Begitu kata-kata ejekan itu lolos dari mulut Lembayung, suasana di ruangan itu langsung terasa mencekam.
Mata Damian yang tadinya tenang dan sedikit geli, kini membelalak lebar. Ekspresinya yang soft spoken pun menghilang, digantikan oleh keterkejutan total dan sedikit amarah.
Hal itu membuat Lembayung sadar. "Astaga! Apa yang baru saja aku katakan?!" batinnya sambil memukul mulut sendiri. Wajah Lembayung saat ini pun merah, lebih merah dari warna lipstik yang gadis mungil itu kenakan. "Bisa-bisanya aku memaki bosku sendiri di hari pertamaku magang!"
“Aduh, M-maaf, Pak! Saya … saya tarik kata-kata saya. Maafkan saya! Saya benar-benar tidak bermaksud begitu!” Lembayung panik, dia membungkuk berulang kali, tidak berani mengangkat wajahnya.
Lembayung tidak menunggu jawaban Damian. Dengan jantung berdebar kencang yang nyaris meledak, dia membalikkan badan, membuka pintu dengan tergesa-gesa, dan kabur secepat kilat dari ruangan itu, meninggalkan sang direktur yang saat itu sedang membeku di tempat karena ucapan spontanitasnya yang impulsif.
Lembayung terus berlari menuju lift tanpa melihat ke belakang. Wajahnya masih terasa panas. "Siluman pemakan bambu? Astaga! Bisa-bisanya aku ngatain Pak Damian begitu. Besok aku pasti akan dipindahkan ke divisi lain," batinnya menjerit.
Sementara di dalam ruangannya, Damian masih berdiri di tempat yang sama. Ekspresinya kini berubah menjadi geli, bercampur dengan sedikit keheranan. Dia menggelengkan kepala, tawa kecil yang jarang sekali dia tunjukkan terlepas dari bibirnya. “Dia ... gadis mungil yang pemberani.”
Lembayung kini sudah kembali ke ruangannya setelah berhasil mencapai Divisi Arsip yang ada di lantai satu dan menyerahkan berkas kepada petugas di sana. Gadis mungil itu duduk di kursi, mencoba keras untuk membenamkan diri ke dalam tumpukan dokumen.
Dia menelepon para manajer yang tadi belum sempat dia hubungi dengan suara yang lebih kaku dari sebelumnya. Setiap kali teleponnya berdering, entah kenapa dia merasa sport jantung, takut jika itu adalah panggilan dari kepala HRD yang mengabarkan pemindahannya ke Divisi lain.
Waktu berjalan cepat bagi Lembayung hari ini. Rasa tegang dan lapar bercampur menjadi satu. Gadis itu menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Waktunya makan siang. Dia baru saja berniat mengeluarkan bekal makan siangnya, yaitu nasi goreng buatan sendiri, dari tas ketika tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
Sosok Damian muncul dari balik pintu itu. Dia tidak lagi memakai kemeja biru, melainkan sudah berganti memakai kaus polo warna hitam yang dipadukan dengan celana chino abu-abu, tampilan yang jauh lebih santai tapi tetap terlihat elegan.
Lembayung refleks berdiri tegak, kaku seperti tiang bendera. Dia masih sangat malu dan berharap lantai bisa menelannya hidup-hidup.
“Lembayung,” panggil Damian dengan suara tenang, seolah insiden ‘siluman’ beberapa saat lalu tidak pernah terjadi.
“I-iya, Pak!”
“Ayo, ikut aku makan siang.”
Mata Lembayung mengerjap, mencerna kalimat itu, dia menunjuk dirinya sendiri. “Eh… saya… saya makan siang sama Pak Damian?”
“Iya,” Damian mengangguk santai. Ia melangkah mendekat ke meja Lembayung, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menambah kesan cool pada dirinya. “Ayo, aku yang traktir. Anggap saja welcome lunch.”
Lembayung terperangah. Alih-alih dipindah di depan divisi lain, dia malah diajak makan siang oleh sang Direktur? Ini di luar skenario terburuk yang dia bayangkan. Perasaanya campur aduk, antara senang, takut, dan bingung menjadi satu.
“Baik, Pak!” jawab Lembayung, buru-buru dia merapikan meja dan menyambar tasnya.
Lembayung berjalan mengekor di belakang Damian menuju lift. Langkah kaki Damian yang panjang dan teratur membuat Lembayung harus mempercepat langkahnya, hampir seperti berlari kecil, untuk mengimbangi kecepatan Damian.
Ketika Damian sudah berada di lift dan berbalik, dia melihat Lembayung yang masih di luar lift dengan langkah terengah-engah, dengan sedikit sisa-sisa gerakan lari kecil di langkah terakhirnya.
Damian tersenyum, senyum kali ini terlihat santai. “Nggak usah lari-larian, Lembayung! Bahaya, nanti kamu bisa jatuh.”
Lembayung mendongak — lagi-lagi harus mendongak penuh — dan menghela napas pasrah. “Kalau saya nggak lari, ya saya bisa ketinggalan jauh sama Bapak."
"Maksudnya?" Kening Damian berkerut.
Bapak kan badannya tinggi banget, jadi langkah Bapak itu panjang. Sementara langkah saya pendek karena tubuh saya mungil.”
Damian mengangguk-angguk kecil, matanya memancarkan sedikit hiburan. “Owh, iya,” balasnya ada nada menggoda yang jelas dalam suaranya. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Lembayung, membuat tubuh gadis mungil itu menegang. “Maafkan siluman pemakan bambu ini, ya, Lembayung.”
Deg!
Lembayung merasa pipinya kembali panas. “Pak ....” Dia menghela napas panjang dan memutuskan untuk memberanikan diri menghadapi masalah ini. “Tolong maafin dan lupain perkataanku tadi ya, Pak! Itu beneran saya cuma refleks. Habisnya saya suka kesel kalau diejekin bocah. Padahal kan saya sudah dewasa, meski tubuh saya mungil.”
Mata Damian meneliti Lembayung dari atas kepala hingga ujung kaki. “Padahal nggak ngejekin kamu bocah, loh.”
“Tapi saya denger sendiri tadi kalau Bapak bilang saya ‘kayak bocah SD’ dan ‘lucu’,” balas Lembayung, nadanya sedikit merajuk.
“Itu kan aku bicara sendiri, itu gumaman,” bela Damian, masih dengan senyum tipis di wajahnya. “Memangnya berapa umurmu kok udah ngaku-ngaku kalau kamu dewasa?”
“20 tahun, Pak,” jawab Lembayung bangga, merasa usia 20 tahun sudah cukup matang.
Damian mengangkat alisnya yang tebal. “Owh … masih kecil itu.”
Lembayung cemberut. “Bapak sendiri umurnya berapa?” tanyanya, lalu sedetik kemudian dia menyesal telah mengeluarkan pertanyaan itu dan refleks membatin, "Astaga, kenapa aku malah tanya umur bos? Tidak sopan!"
Damian justru tertawa — tawa yang renyah. “Umurku sudah 35 tahun.”
“Astaga!” Lembayung berseru kaget. Dia tidak bisa menahan keterkejutannya, karena pria tampan di depannya itu terlihat seperti baru menginjak awal tiga puluhan.
“Kenapa?” tanya Damian, wajahnya kembali tenang. "Kok kamu kayak nggak percaya gitu?"
“Bapak ngaku umurnya 25 tahun saja saya percaya loh,” puji Lembayung tanpa sadar. “Bapak terlihat awet muda sekali!”
"Wah, makasih loh." Damian tersenyum simpul, puas dengan pujian itu. “Kalau kamu ngaku umur 15 tahun juga saya percaya.”
“Pak!” protes Lembayung, dia memajukan bibir, ekspresi yang benar-benar kekanak-kanakan.
“Ya, Lembayung,” jawab Damian santai, pandangannya mengunci pandangan Lembayung, penuh canda.
Lembayung baru saja membuka mulutnya, ingin membalas ejekan Damian dengan sindiran tajam lainnya, ketika denting lift berbunyi.
Pintu lift terbuka.
Mereka sudah sampai di lantai dasar, lobi yang ramai.
Seketika, suasana di antara keduanya kembali berubah formal.
Damian mengalihkan pandangan, berjalan keluar lift lebih dahulu dengan langkah tenang dan berwibawa. Lembayung yang masih diliputi rasa kesal dan malu, buru-buru mengekor di belakangnya, berusaha keras mengimbangi langkah kaki panjangnya sang Direktur.
"Dasar Pak Damian nyebelin! Apanya yang soft spoken! Ternyata dia tukang ngejek!" Lembayung menggerutu dalam hati.
Tetapi anehnya, perasaan marahnya tidak bertahan lama. Ada percikan aneh dari interaksi singkat itu, yang membuatnya merasa lebih berani dan lebih dekat dengan atasannya.
Mereka berjalan ke arah parkiran VIP, tempat mobil-mobil mewah berjejer rapi. Kemudian, Damian berhenti di depan sebuah mobil sport mewah berwarna hitam metalik, yang terlihat sangat pas dengan citra dirinya.
Pria itu menekan tombol pada kunci mobil, dan terdengar bunyi klik saat kunci terbuka. Namun, alih-alih langsung masuk ke sisi pengemudi, Damian justru berjalan memutari kap mobil dan berdiri di depan pintu penumpang.
Lembayung yang melihat adegan itu sedikit terkejut karena Damian membukakan pintu mobil untuknya, gerak tubuh pria itu tampak sangat sopan dan gentleman.
“Ayo masuk, Lembayung!” perintahnya, mengarahkan pandangan ke kursi penumpang.
Lembayung merasa takjub. Tak menyangka akan mendapatkan perlakuan semanis dari Damian. “Terima kasih, Pak.” Gadis itu segera masuk, mencoba bersikap wajar seolah menaiki mobil mewah milik seorang Direktur adalah rutinitas sehari-hari.
"Sama-sama." Damian menutup pintu, lalu berjalan kembali ke kursi pengemudi.
Selama perjalanan singkat menuju restoran, suasana di dalam mobil terasa tenang, hanya ditemani alunan musik jazz lembut. Lembayung bahkan sempat mencuri pandang ke wajah tampan Damian yang kini tampak serius saat fokus mengemudi. Jari-jarinya yang panjang mencengkeram kemudi, menciptakan kesan maskulin yang kuat.
Beberapa menit kemudian, mobil Damian berhenti di depan sebuah restoran Italia berkonsep fine dining yang tampak eksklusif dan mahal. Lembayung menelan ludah. Dia yakin nasi goreng bekalnya tadi tidak akan pernah sebanding dengan makanan di sini.
Damian mematikan mesin mobil. "Kita sudah sampai. Ayo turun!" perintahnya sebelum turun dan kembali membukakan pintu untuk Lembayung.
"Terimakasih, Pak." Lembayung turun dari mobil, dia segera berdiri di samping Damian.
Begitu mereka melangkah masuk melewati pintu kaca restoran, suasana yang hangat dan ramai dengan suara denting sendok dan obrolan kelas atas menyambut mereka. Namun suasana itu tak bertahan lama karena mata Lembayung menangkap sosok yang dikenalnya di salah satu sudut restoran. Seketika, gadis itu merasa jantungnya mencelos.
Bahkan, Lembayung refleks menyembunyikan tubuh mungilnya sepenuhnya di balik punggung kokoh Damian. "Sialan!"
Damian refleks menahan langkahnya, lalu menoleh ke belakang. “Eh ... kenapa, Lembayung?” tanyanya, bingung dengan tingkah aneh intern mungilnya itu.
Lembayung belum sempat menjawab, tetapi tiba-tiba terdengar sebuah suara pria yang sedikit keras memanggil namanya. “Lembayung!”
Disusul suara langkah kaki cepat terdengar mendekat.
Lembayung semakin panik. Dari persembunyiannya di belakang tubuh tinggi Damian, Lembayung berpindah posisi dengan cepat. Kedua tangannya memeluk erat lengan tangan Damian. Dia bahkan menyandarkan pipinya ke bisep Damian yang terasa keras.
Sambil memejamkan mata, dia berbisik sangat pelan, nada suaranya terdengar mendesak dan penuh kepanikan. “Pak, maaf. Tapi tolong pura-pura jadi pacar saya, ya!”