“Aku akan mendukungmu jika wanita itu bukan Tunih.” Akhirnya Edward hanya bisa menghela nafas pasrah saat motor yang membonceng wanita incarannya semakin jauh dari jangkauan mata. “Rizki, kamu sahabat terburuk karena sudah mematahkan hatiku sebelum aku berjuang,” ucap Edward, lesu. Rizki menepuk-nepuk bahu Edward. “Aku akan membantu dan mendukungmu mencari wanita yang lebih cantik darinya, ok!” Edward hanya membalas dengan lirikan lesu untuk menunjukkan kekecewaannya pada Rizki. “Tunih ada di Jakarta dan Rizki terlihat biasa saja saat melihat mantan ART-nya itu. Apa mungkin Rizki berbohong tentang tempat tinggal Tunih? Atau memang Rizki sengaja menjauhkan Tunih dariku agar aku tidak bisa dekat dengannya?” pikir Edward. Setelah itu tidak ada perbincangan apa pun antara mereka hingga t

