04

1049 Words
Wendy mengabaikan Hestia yang sedari tadi memaki layar ponselnya. Ia sedang sibuk mendisplay baju baru mereka di butik yang terletak di lantai bawah. Saat ini Hestia sedang kesal melihat deretan pesannya yang selalu diabaikan oleh pria bernama Nimir itu. Ini sudah beberapa hari berlalu, haruskah ia mendatangi kantornya dan benar-benar memberinya pelajaran? Keesokan harinya, Hestia benar-benar mendatangi kantor Nimir. Tak seperti sebelumnya, kali ini seorang penjaga menghalanginya untuk masuk. "Bisa anda tunjukkan kartu pegawai?" Apa lagi ini? Apakah Nimir sedang mencoba memperketat kantornya agar tak dimasuki orang asing? Dia pikir itu akan berhasil padanya? Mata mereka bertatapan beberapa detik dan kilatan keunguan muncul di manik mata sang penjaga. Setelahnya, Hestia masuk begitu saja dan menuju lantai sepuluh. Tapi sepertinya pengganggu kembali muncul. Kali ini ia harus berhadapan dengan sang sekretaris. "Anda siapa?" Falco pun bertanya pada Hestia yang sudah akan menerobos masuk. Pria itu mengamati penampilan Hestia yang sangat modis. Tentu ia tak mengenal wanita cantik itu karena kebanyakan koleganya adalah wanita berumur. Tiba-tiba ia teringat perkataan Nimir akhir-akhir ini. "Apakah anda Hestia?" Hestia yang awalnya sudah akan menggunakan kekuatannya itu pun mengurungkannya saat mendengar namanya. "Oh kau mengenalku?" "Jika anda ingin menemui direktur, beliau sedang tidak ada di tempat." "Benarkah? Tapi aku tak bisa kembali sebelum memeriksanya." Hestia sudah akan melangkah menuju ruangan Nimir namun ia dihalau oleh tubuh tinggi Falco. "Anda tidak bisa sembarangan masuk." Tangan Hestia meraih pundak Falco dan mata mereka saling bertatapan. "Direktur sedang bertemu tamu penting dan tak ada yang diperbolehkan masuk termasuk dirimu." Keheningan terjadi sejenak sebelum Falco menjawab. "Ya, saya mengerti." Hestia melewati Falco dan masuk ke ruangan Nimir. Pria itu langsung menoleh ke arah pintu karena seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Ekspresi wajah Nimir seketika berubah menjadi tak mengenakan. Kenapa wanita itu bisa kembali masuk? Apa yang dilakukan Falco di luar? "Aku tak ingat hari ini punya tamu." Hestia melangkah mendekat. "Itu karena kau tak tau cara membalas pesan." Ia berdiri di depan meja Nimir dan menggebrak meja. Ia menunduk untuk mensejajarkan wajahnya. "Kau tak bisa mengabaikanku disaat aku menginginkanmu." "Jika kau ingin bermain dengan pria, carilah di luar sana. Aku sama sekali tak tertarik bermain denganmu." "Kenapa? Karena aku tak menarik? Atau karena kau kurang berpengalaman?" "Apa?" Hestia tersenyum mengejek. Ia memutar meja dan berdiri di hadapan Nimir. "Kau pikir aku bodoh? Ciumanmu bahkan sangat payah. Ahh ataukah itu adalah pengalaman pertamamu?" Nimir mengepalkan tangannya. Melihat reaksi Nimir membuat Hestia terdiam sesaat. Tiba-tiba ia tertawa keras. "Jadi itu benar-benar yang pertama?" Ia menyibak rambutnya ke belakang, entah kenapa ia menjadi bersemangat. "Oh lihatlah pria suci ini." Tangan Hestia yang menyentuh pipi Nimir langsung ditangkis. "Tak heran kau mengeluarkannya banyak sekali." Hestia menundukan tubuhnya. "Bahkan membuat lubangku penuh." Seakan ada yang menekan alaram bahaya, Nimir pun bangkir dan mendorong Hestia menjauh. Ia tak ingin terjebak di kursi kerjanya seperti tempo hari. Bahkan setelah kejadian itu, ia jadi merasa aneh setiap duduk di kursinya. Hestia bersidekap melihat Nimir pergi. Apakah dia pikir dia bisa pergi begitu saja? Dengan gerakan cepat, Hestia menarik Nimir dan memaksanya duduk di sofa panjang yang ada di dekatnya. Lulut Hestia naik di antara paha Nimir dan tangannya mengurung pria itu. Tanpa di duga, Nimir memegang kedua tangan Hestia yang ada di kanan dan kiri kepalanya. Ia beralih mendorong Hestia duduk dan mengganti posisinya. Sekarang Nimir berdiri di antara pahanya. Melihatnya, Hestia pun tersenyum. "Apakah sekarang kau akan menunjukkan sifat aslimu?" Nimir menghela nafas lelah. "Hentikan semua tindakan bodohmu. Aku benar-benar tak ingin melakukannya lagi." Sebenarnya ada alasan lain kenapa diumurnya yang ke dua puluh tujuh, Nimir masih perjaka. Ia bakan tak pergi ke club dan tak bersenang-senang dengan cara orang lain seumurannya bersenang-senang. "Untuk apa aku melepaskan mangsaku?" Nimir meremas tangan Hestia yang sedari tadi ia tahan. Tatapannya berubah menajam. "Jangan membuatku berdosa dan melanggar janjiku lagi." "Kau naif. Bukankah dosa itu begitu nikmat? Jangan membohongi dirimu." Nimir tak suka mendengar kalimat itu. Setelah kejadian tempo hari, ia diselimuti rasa bersalah yang luar biasa dan marah pada dirinya sendiri. Inilah kenapa kakeknya selalu mengatakan ia tak boleh melakukannya sebelum menikah dengan orang yang dicintai. Tiba-tiba Nimir dibuat bingung ketika kedua tangannya bergerak sendiri melepaskan tangan Hestia dan terlipat kebelakang. Rasanya ada yang baru saja mengikatnya karena ia sama sekali tak bisa menggerakkan tangannya. "Apa yang kau lakukan?!" Lagi-lagi hal yang sama seperti waktu itu. Ia mulai mencurigai trik apa yang digunakan Hestia padanya. Hestia pun bangkit dan kembali mendudukan tubuh Nimir di sofa. Wanita itu melepaskan bajunya dengan gerakan yang begitu anggun. Mata Nimir membelak, ia mengalihkan pandangannya melihat tubuh telanjang Hestia. "Apakah ini pertama kalinya kau melihat tubuh wanita?" Sebenarnya Hestia masih tak percaya bagaimana bisa Nimir bisa menghabiskan hidupnya yang membosankan. Jari lentiknya menyentuh rahang Nimir dan memaksa pria itu kembali meluruskan pandangannya. Susah payah Nimir menelan salivanya ketika mendapati buah d**a yang tersaji tepat di depan wajahnya. Tubuhnya menegang ketika gundukan itu menyentuh wajahnya. Rasanya hangat dan kenyal, terasa begitu aneh. "Apakah kau akan membiarkannya begitu saja?" Hestia menuntun p******a kanannya ke dalam bibir Nimir. Jantung pria itu berdegup tak karuan. Daging kecil yang ada di antara gundukan itu mengenai lidahnya. Rasanya kenyal dan menegangkan. Hestia membelai rambut Nimir. "Kau bisa menyesapnya dan memberikan kenikmatan padanya." Kalimat Hestia bagaikan mantra. Bibirnya bergerak perlahan, menyesap p****g berwarna merah muda itu. Tapi hal itu tak berlangsung lama karena setelahnya, Nimir menggigitnya dengan keras. "Arghh.." Hestia menjambak rambut Nimir dan menjauhkannya dari p******a. Wanita itu tersenyum menantang. "Jadi kau lebih suka bermain kasar?" Hestia membelai milik Nimir yang masih tertutup dengan lututnya. Ia sedikit menekannya, membuat Nimir mendesis. Wanita itu kembali membawa wajah Nimir untuk mencumbu payudaranya. Bibir Nimir terlihat pelan bergerak menjelajahi sudut gundukan kenyal. Beberapa kali matanya menyipit dan keningnya menggerut saat lutut Hestia mempermainkan miliknya yang mengeras di bawah sana. Rasanya begitu menyiksa. Bagian bawahnya sudah sesak dan ingin dibebaskan. "Ugh, hentikan." Ada sesuatu yang terus ingin mendesak keluar. Hestia mengamati celana Nimir dan melihat ada titik basah di sana. Apakah pria itu precum? Tangannya membuka sabuk Nimir dan menurunkan resletingnya. Terlihat jelas bahwa celana dalam pria itu basah. "Bagaimana bisa kau pre c*m hanya dengan lututku?" Hestia membuka celana dalam Nimir hingga menampilkan milik pria itu yang sudah berdiri tegak dengan cairan yang sedikit menggenang di ujungnya. Bersambung... Udah tersedia juga versi ebook di Play store & Play books Keyword: kkenzobt 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD