Di balik wajah cerianya, Arletta menyimpan kesedihan yang mendalam. Tepat di hari ini enam tahun sudah kepergian orang yang ia cintai karena kecelakaan. Tak pernah ia tunjukkan perasaan tersebut kepada keluarganya, semua dipendam sendiri.
"Let, ayo kita pergi dari sini. Sebentar lagi akan hujan," ajak Seruni sembari menggenggam jemari kembarannya.
"Aku masih ingin di sini, Run. Aku merindukan Sadhana."
Seruni tahu kesedihan yang dirasa Arletta, karena ia juga mengalami hal serupa. Mobil yang ditumpangi Sadhana dan Brian mengalami kecelakaan tragis di jalan bebas hambatan saat mereka sudah pulang dari kencan double.
"Apa kamu tidak merindukan Brian, Run?"
"Tentu saja, Let. Tapi aku tak bisa selamanya berkutat dalam kenangan. Aku akan menyimpannya di sini saja tanpa seorangpun tahu," ujar Seruni menunjuk ke jantungnya.
"Kamu masih beruntung Wasa yang selalu ada untukmu."
Seruni tak mau mengingatkan peristiwa kelam yang menimpa kembarannya setelah kematian Sadhana sehingga ia mengajak Arletta untuk pulang.
"Dan, besok aku akan menikah. Doakan aku di sana, ya."
Untuk terakhir kalinya, Arletta mengusap pusara Sadhana dan kembali menangis. Besok ia akan menjadi milik orang lain, pria yang tak pernah ia cintai sama sekali.
"Aku taruh di sini, ya. Jaga aku selalu," ujar Arletta mengubur cincin pertunangannya.
Bram yang memang ada di sana sedari tadi, menghampiri mereka dan mengajak pulang sebab rintik hujan sudah turun. Seruni dibantu Wasa mendorong kursi rodanya dan Bram merangkul Arletta yang tidak kuat berjalan.
"Mas, apa tidak ada saksi kecelakaan itu?"
"Sampai saat ini tidak ada saksi apapun, Dek. Pihak polisi mengatakan itu kecelakaan murni."
"Tidak, Mas. Arletta tetap tidak percaya, Sadhana itu juara balap mobil. Mustahil rasanya jika itu kecelakaan murni," sangkal Arletta.
"Iya Mas tahu, Let. Masalahnya kita tidak punya cukup bukti."
"Karena itulah, Mas. Mas itu jaksa jadi seharusnya tahu dan carilah bukti!"
Arletta ditenangkan Seruni, ia menangis dan menelungkupkan wajahnya di bahu Seruni. Selama enam tahun, tak ada bukti yang bisa menjelaskan kecelakaan tersebut. Semua keluarga yakin jika bukan rem blong penyebab kematian mereka.
"Mas akan mencarinya, Let. Mas yakin ada pelaku yang lolos. Jadi tenanglah, ya. Jangan perlihatkan kesedihanmu di depan Eila," sahut Bram setibanya di kediaman mereka.
"Mas akan langsung ke kantor," lanjut Bram mengendarai mobilnya.
Eila menyambut kedatangan Arletta dengan berlari kecil, ia tertawa dan meminta gendong. Arletta menyakini jika anaknya ada sesuatu yang membuatnya senang.
"Ada apa, Eil?"
Wasa langsung menggendong tubuh gemuk Eila, tetapi gadis kecil itu malah memalingkan wajah saat sang paman ingin mencium keningnya.
"Yang boleh mencium Eila sekarang itu ayah bukannya paman," dengkusnya dengan memanyunkan bibir.
"Ah, masa sih?"
"Turunin Eila, Paman. Di sini ada ayah."
Langkah Arletta terhenti, ia mematung dan membisu. Untuk saat ini ia tak ingin bertemu pria itu dan berusaha menghindar. Namun, Janu sudah ada di depan pintu dengan tangan bersidekap menatapnya tajam.
"Ayo Sa. Kita masuk."
Seruni memberi anggukan kepala sebelum ia dan Wasa masuk, mereka tak ingin mengganggu Janu. Apalagi Seruni merasa takut jika melihat Janu yang dinilainya menakutkan.
"Ibu, ayah akan mengajak kita jalan-jalan."
"Gunakan pakaian yang bagus. Aku tak mau mengajak wanita dengan tampilan menyedihkan," bisiknya di telinga Arletta.
"Ayah berbisik apa?"
"Kamu banyak tanya ya? Persis ibumu sewaktu sekolah," ujar Janu membelai rambut Eila.
"Oh, ya? Ibu dulu itu seperti apa, Yah?"
Janu menatap datar tanpa senyuman ke arah Arletta yang masih berdiri di bawah tangga. Ia menjawab pertanyaan Eila, tetapi arah matanya tertuju kepada wanita yang dibencinya.
"Ibu kamu itu gadis yang pemberani dan suka mengganggu temannya."
"Mengganggu teman? Maksud ayah apa? Eila tidak paham."
"Nanti ibu jelaskan, ya. Sekarang Eila masuk dulu."
Arletta tak ingin Eila tahu masa lalunya, ia pun menyuruhnya masuk dan mengambil tasnya.
"Tenang saja. Aku tak akan membongkar rahasiamu termasuk dirimu yang sering merundung temanmu," tawa Janu dengan mengejeknya.
****
Arletta merasa tak nyaman menggunakan gaun yang menunjukkan tubuhnya, sebenarnya ia ingin menggunakan gaun yang diberikan Seruni. Namun, pria itu mengancamnya.

"Kata ayah kita mau ke taman bermain. Kenapa kita berada di sini?"
Eila mengira ia akan diajak ke taman bermain di pusat berbelanja. Nyatanya, Janu membawa mereka ke sebuah perayaan di gedung mewah.
"Di sana ada arena bermain. Eila bisa bermain bersama Pingkan dulu, ya."
Mata Eila langsung berbinar melihat arena yang ada di dalam gedung penuh dengan permainan anak-anak. Ia langsung mengajak Pingkan sang pengasuh untuk menemaninya.
"Tersenyumlah saat ada yang menyapamu nanti dan katakan kamu adalah istriku," kata Janu di telinga Arletta.
"Tapi kita belum menikah, Janu. Aku tidak bisa berbohong."
"Lakukan saja perintahku jika kamu ingin selamat," sahut Janu seraya menekan pinggang Arletta.
Arletta tidak tahu ia berada di pesta siapa dan tidak mengenal orang-orang yang di sana. Ia hanya mengikuti langkah Janu yang terus mengapit pinggangnya dengan posesif.
Di saat Janu berbicara dengan rekan kerjanya, Arletta merasa pusing. Ia tak sanggup melihat kilatan kamera yang menyilaukan di pesta penyambutan gedung baru yang selesai dibangun dan akan dijadikan rumah sakit terbesar.
"Bukankah ini pelukis terkenal itu, ya?"
Pria jangkung menyapa Arletta dengan kerlingan matanya yang nakal dan hendak menyentuh tangan Arletta untuk bersalaman, tetapi Janu segera menepisnya.
"Maaf, Tuan Alex. Ini istriku dan aku harap anda tidak sembarangan menyentuhnya."
"Sejak kapan anda menikah, Tuan Janu? Saya tidak tahu beritanya. Apalagi anda menikahi seorang pelukis kenamaan."
"Apa saya harus memberitahu semua hal pribadi saya ke publik?"
Alex menelan ludah akan jawaban yang diterima dan akhirnya ia menyingkir dari hadapan Janu, di mata rekan kerjanya, Janu bukan sembarangan orang yang bisa diajak kerjasama dan tidak mudah dikalahkan.
"Tetaplah di sini, jangan beranjak dari sisiku."
"Aku mau ke kamar kecil, Janu."
"Aku tak akan kabur," kata Arletta lagi saat melihat Janu tak mempercayainya.
Janu memanggil dua pengawalnya untuk mengikuti dan menunggui Arletta ke kamar mandi, karena tempat itu terletak di luar area pesta.

Arletta mengambil obat penenang dan langsung menelan beberapa butir tanpa air. Sejenak ia menghela napas dan merasa tenang, di area pesta tadi terasa sesak. Ia ingin segera pergi dari sini.
"Mungkin aku di sini dulu."
Arletta tidak tahu jika di luar sana dua pengawal di depan panik, karena Arletta sudah berada di sana hampir setengah jam lamanya.
"Tuan, kami tidak bisa masuk ke sana."
Janu yang berada di area pesta bergegas menuju ke toilet wanita saat salah satu pengawalnya memberitahu keadaan Arletta. Mereka tidak berani mendekat ataupun masuk ke sana.
"Bawa Eila ke mobil dulu. Aku akan menyusul," perintah Janu tegas.
Tak perlu waktu lama, Janu sudah berada di dalam toilet. Ia mencari dan membuka satu persatu pintu toilet dan menemukan Arletta tertunduk di atas closet dengan botol pil di tangan kanannya.
"Bangun wanita bodoh!"
Tentu saja Arletta tak dapat bangun, wanita itu sudah menelan lima butir obat penenang yang seharusnya hanya boleh diminum satu butir saja.
"Kalau ingin bunuh diri, jangan di sini!"
Janu tidak tahu jika selama enam tahun ada di saat tertentu Arletta meminum pil penenang tersebut seperti sekarang ini ketika ia melihat kerumunan orang atau ketika ia tidak bisa tidur.
"Bangun Arletta!"
Arletta tidak bangun, ia terbang ke alam mimpi bertemu Sadhana di sana. Janu segera membopong tubuh Arletta dan membawanya ke mobil.
=Bersambung=