“Ah, kenapa aku merasa seperti seorang istri yang mengambilkan minum untuk suamiku,” batin Kaifa kegirangan sendiri saat mengambil gelas sampai wajahnya merona merah. “Ini, Tuan. Pelan-pelan saja makannya!”
Rizki langsung menyambar gelas yang Kaifa sodorkan lalu meneguk isinya seperti orang yang sedang sangat kehausan.
“Namanya Bella, Mah,” protes Rizki setelah semua makanan turun dari tenggorokannya.
“Maaf, Mamah lupa. Lagi pula kamu tidak pernah mengenalkan dia pada Mamah, jadi Mamah tidak terlalu ingat namanya," ucap Dewi tanpa memandang Rizki dan tetap sibuk menyantap sisa-sisa makanan yang ada di piringnya.
"Padahal baru semalam aku sebutkan namanya," protes Rizki yang berani hanya dalam hatinya.
Selama setahun menjalin hubungan dengan Bella, Rizki memang tidak pernah membawa kekasihnya ke rumah, apa lagi mengenalkannya pada Dewi. Kaifa dan pekerja lain di rumah ini juga tidak tahu bagaimana rupa kekasih Rizki.
“Nanti, Mah, setelah melamar aku pasti akan membawa Bella ke sini,” balas Rizki.
DEG!
"Apa aku tidak salah dengar?" batin Kaifa.
Jantung Kaifa serasa berhenti mendengar Rizki akan melamar kekasihnya. Dulu mendengar pujaannya memiliki kekasih saja ia sudah cukup kecewa meskipun itu haknya, sekarang ia harus merasakan kembali rasa kecewa itu tanpa bisa berbuat apa-apa dan semakin sadar diri bahwa pria yang ia kagumi sampai kapan pun hanya bisa ia kagumi saja.
Begitu selesai sarapan, Rizki langsung beranjak bangun lalu berpamitan pada Dewi dengan membungkukkan badan untuk memeluk sambil tersenyum ramah pada Kaifa.
Kaifa juga balas tersenyum sambil membungkuk hormat.
“Aku berangkat," ucap Rizki sambil berjalan.
“Hati-hati, Sayang” balas Dewi.
Kaifa terus menatap kepergian Rizki dengan senyum kekaguman meskipun hati sedang kecewa.
Setelah Rizki tidak terlihat lagi, pikiran Kaifa mulai mengatur strategi untuk menyampaikan tujuannya pagi ini. Ia kemudian menoleh menatap Dewi.
“Kita mau ke mana hari ini, Omah? Jalan-jalan ke taman atau kita di halaman belakang saja?” tawar Kaifa.
“Kita ke taman saja, Omah mau berjemur.”
“Baik, Omah.”
Kaifa beranjak dari kursi lalu memutar dan mendorong kursi roda Dewi ke luar rumah menuju taman di ujung kompleks perumahan ini, tempat di mana mereka pertama kali bertemu.
Selama perjalanan menuju taman, otak Kaifa terus berpikir merangkai kata-kata yang menuju pada pemalakan, tapi tetap sopan dan tidak terkesan memaksa.
Setibanya di taman, Dewi menyuruh Kaifa memijat kakinya yang justru Kaifa jadikan kesempatan untuk mulai memeras Dewi.
“Omah, mulai sekarang aku meminta upah tambahan untuk setiap pekerjaanku yang di luar kesepakatan kita, seperti memijat kaki, pergi ke warung untuk membeli minuman dan makanan saat jalan-jalan. Mengambil kaca mata saat Omah mau membaca. Mengambil barang yang tidak sengaja Omah jatuhkan, mengambil minum saat Omah haus, termasuk juga menemukan barang yang Omah lupakan. Aku minta lima persen dari gajiku untuk setiap pekerjaan tambahan itu. Mulai sekarang, menyisir dan menemani omah jalan-jalan lebih dari dua jam akan jadi pekerjaan tambahan untukku. Bagaimana, Omah, apa omah setuju?” usul Kaifa.
Bukannya marah atau protes, Dewi justru tersenyum mendengar permintaan Kaifa yang baru kali ini ia dengar. "Upah tambahan?"
"Iya, Omah."
"Kenapa tiba-tiba minta upah tambahan?"
Kaifa diam berpikir untuk mencari alasan yang masuk akal atas permintaannya, tapi otakknya serasa buntu hingga ia hanya bisa menjawab asal tanpa menimbang lagi. "Karena Kaifa ingin ada upah tambahan."
"Apa selama ini upah yang Omah berikan kurang?'
"Tidak, eee ... iya kurang." Kaifa bingun untuk menjawab pasti karena takut menyinggung perasaan Dewi, tapi jika tidak mengiyakan ia tidak punya alasan lain.
“Lalu bagaimana dengan jam kerjamu? Apa ada waktu tambahan?"
“Jam kerja Kaifa masih sama Omah. Kaifa akan datang sekitar jam enam pagi dan pulang jam empat sore. Tetapi mulai sekarang Omah bisa meminta Kaifa melewati jam kerja, bahkan sampai jam tujuh malam.”
“Kalau Omah memintamu bermalam, bisa? Nanti Omah tambah lima puluh persen dari gajimu."
“Kalau untuk itu tidak bisa, Omah, Ibu Kaifa tidak akan bisa tidur sendirian di rumah. Lagi pula terkadang kalau Kaifa bangun tidur, Kaifa sering meneruskan tidur Kaifa di pangkuan Ibu.”
“Sudah sebesar ini masih tidur di pangkuan ibu?” ledek Dewi sambil menahan senyum.
Kaifa hanya membalas dengan kekehan malu
**********
Saat ini Rizki sedang duduk di meja kerjanya dengan satu tangan menunjang kepala dan satunya lagi memegangi foto pujaan hatinya. Setelah mendengarkan Lina membacakan jadwal kegiatan untuk hari ini, bukannya langsung bekerja, ia malah sibuk memandangi foto Bella.
Tok... tok.. tok ....
Suara ketukan pintu, seketika membuyarkan lamunan Rizki hingga ia sedikit kesal memberi izin pada si pengetuk pintu.
“Masuk!” teriak Rizki. “Siapa pagi-pagi sudah datang ke ruanganku? Bukannya Lina baru saja keluar tadi?” gerutunya kesal.
Si pengetuk pintu langsung masuk setelah mendapatkan izin dari pemilik ruangan.
“Pagi, Pak,” sapa Edward—sahabat Rizki.
“Ada apa pagi-pagi ke ruanganku?!” jawab Rizki ketus.
“Ish, masih pagi sudah ketus. Ada apa denganmu?" Edward langsung duduk tanpa dipersilahkan berbarengan dengan Rizki menaruh foto Bella.
"Apa tidak bosan melihat foto itu terus?”
“Bukan urusanmu!”
Edward mengangkat kedua bahunya, mengabaikan jawaban ketus Rizki malah ingin mengejeknya. “Baru juga kemarin dia pergi, tapi kamu seperti sudah sepuluh tahun ditinggal dengan terus menatap fotonya."
“Ck, bukan itu masalahnya!” elak Rizki.
“Masalah? Apa kamu sedang ada masalah?” tanya Edward diiringi wajah heran karena ia merasa sedang tidak menyinggung masalah apa pun.
“Sedikit.”
“Apa?”
“Ibuku!”
Edwar semakin heran dengan jawaban Rizki, karena jika masalah ada pada ibunya, kenapa foto Bella yang terus dipandang.
“Memang ada apa dengan Omah?”
“Semalam, Ibu menanyakan kapan aku menikah. Lalu ketika aku mengatakan akan menikah lima bulan lagi, dia justru terlihat biasa saja, dan tadi pagi malah terlihat tidak terlalu senang. Bahkan, menyebut Bella dengan sebutan yang kurang mengenakkan.”
"Sebutan apa?"
"Wanita itu."
“Kenapa Omah bisa menyebut Bella wanita itu?"
“Entahlah. Mungkin karena aku tidak pernah mengenalkan padanya.”
“Ah, iya. Karena kamu bahas masalah ini sekarang, jadi aku juga ingin bertanya padamu.” Edward berusaha mengeluarkan unek-uneknya tentang hubungan Rizki dan Bella selama ini.
“Tanya apa?”
“Apa kamu tidak merasa aneh, selama satu tahun kalian menjalin hubungan, Bella seperti ingin menyembunyikan status kalian. Dia tidak ingin orang tahu tentang kalian. Mulai dari tidak mau fotonya dipajang di akun sosial medianya. Tidak ingin diajak ke pesta bersama atau acara-acara penting lainnya. Tidak mau berkunjung ke rumahmu. Bahkan yang paling aneh, dia tidak ingin difoto bersamamu walaupun untuk koleksi pribadi. Apa menurutmu itu tidak mencurigakan?”
Rizki hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan Edward. “Dia memang tidak ingin ada yang tahu tentang hubungan kami. Dia ingin orang lain tahu ketika sudah menikah nanti. Itu sebabnya dia tidak pernah mau tampil di depan orang bersamaku.”
“Termasuk bertemu ibumu?”
“Kalau tentang ibuku, dia tidak mau karena khawatir jika akhirnya kami tidak jadi menikah karena pasti dia akan merasa malu jika suatu saat bertemu. Jadi, dia ingin bertemu ibuku saat aku melamar nanti di depan keluarganya.”
“Apa kamu tidak menaruh rasa curiga?” selidik Edward.
“Curiga? Untuk apa curiga? Aku tahu kegiatannya dua puluh empat jam. Dia tidak banyak teman di sini. Bahkan dia tidak memiliki teman pria di Indonesia. Satu-satunya pria yang pernah di temui hanya Rex—kakaknya.”
“Eee, apa kamu yakin itu kakaknya?" tanya Edward ragu-ragu karena takut Rizki marah.
"Tentu saja."
"Begini, aku pernah beberapa kali melihat Bella bersama dengan pria yang wajahnya tidak mirip sama sekali dengannya dan wajahnya juga bukan asli orang Indonesia yang aku yakini itu adalah Rex. Cara mereka berinteraksi tidak seperti adik—kakak bahkan seperti sepasang kekasih. Aku juga pernah melihat mereka masuk ke kamar hotel. Jika memang mereka adik—kakak, kenapa tidak tinggal di rumah saja? Kenapa harus tinggal di hotel?”
“Bella pernah mengatakan padaku jika hubungan Rex dan neneknya tidak begitu baik. Itu sebabnya, jika sedang ke Indonesia, dia lebih memilih tinggal di hotel. Bella juga pernah mengenalkan Rex padaku. Jika memang mereka memiliki hubungan kekasih, tentu Bella tidak akan mengenalkan padaku,” jelas Rizki berusaha membela gadis pujaannya hatinya.
“Ok. Baiklah, kita lupakan masalah Bella. Kita kembali ke topik awal. Menurutku, wajar jika Omah tidak terlalu senang mendengar kabar pernikahanmu, karena kamu tidak pernah mengenalkan Bella padanya lalu tiba-tiba kamu mengatakan AKAN menikahinya. Sebagai orang tua tunggal tentu Omah ingin tahu bagaimana bibit, bebet, bobot wanita yang akan menjadi menantunya mungkin itu sebabnya Omah bersikap biasa saja semalam,” ucap Edward, sengaja menekankan kata akan agar Rizki paham maksudnya.
Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan lalu Edward tidak menyukai Bella, semenjak ia memergoki Bella sedang berciuman dengan pria yang dia bilang sebagai kakaknya, sebelum mereka masuk ke hotel. Waktu itu Edward sedang makan di restoran yang ada di hotel, ia tidak sengaja melihat Bella bersama seorang pria yang membuatnya langsung mengikuti mereka secara diam-diam hingga masuk ke kamar hotel. Saat Edward mengatakan pada Rizki keesokan harinya, ternyata Rizki sudah mengetahui jika Bella sedang bersama pria di hotel, tapi sayangnya dia tidak mengetahui apa yang dilakukan Bella di hotel tersebut.
Sejak saat itu sebenarnya Edward berusaha memberi tahu Rizki dengan pertanyaan-pertanyaan atau cerita-cerita yang menyudutkan Bella. Ia kawatir jika memberitahu secara gamblang apa yang dilakukan Bella, akan menimbulkan pertengkaran diantara mereka dan takut juga Rizki akan patah hati. Namun, Rizki selalu membela dengan segala bantahan dan menolak berita buruk tentang Bella seperti hari ini. Entah sihir apa yang Bella gunakan sehingga Rizki seperti kerbau yang ditarik hidungnya yang selalu menuruti dan mempercayai perkataan Bella.
“Itu sebabnya aku sedang bingung memikirkan itu. Jika Bella masih ada di Indonesia, tentu aku akan memaksa dia untuk bertemu ibuku, tapi sekarang Bella sedang tidak ada di sini dan ibuku baru membahas lagi masalah pernikahan semalam.”
Edward tidak bisa menjawab apa-apa lagi dan hanya menganggukkan kepala tanda memahami kebingungan Rizki.
Keduanya saling diam beberapa sampai Rizki kembali bertanya ketika ia baru penasaran dengan tujuan Edward ke ruangannya, “Ada keperluan apa kamu datang ke ruanganku?”
“Ini awal bulan. Aku tidak terlalu banyak pekerjaan saat ini. Jadi, untuk menghilangkan bosan, aku ke ruanganmu, tapi sepertinya kamu sedang tidak dalam mood yang baik.”
“Ya, begitulah,” jawab Rizki, simpel.
“Apa nanti malam kita bisa mencari hiburan?”
“Tidak. Aku ingin pulang cepat malam ini karena aku ingin mempunyai banyak waktu dengan ibuku Minggu ini," tolak Rizki langsung karena paham hiburan yang Edward maksud.
“Ayolah, kenapa tiba-tiba kamu menjadi anak mami? Bukankah kamu suka melakukannya. Mungkin sedikit Vodka atau Wine bisa memberi sedikit pencerahan pada pikiranmu,” bujuk Edward.
“Tidak. Semalam ibuku menungguku pulang sampai larut malam hanya untuk makan malam bersama. Dan ini awal bulan, aku juga sama sepertimu, tidak terlalu banyak pekerjaan, jadi aku ingin manfaatkan waktu bersama ibuku.”
“Ck, payah sekali," remeh Edward "Kamu ini CEO sekaligus pemilik kantor ini, kenapa masih saja tinggal bersama ibumu bukan di apartemen agar kamu bisa bebas?”
“Aku tidak mungkin meninggalkan ibuku sendirian. Setelah Kak Luna menikah dan Papahku meninggal, dia hanya memiliki aku sekarang.” Rizki mulai jengkel dengan bujukan Edward.
Edward hanya bisa pasrah dan menyerah dengan segala penolakan Rizki.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Kaifa sudah bersiap-siap untuk pulang dan sekarang ia sedang berada di kamar Iyam, menghitung upahnya hari ini.
Sebenarnya upah Kaifa biasanya diberikan per bulan atau paling cepat dua minggu sekali, tapi hari ini selain Kaifa meminta bayaran di setiap kerjanya pada Dewi, Kaifa juga meminta agar upahnya dibayarkan setiap hari.
“Wah, banyak sekali uangku hari ini. Setara dengan gajiku selama seminggu. Bahkan Omah memberiku uang saat menggunting kukunya tadi, padahal menggunting kuku tidak termasuk daftar kerja yang aku sebutkan tadi pagi,” ucap Kaifa, senang setelah selesai menghitung uang yang ia dapat hari ini. “Jika seperti ini terus aku bisa membayar satu bulan cicilan hanya dalam waktu satu Minggu.”
Setelah itu Kaifa segera ke luar kamar untuk pamit pada Dewi. Hal yang biasa ia lakukan ketika akan pulang.
Saat Kaifa datang menghampiri Dewi, majikannya itu sedang bersantai di ruang tamu bersama Iyam.
“Mbok, Omah, Kaifa pulang dulu!” pamit Kaifa.
Iyam dan Dewi yang sedang menonton televisi menengok secara bersamaan ke sumber suara.
Kaifa langsung berdiri di depan Dewi dan membungkukkan badan untuk mencium tangan Iyam dan Dewi.
“Hati-hati, Sayang!” ucap Dewi
“Iya, hati-hati, ya!” ucap Iyam.
“Siap, wanita-wanita cantik,” gurau Kaifa yang membuat Iyam dan Dewi tertawa.
Setelah itu Kaifa berjalan ke luar rumah menuju pagar yang jaraknya kurang lebih sepuluh meter dari pintu utama rumah.
Baru saja Kaifa keluar dari pagar, tiba-tiba mobil BMW berwarna hitam berhenti di depannya hingga ia langsung membungkuk di jendela bagian depan untuk melihat siapa pengemudi BMW tersebut.
“Sore, Tuan,” sapa Kaifa.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rizki.
“Saya mau pulang, Tuan.”
“Masuklah!” perintah Rizki.
“Tapi, Tuan. Bukankah Tuan ingin pulang?” tanya Kaifa.
“Ini masih terlalu sore. Aku bingung harus apa di rumah. Aku juga sedang tidak banyak pekerjaan. Cepat masuk!” perintah Rizki lagi.
“Baik, Tuan.” Kaifa langsung membuka pintu di bagian penumpang, tetapi baru saja mengangkat kaki kanannya untuk masuk ke mobil, ia kembali mendengar suara Rizki.
“Kalau kamu duduk di situ, aku seperti sopirmu. Duduklah di sini.” Rizki menunjukkan kursi di samping pengemudi dengan dagunya.
Kaifa langsung menutup pintu mobil bagian belakang lalu menuruti perintah Rizki.
“Kalau kamu duduk di sini, kita seperti sepasang kekasih,” ucap Rizki santai sambil tersenyum. Namun, berhasil membuat jantung Kaifa berdetak lebih kencang karena merasa sedang dirayu.
Ini salah satu sifat yang membuat Kaifa kagum akan sosok Rizki. Selama dua tahun bekerja pada Dewi, Kaifa tidak pernah melihat Rizki menujukan sikap bosnya. Bahkan, Iyam yang sudah bekerja selama sepuluh tahun, hanya beberapa kali melihat Rizki marah, itu pun saat ada masalah pribadi. Rizki juga sering membawa makanan yang ia beli di luar. Tidak hanya untuk ibunya saja, tapi juga untuk para ART di rumah. Bahkan, Didin yang berjaga di pos dekat pagar juga dapat jatah makanan. Kaifa juga tidak pernah melihat Rizki bersitegang dengan ibunya, bisa dibilang dia anak yang penurut. Kalaupun ada selisih paham, Rizki akan menyampaikan dengan selembut mungkin. Benar-benar pria limited edition menurut Kaifa.
Ini adalah pertama kalinya Rizki mengantarkan Kaifa pulang, tentunya mereka masih irit bicara karena masing-masing masih merasa canggung. Keduanya juga sama-sama fokus pada jalan dan tidak ada bergerak kecuali kedua tangan Rizki yang memegang setir dan persneling.
“Kita mau ke mana, Tuan?” tanya Kaifa setelah menyadari ini bukan ke arah rumahnya.