Eryna "Teteh kenapa menangis?" Lestari bertanya pada perempuan yang duduk di sebelahnya. Aku menoleh ke belakang, pandanganku teralihkan dari berkas penting yang ada di dalam map. Perempuan itu pun tak sekalipun menoleh. Dia tidak bisa melihat. Aku menatap lurus ke depan, ke perempuan yang membawa motor itu, dia yang menunjukkan jalan pulangnya. Aku tidak tahu siapa mereka. Wajahnya sangat asing sekali dan aku belum pernah melihatnya. Dari wajah-wajahnya mereka bukanlah orang pedesaan tapi orang yang berasal dari perkotaan. "Teteh teh sedih, ya?" "Sayang..." Lestari mengalihkan tatapannya, "sssttt!" Aku mendesis, satu telunjuk kutempelkan di bibirku. "Bu... Ini laporan keuangannya, sudah saya revisi," kata sekretarisku sembari memberikan laporannya kepada aku. "Oh, coba saya lihat dulu

