BAB - 13

4035 Words
Eryna Kami datang ke bandara di sore hari untuk mengantarkan suamiku, Ammar pergi ke New York. Sebenarnya berat rasanya merelakan kepergiannya namun memang inilah jalan yang harus kami lalui, setelah mimpi-mimpi kita telah usai, aku yakin kita bisa bersama lagi. Tanpa jarak yang menghalangi.            Ammar memelukku erat seolah tidak ingin melepaskanku. Tak ingin membiarkanku berdiri tanpa pegangan. "Yakin gak mau ikut?" Ia bertanya, berbisik di telingaku. Aku diam. Tidak tega bila harus mengatakan tidak, aku tidak mau mengecewakannya hanya karena satu patah kata. Jujur aku ingin ikut, ingin menemaninya di sana. Aku tidak mau membiarkannya tinggal seorang diri.            "Nanti, yaa.. nanti pasti kita bisa tinggal bersama lagi."            "Bukan itu jawaban yang mau aku dengar, Ryn."            Aku memberikan tatapan manja, memohon untuk tidak dilanjutkan. "Aku gak mau debat di sini."            "Iya atau gak?" Dahi kami saling menempel lalu lama sekali ia mencium dahiku. Akhirnya aku menjawab. "Mau... Mau ikut." Senyumnya terbit. Matanya jauh bersinar, memancarkan rasa bahagia.            "Kita suami istri, gak perlu ada yang harus ditutupi. Jawab aja dari tadi iya,"            "Aku bingung."            "Aku tau kamu mau bohong dengan jawab gak, ya, 'kan?"            "Kamu ini udah kayak paling tau isi hati aku aja."            "Emang iya, 'kan? Hati kita, 'kan udah saling terikat."            "Cinta... Aku cinta kamu."            "Aku juga sayang. Jangan nakal gak ada aku."            "Kok jadi aku? Kamu itu. Di sana pasti perempuannya cantik-cantik, puas kamu liat bule-bule sexy, iya, 'kan?"            "Mulai cemburu. Disuruh ikut gak mau, yaudah jangan salahin aku kalo cuci matanya liat bule-bule cantik."            "IHHHH! NYEBELIN BANGET, SIH, KAMU!" Aku cubit perut dia sampai meringis kesakitan. Hati aku langsung sakit kalau dibuat cemburu kayak gitu. Dia tau obat paling ampuh supaya aku tidak menangis.            Ciuman. Dia memperdalam ciuman kami. Bibir kami saling terpaut, enggan melepaskan. Keengganan untuk saling melepaskan semakin besar. Menjalani hubungan jarak jauh itu sangatlah berat dan melelahkan. Ini sudah menjadi risiko dari pilihanku. Tapi, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk dia. Aku akan terus berusaha mempertahankan bahtera rumah tangga ini.            "Ekhem! Dunia rasa milik berdua aja, nih, yang lainnya nebeng kayaknya." Lestari menceletuk tetiba. Kami baru saja sadar kalau ternyata Kartika dan Lestari sedang menunggu giliran untuk dipeluk ayahnya.            "Sini anak ayah, putri-putri ayah harus janji jaga bunda kalian, ya. Jangan nakal-nakal."            "Siappp ayah!" seru mereka. "Ayah tenang aja, bunda pasti bakal kita jaga kok. Ayah baik-baik ya di sana." Ammar mencium mereka satu per satu. Perpisahan ini akhirnya berujung membisu. Tak ada kata untuk diucapkan selain membiarkan berjalannya waktu. Sampai nanti kita kan bertemu. Untuk kembali bersatu tanpa harus bertanya-tanya lagi kapan berakhirnya rasa rindu.            Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu, saat pemilihan kepala desa. Aku mencalonkan diriku untuk menjabat sebagai kepala desa. Pemilihan kepala desa dipilih langsung oleh masyarakat setempat, desa yang kutinggali memang terkenal dengan ketertinggalannya, gersang, kemiskinan, dan sengaja aku memang bekerja di sana dan sekaligus tinggal di sana.            Suami dan kedua anakku pun ikut menyaksikan diriku dilantik menjadi kepala desa. Rasa syukurku begitu besar, dalam hidupku dihadirkan orang-orang hebat yang telah dan bersedia mendukungku dan juga menguatkanku. Seluruh warga yang menyaksikan ikut serta memberikan tepukan dan ucapan selamat kepadaku. Atas keberhasilanku yang akhirnya aku telah mencapai posisi yang aku inginkan sebelum akhirnya aku menjalani tugas dan amanah yang diberi. Aku mengadakan acara syukuran pada warga setempat. Kami berbincang-bincang bersama dengan RT dan beberapa perwakilan warga membahas tentang keluhan warga dan menampung banyak saran dan pendapat untuk dijalani kemudian. Sang suami benar-benar ada di sampingku juga ikut memberikan masukan kepadaku.            Bi Yam membantuku merapikan rumah selepas acara syukuran tadi. Suamiku memanggilku sesaat aku sedang bicara dengan bi Yam. Kita berdua bicara di dalam kamar agar tidak ada yang mendengar perbincangan kami.           "Sekarang kamu udah mendapatkan jabatan yang kamu mau. Aku minta kamu walaupun kamu sudah naik posisi, jangan lupakan kewajiban kamu sebagai istri, jangan lupakan kodrat kamu sebagai perempuan, sebagai ibu dari Lestari dan Kartika. Jangan lupain komitmen kamu, kamu mesti punya lebih banyak waktu untuk anak-anak kita karena mereka adalah prioritasnya kamu, tanggung jawab kamu."           Yang dikatakan suamiku memang benar, mereka adalah prioritasku dan akan selalu begitu tapi aku merasa rumah tangga ini hanya aku saja yang memiliki tanggung jawab yang besar dalam merawat anak-anak padahal dia juga punya tanggung jawab yang besar juga akan hal itu.           "Tanggung jawab kita bersama maksud kamu?" Aku balik bertanya, bukan bertanya tapi meralat ucapannya namun seakan melempar pertanyaan balik ke dia. Ekspresi tegasnya yang memberi nasihat padaku tadi seketika berubah merasa bersalah tapi ditutup-tutupi olehnya dengan mengalihkan pandangannya. Ia tetiba menyibukkan dirinya dengan merapikan bantal yang kemudian duduk bersender di kepala ranjang. Tangannya mengambil kacamata dan bukunya di atas nakas. Lalu, menjawab tanpa menatapku.           "Tugasku itu menafkahi kamu dan anak-anak. Itu tanggung jawab seorang suami."           "Jadi, merawat anak, mengurus rumah tangga tanggung jawab istri?"           "Iya... Memang begitu, 'kan seharusnya. Aku walaupun bekerja di tempat yang sangat jauh dengan kalian, terpenting aku masih memberikan nafkah materi pada kalian. Aku bekerja keras di luar sana buat kalian."           "Tapi kamu gak cuma sekedar ngasih materi aja! Tugas suami bukan cuma itu. Kamu pikir mengurus anak itu cuma tugas istri aja?" berondong pertanyaan kulontarkan, setengah emosi yang kuluapkan sudah membuatku tidak tahan. Dadaku terasa ada yang menindih, tertimpa sesuatu yang berat, seakan ada beban. Sebuah pemikiran macam apa yang keluar dari mulutnya yang mudah sekali ia ucapkan.           Aku berjalan ke sisi seberang ranjang dari tempatnya ia duduk. Aku duduk di atas kursi rias menghadapnya.           "Kang, rumah tangga ini kita bangun bersama, anak juga kita buat bersama, berdua!" Kutekankan sekali lagi. "BERDUA!" Aku tarik napas dalam-dalam setelahnya. Dengan gestur kedua tangan mengangkat lalu jatuh menepuk di atas paha. Ku kembali bicara dengan intonasi yang pelan namun tegas ku katakan. "Jadi gak ada tuh ceritanya, tugas ngurus anak, mendidik anak, mengasuh anak, cuma istri aja. Kamu juga punya perannya di sini. Kamu pikir walau liburan, kamu di rumah aja itu udah cukup? Justru kamu sendiri masih sempat-sempatnya fokus sama pekerjaan kamu, sama klien-klien kamu, kasus-kasus yang kamu urus, ada tidak kamu memikirkan perasaan anak-anak." Kuangkat tubuhku tuk berdiri seraya terus menatapnya dengan pandangan kesal. "Asal kamu tau, karna sikapmu ini mereka jadi lebih dekat sama saya daripada sama ayahnya. Kamu sadar tidak selama ini anak-anak mempertanyakan peran kamu sebagai ayah, tolong pikirin sekali lagi sebelum kamu bicara, materi gak akan bisa membentuk karakter mereka menjadi anak yang bertanggung jawab." Aku menggeleng. "Sama sekali gak,” sambungku lagi. "Mereka itu cuma butuh ayahnya. Pahami itu kang." Setelah semua kutumpahkan padanya pada malam hari itu, aku meninggalkannya dengan perasaan yang aku harapkan ia bisa memahami yang kukatakan tadi.           Dia pikir, tugas suami hanya menafkahi istri dan anak-anak saja. Ia pikir, mencari uang itu hanya bisa dilakukan oleh lelaki saja? Aku juga bisa kalau harus mencari uang. Tapi permasalahannya, ia bisa tidak mengurus anak setiap hari, mendidik dan mengasuh anak? Tidak mudah. Mereka membutuhkan kedua orang tuanya, mereka sedang dalam perkembangan yang akan membentuk karakter mereka ke depannya.           Anak dekat bila bersama ibunya akan menyalurkan suatu ekspresi, rasa, perasaan, tali yang mengikat batin keduanya sedangkan sama ayahnya, anak akan lebih banyak bertanya sesuatu yang tidak ia tahu untuk mencoba memahami suatu hal yang tidak ia pahami.           Kedua anakku begitu cerdas dan aktif, disaat momen-momen seperti inilah yang kuharapkan dari Ammar bisa mendidik mereka dengan pengetahuan yang ia berikan. Aku juga menjadi guru untuk anak-anakku dan Ammar seharusnya melakukan hal yang sama sepertiku. * * * * Setelah perdebatan malam itu, hari-hari sebelum ia pergi ke New York, kami berdua berusaha bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Biasa saja. Kami menciptakan momen-momen menyenangkan demi Lestari dan Kartika. Kami tidak mau anak-anak jadi tertekan karena orang tuanya selalu bertengkar. Aku tidak mau mereka bersedih. Ini tanggung jawab bersama. Tugas aku dan Ammar untuk menjaga perasaan mereka yang tidak boleh diberatkan oleh masalah rumah tangga akibat mendengar pertengkaran kami. Mengingat tanggung jawab sebagai orang tua, terutama aku yang sepenuhnya bukan ibu rumah tangga yang sehariannya di rumah saja. Memang lumayan repot untuk mengatur waktu antara anak-anak dan pekerjaan. Dalam urusan anak-anak sekolah, terutama Lestari yang butuh waktu lama menuju ke sekolahannya yang ada di perkotaan. Aku punya supir pribadi khusus untuk mereka, tapi terkadang ya tiap-tiap kendala masalah pastilah ada sempat waktu itu aku minta Leonna; sahabatku, untuk menjemput anakku sebab mobil sempat mogok.            Aku punya alasan tersendiri mengapa aku terkadang menyulitkan anak-anakku. Aku ingin mereka merasakan kesulitan terlebih dahulu agar ketika mereka hidup serba enak lalu ditimpa musibah dan jatuh kesusahan mereka jadi tidak kaget. Kartika sekolah di kota karena di sini tidak ada sekolahan dasar. Namun untuk Lestari, aku tempatkan ia di sekolah yang relatif sederhana yang ada di pedesaan ini, dia masih sekolah menengah pertama, memang untuk fasilitas tidak seperti yang ada di perkotaan tapi aku mau mengajarkan kepada anak-anakku untuk belajar hidup susah, sederhana dan apa adanya lebih dari sekedar materi. Aku sebagai ibu, ingin anak-anakku mendapatkan pendidikan yang terbaik tapi pada dasarnya aku harus mengajari hal-hal yang menurutku akan membentuk karakter mereka ketika mereka sudah dewasa.            Kartika yang sekolahnya lumayan jauh dari rumah akan terbiasa bisa disiplin dengan waktu, bangun pagi dan pergi awal agar tidak terlambat. Untuk Lestari, ia harus terbiasa dengan segala keterbatasan yang ada di sekitarnya. Banyak orang yang lebih susah darinya tapi sangat berkeinginan untuk menempuh pendidikan terlepas dari fasilitas yang tidak memadai, Lestari harus melihat hal itu agar nantinya dia tidak menyia-nyiakan yang dia miliki. Seperti tidak mencontoh anak-anak yang bolos sekolah padahal banyak anak yang susah ekonomi dan fasilitas sekolahnya tapi tetap semangat belajar sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.            "Bunda." Lestari duduk di sampingku sambil memainkan tab yang ada di tangannya sementara Kartika sedang makan tertidur di jok tengah. "Bunda sekarang udah jadi kepala desa, aku liat bunda sangat ingin sekali jadi kepala desa, memangnya alasannya bunda apa sampai bunda kepengen banget jadi kepala desa?" Lestari jarang banyak bertanya, dan aku senang dengan anakku yang sangat aktif dengan begini aku bisa memberikan nasihat untuknya.            "Dulu bunda suka mengalami kegagalan, sampai bunda gak tau, bingung mau jadi apa. Cita-cita bunda mau jadi ini mau jadi itu, kayaknya Tuhan gak mengizinkan. Bunda sempat berpikir, kayaknya ada yang salah, deh. Mungkin niat bunda waktu itu mau menyaingi bibi kamu karna kok dia selalu berhasil sama apa yang dia inginkan. Dan bunda ternyata sadar, niat bunda aja udah gak lurus."            "Terus cita-cita bunda jadi?"            "Bunda bercita-cita mau jadi orang yang bisa membawa perubahan, yah... Waktu menjadi PNS, bunda, 'kan sempat lulus dan ternyata bunda lolos. Tapi ada rasa yang bunda belum merasa puas, seperti bunda harus melakukan lebih dari ini gitu. Bunda harus menjadi kepala desa supaya keinginan bunda itu terpenuhi ya walau untuk membawa perubahan gak mesti menjadi kepala desa hanya saja ini caranya bunda. Bunda kepengen desa di mana tempatnya bunda bekerja itu, bisa maju. Bisa berkembang."            Aku harap Lestari dapat menangkap penjelasanku ini. Dia harus menjadi perempuan yang pintar, perempuan yang memiliki wawasan yang luas, perempuan yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, dia harus punya pendidikan yang tinggi, dia harus menjadi perempuan yang berkualitas, perempuan yang hebat, perempuan yang dapat membawa hal-hal positif, terlepas dari segala kekurangan fisik yang dia punya.            Dia selalu insecure dengan yang ada di tubuhnya. Walaupun dia hanya punya satu kaki, dia mempunyai kelebihan yang harus diasah. Dan menurutku, insecure bisa dilawan ketika manusia lebih mengembangkan kelebihan dan potensinya, cantik tidak harus dari fisik. Tapi cantik bisa dilihat dari dalam diri, dia menjadi dirinya sendiri, itu yang akan menjadikannya menarik. Lestari itu unik. * * * * Salah satu mimpi terbesar yang Lestari miliki adalah menjadi seorang atletik. Dalam keterbatasannya ia berusaha untuk menjadikan yang mustahil menjadi kenyataan. Sebagai ibunya aku tentu sangat-sangat mendukung cita-citanya. Suatu kebanggaan bagiku bila anakku memiliki tekad untuk menggapai prestasinya walaupun aku sering cekcok dengan suamiku yang menentang Lestari menjadi atletik renang karena kekhawatiran yang ia miliki pada Lestari sebab hanya memiliki satu kaki saja dan sangat mustahil bila Lestari bisa melakukan semua itu.             Sebenarnya jauh dari lubuk hatiku, ada ketakutan terbesar terhadap keselamatan Lestari. Mengingat tragedi kecelakaan yang pernah ia alami saat waktu ia masih sekolah dasar, aku menemani ia pergi liburan bersama wali kelasnya mengunjungi laut namun di tengah perjalanan bis yang kami tumpangi mengalami kecelakaan, di tikungan tajam, jalanan licin sehabis hujan deras, bis terperosok ke dalam jurang yang dalam, banyak dari teman-temannya juga orang tuanya tewas namun aku dan Lestari masih diberi keselamatan. Tapi, kondisi Lestari begitu buruk. Aku tidak sadarkan diri pada saat itu. Yang kuingat sebelum pingsan, Lestari telah banyak kehilangan darah bahkan kakinya pun sempat terjepit dan mengeluarkan banyak darah dan karena itulah dokter mengatakan kalau kaki kiri Lestari harus diamputasi atau tidak itu akan membahayakan keselamatannya.             Aku dan suamiku sangat terpuruk. Berat rasanya melewati masa-masa yang menyulitkan pada waktu itu terlebih melihat kondisi Lestari yang harus kehilangan satu kakinya. Ia tidak bisa menerima kenyataan. Diumur delapan tahun itu, ia selalu mempertanyakan ke mana kakinya? Kenapa kakinya diambil? Kenapa ia hanya punya satu kaki? Kenapa ia harus tumbuh besar dalam keadaan cacat? Segala bentuk pertanyaan itu tidak mampu baik aku atau suamiku untuk menjawabnya.             Belum lagi suamiku selalu menyalahkanku atas kecelakaan yang terjadi. Hubunganku jelas tidak harmonis lagi. Aku sangat frustasi. Aku tertekan hebat ditambah ibu mertuaku selalu berkata yang membuatku semakin bersedih hati.             Tali batin antara aku dengan Lestari yang terasa sangat terhubung, ia tahu bila aku pun sangat terpukul dan menyalahkan diriku atas kondisinya, sesuatu seperti memberi sinyal padanya untuk bangkit dari keterpurukannya dan lagi Lestari menjadi jalan tengah antara aku dan sang suami untuk bersama-sama melewati masa-masa yang berat itu. Hingga sampai saat ini kami masih bertahan.             "Lestariii! Ayo, Lestari! Semangat!" Kekuatan dari seorang ibu itu akan mengalir kepada sang anak, dia akan lebih bersemangat lagi bila ia tahu ibunya saja bisa kuat begitu juga sebaliknya, anak akan lebih sedih dan lemah bila tahu ibunya lemah dan terpuruk. Aku akan selalu menjadi sumber kekuatan untuk Lestari. Apapun itu akan aku lakukan untuknya bila memang Lestari bahagia akan pilihannya.             Pilihan dia ingin menjadi atletik perenang. Kalau gitu, di hari weekend ini aku sempatkan waktuku untuk menemaninya latihan. Ditemani dengan Kartika, aku dan anakku duduk di tangga yang memanjang sebagai tempatnya para penonton duduk. Lestari dilatih oleh Pak Bara, dia guru olahraga yang mengajar di sekolahnya, masih muda sekitaran umurnya ya 25 ke atas dan wajahnya hitam manis, bersih nan tampan. Tanpa mengeluh, dia mau mengajar di sekolah dengan fasilitas yang pernah kubilang belum memadai. Bayarannya pun masih rendah. Tapi, ia menjalaninya dengan hati tulus. Dia mau di tempatnya di daerah pelosok walau keadaannya tidaklah mudah untuk sekarang ini.             "Eryna!" Seseorang memanggilku. Aku menolehkan kepala, melihat Leonna menuruni anak tangga dan menghampiriku. Kupeluk dia sambil cipika-cipiki. "Tikaaa! Ini liat Tante bawa apa buat Tika." Mensejajarkan tubuhnya di hadapan Kartika, mata binar anakku memancarkan kebahagiaan ketika bertemu dengan Leonna.             "Apa itu Tante?"             "Bonekaaaaa baruuuuuuuu!!!!!" seru riang menunjukkan boneka barbie yang besar kepada Kartika yang jelas diterimanya dengan senang hati.             "Bilang apa sama Tante?"             "Maaaciihhhh tanteee."             Leonna kemudian duduk di sampingku seraya menaruh tas hitamnya.             "Lo ini jangan terlalu manjain anak gue."             "Yeee, emang ngapa, sih, yang penting, 'kan anak Lo seneng."             "Gue gak mau anak gue jadi manja kalo apa-apa semuanya mesti diturutin."             "Iya, deh, sekali ini aja berhubung gue pernah janji, 'kan mau ngasih dia hadiah. Okeey?" Mengangkat dua jari hingga membentuk tanda V sebagai tanda suernya. Aku mengambil kaca dalam tas untuk merapikan hijabku yang sedikit membuatku tidak nyaman.             "Lo bilang kalo Lo berantem lagi sama suami Lo sebelum suami Lo berangkat ke New York." Dia membuka pembicaraan. Aku memang memintanya datang untuk bercerita-cerita saja yaa sebenarnya tidak ada maksud untuk membuka aib keluargaku. Aku cuma bercerita hal-hal yang memang baik untuk aku ceritakan supaya aku bisa menemukan solusi dari orang yang aku percaya walau begitu aku pun tau mana cerita yang baik untuk kusimpan sendiri saja.             "Seandainya Lo ada di posisi gue, capek, gak, sih, rasanya dikasih tanggung jawab sendirian aja sama suami padahal Lo tau benarnya adalah itu tanggung jawab kita bersama."             "Wait... wait... Lo gak salah, nih, ngomong gitu ke gue?" Dahinya mengerut ke atas. Aku menatapnya bingung, satu alis terangkat.             "Emangnya kenapa?"             "Lo lupa gue belum nikah,” sosornya. Setelahnya ia tertawa terbahak-bahak. Aku menampol bahunya yang terbuka, menampilkan tato-tatonya.             "Kesel, deh, gue. Serius! Basi banget tau gak kalimat Lo barusan itu, capek gue dengernya."             Tawanya mereda. "Yaampun... Ryn... Ryn... Ampun, deh, yaaa ternyata kalian itu punya hubungan tapi gak pernah seimbang trus, ada aja yang diributin."             "Gimana gak seimbang kalo suami gue itu selalu punya pandangan, ngurus anak, mendidik anak, mengasuh anak ya tugasnya istri kalo gue gagal dengan semua itu, lagi-lagi gue yang bakal disalahin sama dia." Aku teringat bagaimana masa-masa berat yang harus aku lewati atas musibah yang menimpa Lestari, jelas semua itu membuatku sangatlah terpukul. Bahkan orang yang aku cintai pun ikut menyalahkanku.              Leonna menarikku dalam rangkulannya, ia juga ikut bersedih karena dia saksi bagaimana aku sangatlah terpuruk pada masa itu. "Lo sabar yaa, gue tau mungkin kata-kata gue saat ini gak sepenuhnya bisa membantu Lo tapi Lo harus kuat, kadang emang gak gampang buat menghadapi orang dengan cara pandang yang beda dari kita tapi gue yakin kok suami Lo bakal berubah, suami Lo bakal lebih peduli sama Lo sama anak-anak Lo. Sekarang cuma masalah waktu aja." Kata-kata Leonna selalu memenangkan ku. Memberiku banyak semangat dan masukan yang aku harus lebih kuat lagi dari sekarang, aku harus terus bertahan.             "Bundaaaa!!!"             "Tariiii. Udah selesai kamu renangnya, nak." Dibantu Barra menaiki anak tangga dan kedua tongkat yang ia jadikan alatnya berjalan, tubuh Tari langsung kukeringkan dengan handuk. Leonna mengambil alih tugasku saat Barra mengajakku untuk membicarakan soal Tari. Kita bicara di dekat kolam renang.             "Tari itu ternyata punya bakat yang hebat, selama saya menjadi pelatih dan guru di sekolahnya, saya udah merasa Tari punya potensi yang mesti dikembangkan."             "Syukurlah, dia memang ingin menjadi atletik," ujarku mengutarakan cita-cita putriku.             "Tahun ini ada Peparnas yang akan diadakan di Bandung, untuk Tari yang menyandang disabilitas. Saya rasa Tari bisa ikutan dalam cabang renang. Saya yakin dia pasti berhasil," ucapnya yang membuatku tidak menyangka kalau ternyata ada ajang perlombaan yang sangat cocok untuk Lestari ikuti. Peparnas adalah Pekan Paralimpiade Nasional Indonesia. Kompetisi ini diikuti bagi para penyandang disabilitas. Peparnas sama halnya seperti PON atau Pekan Olahraga Nasional tapi ada perbedaan diantara keduanya, di mana yang membedakannya hanyalah dari pembagian kelasnya dan teknis pertandingannya yang tentu harus disesuaikan dengan kondisi fisik para atlet. "Tari udah tau soal ini?" tanyaku. "Tentu." Dalam hatiku bertanya-tanya, kenapa Tari tidak mengatakannya padaku. Aku melihat dia masih mengobrol sama Leonna dan adiknya. "Emh... Kapan itu diadakan?" "Untuk ajang itu sendiri masih diundur dan belum tau kapan waktunya tapi tetap akan dipersiapkan. Nanti, saya infokan lagi dan yang terpenting Tari bisa mendapatkan izin dari orang tuanya."              Aku ragu membicarakan soal ini kepada suamiku. Aku yakin dia pasti tidak akan mengizinkannya namun aku tidak mau pula mengecewakan Lestari. Kalau dengan prestasi bisa membuatnya lebih percaya diri, apapun akan aku lakui. Tapi aku tidak mau terus-menerus bertengkar dengan suami. Aku akan bicara pelan-pelan dan ku harap ia bisa mengerti. Semua yang kulakukan demi Lestari.              Selesai bicara dengan pelatih Lestari, aku pun belanja sebentar bersama Leonna di pasar untuk mencari bahan masakan hari ini sebab Leonna mau memasak makanan kesukaan anak-anak. Bersyukur sekali punya sahabat seperti dirinya walaupun ia selalu dicap negatif oleh orang-orang karena penampilannya, ia selalu menjadi dirinya, selalu berbuat baik pada orang lain, tidak peduli bagaimana ia dipandang. Baginya, melakukan hal terbaik menurut versinya itu sudah cukup. Bukan hidup mengikuti apa kata orang, bukan hidup menjalani ekspetasi orang tapi ia hidup untuk dirinya sendiri. Menjadi orang baik memang tidak mudah tapi kalau berusaha terus, hampir tidak akan menemukan kata susah. "Len, jangan ada yang lupa, ntar balik lagi kerja dua kali lagi," kataku mengingatkan dia pada saat sedang menyebutkan bahan belanjaan pada sih nci. Ada seorang ibu tua yang seumuran dengan ibuku---berdiri di sebelah kiriku---menunjuk Leonna yang berdiri di sebelah kananku sedang bicara sama, sih, nci. "Itu... Temennya, Mba?" tanya ibu itu. Aku terkejut. Mengiyakan pertanyaannya dengan agak sedikit kikuk. "Kenapa Bu?" tanyaku. Leonna sudah selesai dengan kegiatannya dan kami tinggal menunggu belanjaan dihitung. "Tatoan," celetuknya, melihat ke arah, sih, engkoh. "Mba, 'kan hijab-an, mbok yo cari temen perempuan yang bener penampilannya. Gak pantes toh perempuan tatoan kayak gitu? Kayak perempuan nakal. Serem ngeliatnya juga," ujarnya berlogat jawa. Ibu itu bergidik ngeri, melempar tatapan sinis sekilas kepada kami berdua. Aku nyaris mau buka suara untuk membela sahabatku yang telah dihina, tapi Leonna menyenggol lenganku, ia mengisyaratkan dari matanya untuk lebih baik diam. Diam ketika manusia dinilai hanya dari cover yang terlihat. Leonna sangat sopan pada orang yang umurnya jauh darinya. Leonna lebih baik menahan sakit hati daripada harus mengeluarkan kata-kata yang menyakiti. Terlebih pada orang tua walaupun ia tidak kenal sama sekali.             "Ini Bu... Total sembilan puluh lima ribu, ya," kata sih engkoh yang melayani ibu ini. Ibu tersebut merasa kesulitan membawa belanjaannya. "Bisa gak Bu bawanya?" tanya engkoh.             "Ibu sini belanjaannya saya bawain." Leonna seketika sigap membantu ibu itu. Ibu itu agak keheranan. Tidak menolak ketika Leonna langsung membawa dua kresek besar itu sendirian yang dalamnya belanjaannya sangatlah banyak. Aku mengambil belanjaan ku yang telah dihitung. Memerhatikan Leonna membawakannya sampai ke mobil ibu itu. Aku pun menghampiri mereka karena mobilku terparkir di sebelahnya.             "Kamu baik ya ternyata." Sikap ibu itu berubah seketika. Wajahnya tampak malu, gak enak melihat wajah Leonna. "Tadi... Saya mikirnya yang nggak-nggak ke kamu," ungkapnya pelan.             "Ga apa-apa, Bu. Toh, wajar juga kalo orang mikirnya seperti itu, penampilan saya, 'kan ya begini adanya," jawab Leonna dengan senyuman sopannya.             "Tapi hati kamu... Siapa sangka... Kamu orang baik ternyata, mungkin keliatannya ya..."             "Lebih ke arah negatif," selaku melanjutkan perkataan ibu itu yang menggantung. Enggan untuk meneruskannya. "Teman saya ini apa adanya, saya mau berteman sama dia karena saya tau dia bukan cewek nakal seperti yang dipikirkan orang lain. Ada baiknya juga kita gak menilai seseorang dari luarnya aja, 'kan?"             "Maaf yaa Dek, ibu malu jadinya. Ibu salah harusnya ibu gak mencap negatif ke orang begitu aja." Leonna mengangguk kepala, dia tidak perlu harus mengeluarkan kata-kata untuk membela dirinya ketika dihina. Dia hanya cukup melakukan suatu tindakan untuk membungkam mulut seseorang, bahwa ia tidak seperti kebanyakan yang orang kira. Leonna perempuan hebat yang ku kenal, yang tidak pernah memamerkan apa yang ia punya. Menjadi diri sendiri adalah kunci tenang dalam hidupnya. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD