumi merasa kasihan melihatnya. Bhumi tak mengatakan apapun. Ia hanya diam sembari terus mengusap lembut punggung Niskala. Ia tidak tega melihat Niskala yang tampak begitu hancur dan menyedihkan seperti saat ini. "Aku juga korban di sini, Mas. Apa mereka pikir aku bahagia dijodohkan seperti ini?" Niskala berujar dengan nada suaranya yang lirih dan lemah. "Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik di rumah ini, Mas. Tapi usahaku semuanya sia-sia. Mereka tetap membenciku. Aku ... aku—" Ucapan Niskala terputus. Isak tangisnya semakin terdengar memenuhi kamar. Bhumi menghela napas panjang. Ia tahu, beberapa hari terakhir ini Niskala selalu mencoba memperla

