Part 166

1247 Words

Semua orang menatap mereka dengan kaget, terutama Imran. Dia sangat takut sehingga wajahnya pucat pasi. Dia tidak berani menatap wajah Tuan Ammar. Ini adalah pertama kalinya dia ditampar di muka umum. Bisa dibayangkan betapa marahnya Tuan Ammar. Benar saja, Tengku Ammar menatap Ratih dengan wajah dingin dan tidak mengatakan apa-apa. Namun tatapannya sangat dingin, seolah ingin membekukan Ratih. Udara di sekitar mereka tampak membeku. Kedua orang itu saling berhadapan seperti ini, dan tidak ada yang mau mengaku kalah. Baru setelah Namira, yang berada dalam pelukan Lina, terbangun dan menangis keras. Baru saat itulah suasana aneh itu pecah. Rifki adalah orang yang cukup tenang. "Tuan Ammar, Ratih terlalu cemas, jadi dia kehilangan akal sehatnya. Jangan merendahkan dirimu seperti dia. K

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD