22. Keluarga

1049 Words
"Hwawaaaa nggak mau, Arik nggak mau Papa pergi! Arik mau sama Papa," teriak Arik histeris dengan linangan air matanya. Ya, ketika menjelang sore, Julian yang sudah mulai membaik kesehatannya dan mengatakan akan pergi kepada Arik membuat bocah itu berteriak histeris. Julian sudah berjanji akan memberi Aina ruang dan juga waktu untuknya berpikir dengan tenang. Agar dia bisa menerimanya secara perlahan. Namun juga sudah berkata akan datang kapan saja dia mau dan Aina menyetujuinya. Banyak hal yang harus Julian selesaikan. Selain pekerjaan dan juga orang-orang yang menjadi belatung dalam kehidupan rumah tangganya tentu saja. "Papa janji akan datang tiap hari buat antar jemput Arik sekolah. Arik juga boleh ke tempat Papa kapanpun kamu mau," bujuk Julian. "Nggak mau, Papa bohong. Papa pasti akan pergi lagi. Arik nggak mau nggak punya Papa lagi!" masih dengan isakannya Arik merajuk sambil menghentakkan kakinya. Hati Aina sedikit tercubit mendengar perkataan putranya itu. Ternyata begitu dalam arti Papa bagi anak laki-lakinya itu, meski selama ini dia hanya diam. "No! Papa janji, kita akan selalu bersama. Papa, Mama & Arik tidak akan berpisah lagi." Julian melirik Aina setelah berkata demikian. Dia berharap Aina mau menerimanya saja agar mereka dapat segera bersama. Aina kemudian berjongkok ikut menyamakan tinggi badan dengan Arik seperti yang Julian lakukan sedari tadi. "Arik sudah nggak sayang lagi sama Mama?" Aina membuat wajahnya seolah merajuk dan menyedihkan. Arik memelankan suara tangisnya namun belum sepenuhnya mereda. "Maafin Mama ya sayang, Mama mungkin belum bisa buat Arik bahagia," lagi, Aina membuat wajah memelas walau sebenarnya apa yang dikatakannya sama seperti yang hatinya rasakan. Arik mendadak berhenti menangis dan menghapus air matanya cepat. "Alahh, drama banget nih bocil," cibir Maya yang tiba-tiba datang dari arah kamar. Ya baru setengah jam lalu dia pulang. Setelah Burhan mengantarnya dan menyuruh kembali bekerja besok di kantor baru mereka d pusat kota Sampit ini. Tangis Arik yang tadi hampir mereda kini kembali membahana. "Whaaaa ante jahaattt Pahhh!" suara tangis Arik melengking mengarahkan tunjuknya ke arah Maya. Julian melirik ke arah Maya yang seketika mingkem mendapat tatapan tajam dari bosnya itu. Sepertinya hanya Julian yang mampu melakukan itu pada Maya. Maya tampak sungkan dan hormat kepada bosnya itu. Dia kemudian kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. "Udah, ajak jalan dulu keliling-keliling. Lihat sapi naik motor kamu Aina. Atau nggak ajak ke taman kota sana gih," Bu Hana memberikan saran setelah diam saja melihat drama keluarga kecil itu sedari tadi. Dia hafal kalau Arik anak yang cukup keras kepala, kalau hanya dibujuk dengan kata-kata itu tidak akan berhasil. Jadi harus ada tindakan yang membuatnya senang untuk mengalihkan perhatiannya. "Ya udah, yuk sayang!" Aina menarik tangan Arik. Menghapus air matanya dan merapikan rambutnya. Juga menghapus bekas ingusnya dengan tisu. "Papa juga ikut..." pinta Arik memelas. Belum sempat Julian menyahut, Aina sudah memotongnya. "Motor kita kecil Arik, nggak muat, Papa kamu badannya gede gitu," Aina sedikit melotot ke arah Julian untuk memberi kode agar dia juga menolak. "Hmmm, setelah Papa lihat-lihat, cukup sih kalau Arik berdiri di depan," ucap Julian dengan smirknya dan tangan yang menyentuh dagu seolah berpikir di depan Arik. Aina ternganga mendengar ucapan Julian, dia jadi kesal sekarang. "Tapi Papa kamu nggak bisa naik motor. Masa Mama yang bonceng sih! Jadi Papa kamu tinggal aja ya Arik, lagian sebentar lagi supirnya Papa datang mau jemput." Aina dan Julian saling bicara dengan Arik padahal mereka sedang saling sindir. Ibu Hana hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat mereka. "Nggak apa-apa Mama, nanti Papa bisa belajar naik motor, seperti Arik belajar naik sepeda kemarin. Ehhmmm kita antar aja Papa ke rumahnya Ma, naik motor!" Arik berseru dengan antusias. Dia nampak bersemangat kala mengutarakan idenya. Dia sudah lupa tidak mengijinkan Papanya pergi beberapa menit lalu. "Thats my boy!" Julian tersenyum menang. Melihat kekompakan dari laki-laki besar dan kecil itu, akhirnya Aina luluh juga. Dia tidak berkata apa-apa tapi bergerak mengambil kunci motor di atas meja. Arik berlari semangat menaiki motor di susul Aina yang tidak mempedulikan Julian. "Sebentar!" Aina berbalik ke arah Julian dan mengangkat alisnya seakan bertanya 'apa lagi?' tanpa suara. Julian kemudian melepas jasnya dan mendekat ke Aina. "Kamu selalu lupa memakai jaket kalau naik motor, takut nanti kamu masuk angin. Lagi pula lekuk badan kamu tercetak karena angin," ucap Julian sembari memasangkan jasnya di tubuh Aina. 'Bluss' Rona merah itu muncul di pipi Aina, tapi buru-buru dia menguasai diri. "Nggak perlu, kamu aja." "Saya tidak menerima penolakan Aina." "Ayo maa, goo!!." ucap Arik tidak sabaran sambil mengepal tangannya ke depan seolah siap terbang. Mengalihkan perdebatan kedua orang tuanya. Tak ingin berlama-lama lagi Aina duduk di motornya dan memberi ruang untuk Julian duduk. Tanpa menunggu lama Julian juga langsung duduk di belakang Aina dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Aina. Aina menegang, dia berusaha melepas tangan Julian tapi pelukannya semakin erat. "No touch!" tegas Aina. Julian mendengus namun melonggarkan tangannya juga. Dia hanya memegang pinggiran baju Aina. Namun tetap tersenyum senang. Aina menjalankan motornya pelan. Terlihat aneh memang. Kaki panjang Julian yang tertekuk dan tubuhnya yang lebih besar dari dua penumpang di depan membuat mereka seperti anak tangga. Arik terlihat begitu girang dia tidak hentinya mengoceh sambil menunjuk-nunjuk sesuatu yang menarik perhatiannya. Mereka berjalan pelan menelusuri taman kota Sampit, melewati ikon kota itu, terakhir menyisi di tepi sungai Mentaya. Menghirup udara sejuk di sepanjang sungai. Entah mengapa hati Julian sangat bahagia. Hidupnya terasa lengkap. Kekosangan di hatinya tertutupi dengan penuh suka cita. Inilah keluarga kecilnya, rumahnya untuk kembali pulang. Dia tidak menginginkan apapun lagi. Tangannya tanpa terasa memeluk kembali pinggang Aina. Kepalanya disandarkan di bahu kecil istrinya. Menghirup aroma rose dari tubuh wanitanya. Mengecup kecil pundak Aina. "Julian!" peringat Aina sambil mengangkat sebelah bahunya risih. "Panggil saya mas, Aina," Julian masih menempel di tubuh Aina tidak menghiraukan sekitar yang melihat ke arah mereka. Aina menelan salivanya, melihat ke kiri dan kanan orang-orang yang terus memperhatikan mereka. Dia jadi tidak konsentrasi mengemudi. "Nanti kita bisa jatuh Julian," Aina sungguh merasa tidak nyaman. "Seperti dulu. Beri saya sedikit rasa hormat kamu dengan panggilan 'mas'. Karena sungguh saya masih suami kamu. Saya akan buktikan segera." Entah mengapa ucapan Julian itu sungguh merasuk di hati Aina. Hatinya tercubit namun juga ada rasa bahagia menyertai. "M mas, mas Julian, mundur sedikit," pinta Aina akhirnya walau agak canggung. Julian tersenyum menang. "Tidak, saya suka begini," ucap Julian sambil mengencangkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di bahu Aina. "Julian!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD