Nadya
Sepanjang perjalanan menuju Batu Dua Gunung Lingga aku tidak bisa berhenti memikirkan pembicaraanku dengan kak Dinda kemarin. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana bicara dengannya. Aku memang tidak pernah merasakan bagaimana berada di posisinya. Bagaimana menderitanya ia sebagai perempuan yang telah diperkosa dan masa depannya telah hancur seketika. Jujur, aku bingung bagaimana aku harus mengutarakan perasaanku kalau aku pun sama halnya sangat bersedih karena aku kehilangan mama, aku kehilangan diri Kak Dinda, aku merasa kehilangan papa. Semuanya meninggalkanku. Dan aku harus tegar. Aku dipaksa kuat untuk bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Satu-satunya hanyalah Marco. Tersisa Marco. Dia yang kumiliki saat ini dan aku tidak tahu pasti akankah nantinya ia akan meninggalkanku juga.
Aku menyandarkan kepalaku miring sambil kutatap ia dari samping, ia tengah fokus menyetir mobil. Ia menolehkan kepalanya padaku, mungkin merasa diperhatikan olehku. Ia tersenyum lebar. Aku pun membalasnya. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh rahang wajahnya yang ditutupi oleh banyak bulu. Iya, dia berperawakan brewokan dengan kulitnya yang sawo matang. Sangat tampan dan terlihat gagah. Dia sekilas mirip seperti Giorgino Abraham.
Dia meraih tanganku untuk kemudian ia cium seraya mengusapkan jarinya di atas telapak tanganku. Dia bersikap seperti ini karena ia tahu apa yang aku pikirkan dan caranya ia membuatku tenang bukan dengan kata-kata tapi perlakuan yang sederhana.
Sejujurnya aku tidak pernah menggantungkan kebahagiaanku dengannya atau dengan siapapun. Karena aku tahu, berharap pada manusia hanya mengundang sia-sia saja. Aku takut akan dikecewakan. Aku tidak mau bergantung dengan siapapun itu, aku hanya bisa mengharapkan diriku tidak jatuh pada lubang yang salah. Hanya itu saja. Aku, aku dan hanya akulah yang bisa menyelamatkan diriku. Bukan orang lain.
"Kita udah sampai."
"Di mana temen kamu?"
"Aku juga gak tau, nih." Hari ini ramai sekali para pengunjung berdatangan. Marco masih menghubungi temannya, aku yang berdiri di belakangnya didatangi oleh perempuan-perempuan yang ingin meminta foto denganku. Mulai dari anak muda, gadis yang seumuran denganku bahkan ibu-ibu. Aku berusaha ramah saja padahal aku risih. Moodku sedang tidak benar-benar bagus tapi aku harus terpaksa untuk bersikap yang tidak sesuai dengan hatiku. Seolah aku tengah berbohong, seolah aku sedang berbahagia, sedang baik-baik saja tapi tidak pada kenyataannya. Mereka berebutan untuk mengabadikan momen bersamaku. Dan aku harus memang senyuman kebohongan. Aku membenci ketika harus berada di moment yang tidak benar-benar membuatku bisa melepaskan ekspresi.
"Mba-mba... Adek-adek... Ibu-ibu juga udah, ya," seru Marco yang akhirnya datang untuk menyelamatkanku dari kerumunan yang membuatku sesak dan tak nyaman. Seandainya saja aku lepas kendali emosiku, aku pasti sudah meneriaki mereka dan mendorong secara membabi buta. Tapi aku masih memikirkan citraku sebagai seorang aktris dan model yang namanya dikenal banyak orang.
"Saya sama pacar saya lagi liburan, jadi tolong minta waktunya untuk kami berdua ya," pintanya yang bisa dimengerti juga oleh mereka. Satu per satu mereka pun pergi. Aku menguncir rambutku yang tergerai hingga punggung. Aku kepanasan hingga berkeringat karena berdesak-desakan seperti tadi ditambah hari ini langit cerah tapi angin yang berhembus kencang membuat tubuhku kini terasa sejuk.
Marco menggenggam tanganku dan satu tangannya lagi ia lambaikan ke atas. Aku melihat ke arah yang ia tunjukkan kepadaku. Ia mempertemukan aku dengan teman lelakinya yang katanya dia adalah Christhian sahabat mainnya ketika mereka masih duduk di bangku SMP sampai mereka duduk di bangku SMA. Dan saat kuliah temannya pindah ke luar negeri.
Marco melepaskan tanganku. Ia langsung berjabat tangan dengan temannya. "Tian! Lo apa kabar broh?" Tanya Marco sambil berpelukan saling menepuk punggung.
"Puji Tuhan gue baik, keluarga baik... Eh keluarga gue ditanya juga gak, nih? Hahah!" candanya disertai gelak tawa.
"Udah, jawaban Lo udah mewakili," balas Marco sambil tertawa. Marco menoleh singkat ke arahku yang kubalas tatapannya tapi aku langsung mengalihkannya ke seseorang. Aku tidak terfokus kepada dua lelaki yang sudah lama tidak bertemu ini. Namun, yang kufokuskan adalah dia. Perempuan bertato yang sempat menelanjangiku dengan kata-katanya.
"Co, kenalin ini cewek gue, namanya..."
"Leonna?" selaku.
* * * *
Mungkin kedengarannya aku sudah mewakili Christhian dalam menyebut nama perempuan itu tapi aku menyebut namanya, lebih tepatnya seperti pertanyaan yang tidak disangka-sangka dia adalah pacar dari teman Marco dan aku bertemu dengannya lagi untuk ketiga kalinya.
Oh, Tuhan dunia ternyata sesempit inikah sampai aku bertemu lagi dengannya di tempat yang sama.
"Kamu... Kenal sama cewek saya?" tanya Christhian bingung. Sama halnya dengan Marco yang juga ikut bingung sekaligus terkejut.
Satu alisku menaik, aku menatapnya tidak senang. Rasanya gengsi sekali harus mengakui kalau aku kenal dia.
"Kita sempat kenal." Perempuan itu yang menjawabnya tapi dengan nada datar. "Tapi dalam insiden saat dia menabrak gerai gue dulu. Setelahnya pergi tapi gak bilang maaf," sindirnya sambil melempar tatapan ketidaksukaannya dia denganku.
Hei! Aku gak suka ya sama tatapan sinisnya!
"Kamu kok gak cerita sama aku Len?"
"Gue males harus bahas cewek sombong kayak dia," jawabnya dengan nada sindir tapi dengan ekspresi sengak seraya melipat kedua tangannya depan d**a. Berlagak sombong di hadapanku.
"Hey... Jaga ya mulut Lo!" tandasku emosi.
"Udah.... udah... udah, apaan, sih, kalian ini. Belum ada sepuluh menit kita ketemu udah ribut aja!" bentak Marco emosi dengan melerai kami yang nyaris saja tadi mau aku jambak rambut pendeknya yang seperti lelaki itu. Aku sangat kesal sekali sama omongannya yang nggak disaring dulu sama dia.
"Kita ngajak kalian itu buat jalin silaturahim, buat saling kenal sama pasangan masing-masing," terang Marco memelankan suaranya dari sebelumnya.
"Dan mau ngajak kalian main paralayang," timpal Christhian. "Bukannya mau ngeliat kalian adu bacot," sambungnya yang kemudian ia geleng-geleng kepala. Mungkin tidak habis pikir melihat dua perempuan yang pertemuannya tidaklah begitu baik atau meninggalkan kesan persahabatan. Iya, jelas aku tidak mau berteman dengan perempuan satu ini. Dia bukan levelku.
Akhirnya aku dan Leonna memilih diam dan membiarkan dua lelaki itu bicara sebentar dengan petugas yang menyediakan peralatannya.
Kita berdiri bersampingan. Dia memulai pembicaraan denganku lebih dulu. "Gue gak tau kenapa kita harus ketemu lagi untuk kesekian kalinya."
Aku mendengus. "Gue juga gak tau kenapa Tuhan harus mempertemukan gue dengan Lo lagi. Gue khawatir aja semakin gue ketemu sama Lo yang ada Lo malah mau berteman dengan gue dan ujungnya memanfaatkan popularitas gue lagi," ujarku penuh percaya diri. Dia menoleh, dengan senyum mengejek.
"Maksud Lo... Lo berpikir kalo gue ngebet banget mau berteman dengan Lo dan manfaatin Lo gitu?"
"Iya.. ya iyalah, trus apa lagi dong? " Aku memberikan senyuman remeh padanya. Aku udah tau tipikal cewek tato seperti dia ini. Dia bukan cewek dari kalangan atas, aku tau itu. Jangankan model seperti dia, yang sesama dari dunia selebriti pun kalau ada satu yang sedang naik daun pasti dideketin buat pansos. Apalagi dia. Gak peduli mau dia berprofesi apapun itu. Belum lagi dengan tato yang ada banyak di tubuhnya. Aku tidak suka saja dengannya. Terlihat memang dia itu seperti preman pasar. Aku sebenarnya tidak masalah kalau orang bertato, sebab teman-temanku pun memang ada yang memasang tato tapi mereka terlihat bagus-bagus saja tapi nggak dengan Leonna yang menurutku dia terlihat jelek dan tidak cantik atau tidak bagus dengan tatonya.
Dia memutar tubuhnya menghadap ku namun aku tidak melakukan hal yang sama. Wajahku tetap kupalingkan darinya. Enggan untuk menatapnya.
"Nadya Aura Amelia, gue kasih tau ke Lo ya, gak semua orang bisa Lo sama ratakan. Gue bukan orang yang tergila-gila sama ketenaran. Dan tolong, gak usah bersikap kalo Lo yang paling wah di dunia ini, dan jangan meremehkan profesi orang, siapapun itu. Karna apa yang Lo sombongkan sekarang ini pun gak akan selamanya bisa Lo genggam." Kemudian ia pergi menuju Christhian dan Marco.
Bisa dibilang semua orang itu segan denganku. Tidak ada yang berani bicara secara lantang denganku. Tapi, dia berani banget melawan aku. Siapa, sih, dia? Hanya seorang dosen saja tapi dia seakan-akan paling bisa melebihi posisi aku.
Daripada aku dibuat kesal dengan sikapnya itu lebih baik aku menghampiri Marco. Kita semua sudah siap dengan peralatan yang sudah disediakan dan tinggal terbang saja. Rasanya benar-benar membuat jantung berdebar. Paralayang adalah olahraga yang mengundang adrenalin dan itu sangat mengasyikan. Aku tidak takut dengan ketinggian justru aku sangatlah menikmatinya. Aku rasa Leonna pun sama halnya denganku. Ku lihat dia memang punya keberanian yang besar sepertiku. Eh? Apa yang baru saja kupikirkan? Kenapa juga aku harus menyamakan diriku dengannya? Jelas aku lebih unggul daripada cewek bertato itu.
Aku berteriak kencang. Meneriakan emosi yang terpendam dalam diriku. Aku ingin lebih bisa untuk tenang. Melepas penat dan beban yang selama ini memberatkan hidupku. Melihat birunya air di Waduk Jatigede membawa ketenangan dalam diriku dan juga bagaimana mataku dimanjakan dengan panorama bukit-bukit yang masih hijau segar yang membentang luas di bawah sana. Aku bisa terbang di atas ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Dan dari ketinggian tersebut, aku juga jadi bisa melihat Gunung Tampomas.
Setelah terbang dalam durasi yang cukup lama, kita mendarat di pesawahan. Selesai dari sana kita menuju ke restoran sunda yaitu Saung Teko yang menyediakan makanan khas Jawa Barat terlebih makanan khas Sunda. Di sini yang paling harus dicoba ikan guramenya yang sedap, banyak olahan yang tersedia dan pastinya bakal mengenyangkan.
Aku duduk berhadapan dengan Leonna sementara Marco yang di sampingku berhadapan dengan Christhian.
"Leonna ini selain dosen di Unpad, dia juga pernah jadi chef," ucap Christhian yang kedengarannya ingin membanggakan perempuan itu. Aku mendengus tak kentara tapi Leonna menangkap ekspresiku yang menampakkan rasa tidak sukaku.
"Oh, ya? Waw, sayang hebat ya gak nyangka aku Leonna bisa punya dua profesi yang berbeda," ujar Marco yang meresponnya ke arahku tapi tidak kuladeni karena aku lebih asik bicara dengan pak Jordan soal keberangkatanku ke Paris.
Tubuh kamu udah bagus, tapi mungkin sedikit dikurusin lagi aja, oke? Kamu jangan sampai kalah sama model-model asing di luar sana. Inget, lho, tubuh bagus, ramping, sexy, cantik dan putih bersih itu point utama. Kamu jangan sampe salah makan takutnya nanti malah ada jerawat, kan jelek nantinya. Kita gak terima perempuan yang wajahnya ada bentol-bentol di mukanya. Cantik itu point utama. Sama kamu mesti diet banget, pinggul kamu itu agak lebar, dikecilin lagi, ya?
Ini isi pesan chat dari pak Jordan yang baru saja mengingatkanku setelah tadi dia bertanya keberadaannku. Aku memberitahu kegiatanku tadi dan aku yang sedang menunggu makan menjelang malam. Ini sudah pukul tujuh malam. Sebenarnya, aku merasa tertekan karena agensi model yang telah memilihku benar-benar menekan kesempurnaan perempuan dalam standar kecantikannya. Itu bagus untuk membuatku agar terlihat sempurna tapi aku tertekan. Aku merasa tubuhku dikendalikan oleh orang lain. Seakan aku memang tidak punya kuasa atas tubuhku sendiri.
Aku jadi kepikiran, ada banyak menu yang dipesan dan kalorinya ya Tuhan, semua itu makanan berat dan akan membuat tubuhku jadi besar tapi aku juga lapar. Terus, aku harus gimana?
"Permisi..." Dua pelayan datang membawakan pesanan kami. Semua makanan yang tersedia membuatku jadi sangat lapar, apalagi ada ikan gurame yang ingin banget aku cicipin terlebih aku jarang sekali datang ke Sumedang, membuatku jadi tergiur dan sayang kalau tidak aku makan. Tapi... Aku takut gendut.
"Nad, kamu kok makanannya cuma diliatin aja, ayo makan," ajak Christhian dengan cara bicaranya yang sopan. Dia memang orang yang ramah dan humble pada siapapun. Lain halnya dengan Marco yang cuek pada orang baru yang ia kenal.
"Di makan, jangan mikirin berat badan," celetuk Marco membuat aku harus melototin dia. Bisa-bisanya Marco bicara soal ketakutan ku di depan mereka berdua. Dia mau aku ditertawakan.
Leonna diam-diam ternyata tertawa. Ia menutup mulutnya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Aku menegurnya, galak. "Kenapa ketawa-tawa?"
Dia menaikkan kedua alisnya, agak sedikit memajukan kepalanya. "Gimana?" tanyanya pura-pura tidak paham.
"Nadya emang gitu, terlalu perfeksionis menjaga tubuhnya biar gak naik berat badannya, kalo gak gitu nanti dia gak bisa jadi model lagi," selorohnya yang membuatku langsung memukul bahu Marco kesal.
Leonna semakin meledakkan tawanya begitu juga dengan Christhian yang diam-diam juga ikut terkekeh geli.
"Kalo diet nyiksa badan, mending gak usah diet mbakk. Puas-puasin aja kali makan sampe kenyang. Hidup cuma sekali kok ya mbok di bawa susah," ucapnya yang sok menasihatiku.
"Udah makan aja Nad, kamu toh udah kurus, mau sekurus apa lagi," tambah Christhian sedangkan Marco cuma diam dan cuek saja aku menjadi bahan tertawaan mereka.
Mungkin kedengarannya bagi mereka itu menggelikan tapi jelas hal yang mereka tertawakan itu penting bagiku dan tidak ada yang lucu untuk ditertawakan apalagi jadi bahan lelucon.
"Makan!" suruh Marco lagi dengan mengendikkan dagunya. Marco memang tidak suka dengan sikapku yang makan hanya sedikit, cerewet kalau mau makan, harus memikirkan ini dan itu. Marco tidak suka dengan sikapku yang ribet itu.
Aku menghela napas berat. Aku tidak mau menjawab karena aku sedang malas berdebat disaat mood aku sedang tidak bagus. Hpku tetiba berdering. Mbak Laras menghubungiku? Tumben. Aku mengangkatnya saja di tempat agak jauh dari mereka bertiga.
"Halo mbak?"
"Kamu di mana?"
"Aku lagi di Sumedang sama Marco dan temen-temennya, ada apa emangnya Mbak?"
"Dinda ini, lho, jatuh dari kursi roda abis itu meracau marah-marah gak jelas."
"Apa!?" kaget aku, "kok bisa, sih, Mbak?"
"Yaudah kamu pulang aja dulu. Nenek nyuruh kamu cepet pulang."
Aku segera menutup sambungan dan langsung mengambil tas. Mereka kaget sekaligus bingung dan bertanya-tanya sampai tadi Marco menahan kepergianku di hadapan kedua orang itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Marco panik.
"Aku harus pulang, kak Dinda lagi bermasalah sekarang," jawabku cepat. Aku sengaja tidak bilang dulu kepadanya, langsung pergi saja karena aku masih marah dengan ucapannya yang membuatku jadi dipermalukan di hadapan cewek tato itu.
"Oke, yaudah kamu tunggu di mobil dulu, ya. Nanti aku nyusul." Marco mau ijin pamit sama Christhian dan cewek tato itu setelah itu kita bergegas pulang ke rumah kakek.
* * * *
"Kamu mestinya bisa sopan sedikit, kalo mau pergi bilang, pamit sama mereka," omel Marco selama kita keluar dari restoran sampai menuju mobil.
"Aku gak ada waktu ya debat sama kamu," cetusku langsung masuk ke mobil dengan membanting pintunya dengan keras. Mobil melaju dengan sangat cepat. Aku sangat panik dengan keadaan kak Dinda saat ini. Sampai di rumah, nenek, kakek dan mbak Laras sedang duduk di ruang tamu dengan wajah cemas.
"Kek?" panggilku, rasa khawatir tidak bisa kubendung lagi. "Gimana ceritanya kok kak Dinda bisa jatuh?" tanyaku emosi.
"Kita juga gak tau, Nad, waktu Mbak lewat kamarnya, Mbak dengar suara barang pada dijatoh-jatohin gitu. Terus waktu Mbak periksa, Dinda udah di lantai aja sambil memberontak gitu. Kita semua diusir dari kamarnya," jelas mbak Laras. Aku tidak banyak bicara lagi. Langsung aku temui kak Dinda di kamarnya.
Ia terduduk di atas lantai dengan kepala ia letakkan di atas kursi rodanya. Rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya. Tubuhnya bergetar naik turun dan suara tangisannya sangat terdengar jelas. Perlahan aku mendudukkan diriku di belakangnya. Ragu-ragu aku mulai menyentuh bahunya. Tidak ada penolakan sama sekali darinya. Perlahan-lahan kupeluk ia dari belakang.
"Saya sedang berusaha untuk melihat kembali masa depan saya disisa hidup saya saat ini. Seperti yang kamu bilang, kamu ingin saya harus bangkit, 'kan?" Aku melepaskan pelukanku. Aku menarik dirinya agar duduk tegap dan kudorong kursi roda tersebut ke belakang lalu menggeser tubuhku di hadapannya. "Tapi saya rasa semua itu percuma. Karna keinginan saya sendiri pun tidak akan pernah bisa menjadi nyata. Masa depan saya itu dalam keadaan lumpuh dan buta, masa depan saya itu ada dalam penderitaan dari masa lalu saya, kesialan itu tidak akan lepas dari kehidupan saya. Jadi, sia-sia saya kalau harus mencari masa depan seperti yang kamu bilang. Kamu gak akan pernah tau, bahkan merasakan ada di posisi saya." Semakin lama suaranya meninggi, tenggelam dalam emosi negatif yang mengalir ke diriku untuk ikut marah dan membentaknya.
"Diam! Kak Dinda bisa diam gak, sih!?"
"Kamu yang harusnya diam. Berhenti membantu saya untuk bangkit lagi!" Ia mencengkram kedua lengan atasku sambil menggoyangkannya. "Karena hari ini, esok atau sampai saya mati pun penderitaan saya tidak akan berhenti."
"Diam! Diam! Diam!!!!" bentakku marah seraya menutup kedua telingaku.
"KAMU YANG HARUS DIAM NADYA!!!"
PLAK!
Aku tampar dia. Sudah kubilang aku bukan orang yang pandai mengendalikan emosi ketika kesabaranku terus diuji. Aku tidak pernah sekalipun main tangan, tapi kalau sudah kelewatan, dari lisan tidak bisa dipahami, aku lakukan dengan cara yang lebih bisa membuat orang tersebut berhenti. Berhenti dari kebodohannya yang sangat aku benci.
"Kalo memang ini keinginan Kak Dinda, silakan!" tegas ku seraya bangun dari dudukku. "Silakan lakukan apa yang Kak Dinda inginkan, karna mulai hari ini aku berhenti peduli sama Kak Dinda. Aku capek!!" bentakku marah dengan air mata yang berurai. Aku melangkahi kakinya untuk segera pergi dari kamarnya tapi aku mendekatinya lagi untuk mengatakan sesuatu. "Kak Dinda dari dulu sampai sekarang, dalam hidupku setelah mama, Kak Dinda orang yang sangat berarti," bisikku di telinganya. "Tapi detik ini juga, lebih baik kita saling menganggap kalau aku dan Kak Dinda itu sudah sama-sama mati," tekanku jelas. Apa yang kukatakan adalah bentuk dari sebuah kekecewaan. Tidak ada lagi tali persaudaraan. Karena hari ini aku sudah menganggap keluargaku telah tiada. Aku sudah tidak punya siapa-siapa dari keluarga yang dulu kuanggap adalah versi sempurna dalam kehidupan seorang Nadya.
[]