Diizinkan pulang oleh dokter membuat Liana ingin melompat kegirangan. Meskipun di rumah sakit disediakan fasilitas terbaik karena Ares memilih bangsal VIP tetap saja tak senikmat di rumah sendiri, yang bebas melakukan apa saja tanpa terikat oleh infus. “Mereka kenapa kumpul di rumah kita?” tanya Liana pada suaminya. Matanya menyipit memperhatikan rumahnya dikerumuni oleh banyak warga yang membawa parcel di tangannya. “Mau dibilang demo gak mungkin karena mereka bawa bawaan. Mungkin mau jenguk kamu.” “Kamu benar.” “Sebaiknya kita turun.” Elang turun, lalu berputar untuk membuka pintu untuk istrinya. Tangan terulur yang disambut oleh Liana. Perlahan, dia memapah istrinya untuk masuk ke dalam rumah. “Ibu-ibu, Bu lurahnya harus istirahat. Saya bawa masuk dulu ya!” kata Elang dengan sopan

