12-Usulan Makan Bareng

1120 Words
Ezra berjalan dengan santai, jiwa feminimnya sangat kelihatan apa lagi aura keramahannya, terlihat dari senyumnya yang terlukis dengan jelas. Karyawan dan karyawati yang berpapasan dengannya tentu saja menyapa dengan sopan dan juga pujian bisa didengar oleh telinga Ezra. Orang-orang sangat menganggumi Ezra yang baik hati dan ramah, sudahlah cantik dan juga pintar. Hampir seluruh karyawan dan karyawati mengetahui kesuksesan yang sudah diraih oleh Ezra. Memiliki keahlian di bidang fashion, butik Ezra juga sangat dikenal orang-orang. Ditambah lagi baru-baru ini mereka mengetahui kalau Ezra juga pandai berpose di depan kamera. "Selamat siang, epribadehhh," sapa Ezra semangat kala sudah sampai di tempat ia dulu menggosip. Semua orang langsung berdiri saat mendengar sapaan dari adik bos mereka. "Siang, Buk," jawab mereka sambil menundukkan kepala tanda memberi hormat. "Bagaimana kabar kalian semua?" tanya Ezra tersenyum amat manis. "Baik, Buk," jawab mereka. "Ibuk bagaimana?" tanya salah satu karyawan berkaca mata tentunya Ezra tidak tahu namanya. "Seperti yang kalian dengar," jawab Ezra yang menyakini kalau mereka tahu tentang kabarnya yang jatuh sakit. Semuanya mengangguk mengiyakan kalau mereka sudah tahu. Sangat mudah bagi mereka mengetahui perihal itu karena bos mereka akan memberitahu dan meminta untuk mendo'akan kesehatan adiknya. "Sekarang sudah baikan, Buk?" tanya karyawati yang berhijab. "Ya begitulah," jawab Ezra. "Enaknya ngapain ya?" tanya Ezra sambil terkekeh mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu. "Mau gosip lagi, tapi lagi gak ada tenaga," ucapnya lagi membuat seluruhnya terkekeh. "Ya udahlah kalian lanjut aja kerjanya, saya mau balik ke ruangan bos kalian," ujar Ezra yang diangguki semuanya. Ezra memutuskan untuk kembali ke ruangan abangnya karena mengingat masih jam kerja dan ia tak mau mengganggu terlalu lama. Sekarang ia cukup sudah sadar diri tentunya. Ya kali di umur segini masih pecicilan. Ezra kepikiran untuk membuat s**u coklat hangat, ia pun memilih untuk ke pantry terlebih dahulu. Berjalan dengan santai sambil melihat kiri kanan karena desain kantor yang sudah banyak berubah. Dulu Ezra pernah mengusul kepada ayahnya untuk merenovasi kantor agar lebih kekinian biar para karyawan dan karyawati semakin nyaman untuk berlama-lama di kantor. Dan ternyata usulannya diterima oleh ayahnya. Saat ini kantor sangat terasa nyaman dengan desain yang elegan. "Usulanku emang good," ujar Ezra. Ezra sudah sampai di pantry dan terkejut dengan suasananya yang begitu indah. "Ini pantry atau cafe coba," ujar Ezra terpukau. "Eh ibuk," sapa salah OB yang Ezra kenal. Ezra mengangguk untuk merespon. "Mau apa, Buk?" tanya OB itu lagi. "Mau buat sesuatu, pinjam bentar ya," ujar Ezra. "Ahhh ibuk," kekeh OB itu. "Kamu lanjut aja," ucap Ezra yang diangguki OB itu. Tak ada lama setelah itu OB itu berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Ezra pun mulai mencari-cari di mana letak s**u coklat berada. Terlalu banyak macam minuman di pantry dan itu membuat Ezra bangga memiliki abang seperti Aryan yang sangat memperhatikan segala hal termasuk kenyamanan pekerjanya saat bekerja yakni perihal minuman. "Nah, ini," ucap Ezra yang berhasil menemukan apa yang ia inginkan. Mengeluarkan s**u bubuk coklat lalu menyendok 3 sendok lalu dimasukan ke dalam gelas. Setelah itu ia lanjut mengisi gelas dengan air hangat. Tadinya, Ezra berniat untuk membuatkan abangnya minuman juga, tapi setelah dipikir-pikir tidak usah karena ia tidak tahu apa yang diinginkan oleh abangnya itu. Setelah semua beres, Ezra kembali ke ruangan abangnya. Ternyata di ruangan abangnya sudah ada seorang lelaki yang tak kalah gagahnya. Menoleh untuk beberapa saat dan menyapa dengan senyuman. "Duduk, dek," ujar Aryan agar adiknya langsung duduk di sofa. Ezra pun mengangguk. Ezra pun duduk di sofa sambil menyeruput s**u coklat panas buatannya. Sebenarnya lebih nikmat kopi cuma ia sedang tidak ingin minum kopi. Ezra memang tidak peduli dengan apa yang dibahas abangnya serta pria itu karena itu bukan urusannya. Dan untuk menguping pun ia tak b*******h karena malas untuk mendengarkan pembahasan yang seputar urusan kantor. Ezra dulu disuruh oleh ayahnya untuk menghandle cabang kantor lainnya. Namun, ia menolak karena bukan bidangnya apa lagi harus memimpin di kantor tentu ia semakin tidak mau. Setelah itu, Ezra memberitahu apa yang ia inginkan. Dan jadilah sekarang, ia sebagai seorang desainer dan sudah memiliki butik. Itu semua juga ada campur tangan keluarganya karena ia tidak akan bisa berdiri sendiri. Tak lama pria itu berpamitan kepada Aryan dan itu diketahui oleh Ezra karena ia melihat abang serta pria itu berdiri. "Siapa, Bang?" tanya Ezra yang sedikit penasaran. Walau Ezra tidak mendengar semuanya karena memang malas, tapi gelak tawa pria itu serta abangnya bisa ia dengar. Ezra berpendapat bahwa pria itu akrab juga dengan abangnya. "Kolega abang, tapi akrab juga," jawab Aryan menghampiri adiknya yang sedang duduk di sofa. "Ouhhh," ujar Ezra. "Lah, dah habis," ucap Aryan yang mendapatkan zonk dari gelas adiknya. Saat Aryan asik mengobrol dengan koleganya tadi, ia masih bisa melirik adiknya yang sesekali menyeruput minuman yang ia tidak ketahui apa minuman yang diminum adiknya. "Buat sendirilah," ujar Ezra sambil tertawa. "Dua nangka buah delima, ahh aku tidak terima," ujar Aryan berlagak merajuk. "Lebayyyy," ucap Ezra yang geli sudah e'nek dengan tingkah abangnya. Ada saja kelakuan abangnya yang membuat ia geli. "Minuman apa ini?" tanya Aryan yang penasaran. "s**u coklat gak dingin," jawab Ezra. "Pemborosan kata," ucap Aryan sambil mengacak rambut adiknya. Gemas dengan kelakuan adiknya yang ada-ada saja. Padahal tinggal bilang s**u coklat panas. "Biar kerenn," kekeh Ezra. Aryan pun beranjak lalu menelpon seseorang yang dipastikan Ezra kalau abangnya meminta dibuatkan minuman yang sama sepertinya tadi karena Ezra mendengar obrolan yang singkat itu. "Bang, seru kayaknya kalau makan siang bareng nih satu kantor," ujar Ezra mengusulkan unek-uneknya sambil mencoba membujuk abangnya. "Enggak ada," jawab Aryan tidak menerima usulan adiknya. Aryan menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang selalu saja ada yang diinginkan. Dan permintaan adiknya itu sangat sulit ia tolak. "Ya elah sesekali gitu lohh," ujar Ezra lagi masih mencoba merayu abangnya yang sudah frustasi. "Enggak ada pokoknya," ucap Aryan mempertegas jawabannya. "Emang kenapa gak boleh? Kan seru," ujar Ezra sambil membayangkan keseruan yang akan terasa. "Nanti juga semuanya jadi semakin akrab, Bang," sambungnya. "Bentar lagi jam makan siang, gimana caranya persiapin itu semua. Enggak pokoknya," ujar Aryan memberitahu kenyataan. Ezra pun melihat jam dan ternyata benar sudah hampir jam makan siang. Setelah ia pikir-pikir, benar juga perkataan abangnya. Tidak mungkin mempersiapkan acara makan bareng dalam waktu singkat. Kemungkin terbesar itu ya karyawan dan karyawati akan menunggu lama jadi kelaparan. "Ya udah, kita rencanakan aja ya besok," ucap Ezra memberi masukan lain. Aryan menoleh ke arah adiknya yang sangat antusias dengan apa yang diusulkannya tadi. Setelah menimbang-nimbang akhirnya, Aryan pun mengangguk setuju untuk usulan adiknya. Tak salah juga untuk makan bareng di kantor sebagai bentuk kekeluargaan. Ezra pun bersorak senang karena disetujui oleh abangnya. "Jadi kapan?" tanya Ezra karena ia ingin tahu kapan waktu itu tiba. "Kapan-kapan," jawab Aryan lalu kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Ezra mencoba mencerna jawaban abangnya barusan. "Abanggggg," rengek Ezra setelah sadar dan itu membuat Aryan tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD