3

1560 Words
Mendapati teman-temannya di ruang tamu di saat ia baru menghabiskan beberapa jam bersama Shakka, Wyne langsung pucat pasi. Memang benar bahwa Shakka adalah awal terbentuknya persahabatan mereka tapi bukan berarti Shakka tidak bisa menjadi alasan hancurnya hubungan empat belas orang cewek cantik itu. Sebelum masuk, Wyne bahkan mengendus tubuhnya sendiri memastikan bahwa tidak ada wangi Shakka yang tertinggal pada tubuhnya. Jangan sampai mereka tau jika barusan pun ia diantar Shakka. Cowok laknat itu benar-benar menyusahkannya. Bahkan fakta bahwa dia hidup saja sudah membuat Wyne susah. “Kalian ngapain kemari?” “Elo yang ngapain baru pulang jam segini dengan baju merah menyala yang bikin mata gue sakit!” ucap Bella, satu-satunya orang yang sampai sekarang masih menyimpan rasa pada Shakkampret, tau sekali lah Wyne masalah ini. “Gimana?” tanya Unna yang segera menarik Wyne agar segera duduk bersama mereka. Semuanya mengelilingi Wyne ingin mendengar cerita bagaimana setelah pertemuan pertama dengan Ziko. Namun Wyne menarik diri dengan alasan ingin berganti pakaian serta menyimpan bahan makanan di dalam kulkas. Ia tidak bisa membiarkan dirinya berada di tengan-tengah kerumunan anjing pelacak. Maksud Wyne, penciuman mereka semua setajam anjing pelacak. Apalagi kalau itu sudah berhubungan dengan Shakkampret. Membuka pintu kulkas mereka, Wyne kemudian memasukkan belanjaannya beserta kantong kresek yang dari supermarket. June yang harus melakukan semua ini sebetulnya. Memangnya apa lagi yang bisa pria pemalas itu lakukan sepanjang hari selain melamun dan memainkan gitarnya? Ide untuk puisi-puisinya tidak akan muncul sekalipun ia menghabiskan dua puluh empat jam untuk berpikir. “Wyn..” panggil June pada adiknya yang lagi-lagi berpakaian sesuka hati. “Hm?” “Gebetan gue lusa ulang tahun, boleh ga gue-” “Ga! Kalo lo punya uang mending disetor ke gue. Atau jajanin perut karet lo itu sendiri.” Drama June dan calon pacarnya memang tidak ada habisnya. Abangnya itu tampan, dari lubuk hati yang paling dalam, Wyne mengakuinya. Tapi sayangnya bukan dia yang memanfaatkan ketampanannya itu untuk mendapatkan pacar, justru para perempuanlah yang memanfaatkann kebodohan June. Wyne Amelia tidak pernah melihat laki-laki yang rela kelaparan hanya demi calon pacarnya senang dengan hadiah-hadiah yang ia berikan. “Tapi kan-” “Lo lupa siapa kepala keluarganya disini?” June memutar bola matanya bosan kemudian membuka kulkas yang beberapa saat lalu di tutup oleh adiknya. Pria itu berlutut kemudian menata semua bahan makanan dengan rapi. Ya, disini, Wyne adalah kepala keluarga sedang kan dirinya lebih ke arah Ibu rumah tangga. Wyne mengunci dirinya sendiri di dalam kamar mandi di kamarnya dan sekarang kedua tangannya bertumpu pada wastafel sambil memandang pantulan wajahnya sendiri. Menatap datar lebih tepatnya. Tanpa mengalihkan pandangannya, Wyne menyalakan keran kemudian menampung air tersebut hanya untuk dibawa pada bibirnya sendiri. Membasuh, menggesek, bagian dari dirinya yang paling mudah didapatkan oleh Shakka. Dan bibir hanya awal dari kegilaan yang bisa keduanya lakukan setelahnya. Tidak lama kemudian ia membawa telapak tangan basahnya untuk menutupi seluruh wajahnya. Wyne Amelia tidak tau apa sebetulnya hubungan ia dan Shakka. Mereka jelas-jelas adalah musuh tapi musuh tidak ada yang.. “Siall!” Semua ini berawal sejak hari itu di salah satu ruangan di Animedia di tahun terakhir mereka di Bina Bangsa. “Wyn.. gue kebelet,” ucap Tali mengetuk kamar mandi milik Wyne dan secepat sang sahabat keluar, ia langsung mengurung diri di dalam sana. >>> “Gimana?” tanya Unna yang segera menarik Wyne agar segera duduk bersama mereka. Ia dan kawan-kawannya yang lain kembali mengelilingi Wyne seperti kawanan semut yang mengerubungi sebutir gula. “Biadab banget ya punya temen, kalian kebagian ceritanya aja dan gue sendiri yang usaha. Gagal total pokoknya dan dia udah ga mau ketemu gue lagi, mana gue ga sempat nendang kon**lnya,” ucap Wyne makin kesal karena ia jadi teringat senyum manis Shakka. ‘Wyne stop sampai disana! Jangan ingat lebih jauh!’ ucapnya pada diri sendiri. “Bahasanya!” teriak sang abang dari arah teras. “Iya, maaf!” “Alhamdulillah, gue jadi puasa besok,” sorak Tzilla senang, dua belas pasang mata jadi menatapnya aneh. Apa hubungannya kegagalan Wyne dengan dia yang berpuasa? “Oh, gue nazar kalau Ziko ga makan umpannya Wyne gue bakal puasa sehari. Kasian temen gue nanti cinlok sama si Ziko terus menikah dan kena KDRT,” jelasnya pada wajah-wajah penuh dosa di depannya. “Imajinasi lo luar biasa ya, Tzill,” dengus Nadhi. Sempat-sempatnya dia menghayal tragedi hidupnya Wyne. “Sama jangan lupa lusa kita ke rumahnya Icin, siapapun yang ada kelas tolong untuk bolos aja mengingat gue sudah kangen banget sama si bodoh kesayangan gue. Ga denger curhatan dia tentang Ilham berhari-hari bikin gue ga nyenyak tidur,” ucap Quincy pada teman-temannya terutama Wyne yang belum tau apa-apa. “Tapi kenapa gagal, Wyn?” tanya Aline yang tentu saja heran. Wyne adalah pemikir yang handal, ia sudah melakukan banyak hal demi pertemuan hari ini. Lalu kenapa bisa gagal? “Jangan remehin persiapan gue ya, Line, semua sudah sempurna. Tapi gue lupa persiapin diri kalo ada hama yang ganggu acara gue,” ucap Wyne membara, satu harinya terbuang sia-sia karena harus terjebak bersama si laknat Shakkampret. “Siapa?” tanya Lisa kepo. “Satu-satunya orang yang terobsesi sama kecantikan dan kemolekan tubuh gue. Siapa lagi kalau bukan si b**o itu,” ucap Wyne penuh kebencian. “Kaya lo beneran cantik aja, dan tau apa lo sama kata molek? Bahasa Indonesia lo selalu remedi, kalau lo lupa lagi. Jangan kebiasaan lupa deh cape gue ngingetin!” suara ini datang dari arah teras. June orangnya, sang Abang tercinta yang proposal untuk memberikan hadiah pada calon pacarnya ditolak mentah-mentah bahkan sebelum kalimatnya selesai diucapkan. “Kata orang yang ngos-ngosan supaya bukunya mejeng di rak best seller.” Ucap Wyne bosan kemudian menatap teman-temannya sambil berucap, “Siapa di antara kalian yang mau adopsi dia? Muak gue!” ucap Wyne melirik kesal siluet Abangnya yang sedang memainkan gitar. >>> “Shakka..” panggil Naya begitu sang putra pulang. Ia sengaja menunggu putranya itu pulang. Naya lebih mengenal putranya itu lebih dari siapapun. Setelah ketahuan jalan berdua dengan gadis itu tidak mungkin putranya pulang awal. Shakka akan menunggu semua orang rumah tidur dulu. Langkahnya terhenti begitu mendengar panggilan sang Mama. Shakka tidak terlalu heran dengan kegigihan Mama tapi tidak kah ini keterlaluan? Jam berapa ini? Kenapa Mama masih belum tidur? Pria dengan tubuh tinggi dan kerap kali menunjukkan dua lesung pipinya saat ia tersenyum, saat dirinya menjadi Abang kesayangan Fay, itu menatap Mamanya tanpa ekspresi. “Mama mau bicara. Ngga..” ucap Naya menyadari kesalahan pada kalimatnya. “Kita harus bicara,” ucapnya lagi membenarkan. “Kita bicara besok pagi, ya, Ma. Aku harus bicara sama Key dulu.” “Keysha sudah tidur. Dia baru pulang sore ini dan adik kamu kecapean, Shakka. Kamu mau membangunkan Key untuk bicara? Kenapa kamu ga bicara sama Mama aja?” Langkah pria itu terhenti dan tanpa menoleh pada Mamanya, ia berjalan menuju kamarnya sendiri. “Malam, Ma.” Begitu ucapnya kemudian menghilang di balik pintu kamarnya sendiri. Meninggalkan Naya sendiri dengan perasaaan tidak karuan. Putra kesayangannya, yang selalu menjadi kebanggan sang suami dan Abang kesayangan bagi adik-adiknya akan berubah dingin dan menarik diri gara-gara satu hal. Dan Naya tau, untuk apapun yang telah terjadi atau mungkin yang akan terjadi, dia lah yang harus menanggung semuanya. “Shakka..” ucap Naya lirih agar putranya itu mengerti namun yang ia dapat hanya hempasan pintu. Tidak pernah ada yang namanya happy ending kecuali waktu berhenti dan sayangnya mengharapkan waktu berhenti adalah sesuatu yang sangat konyol untuk dilakukan. Tidak ada yang namanya happy ending karena kalau akhir seperti itu nyata maka Shakka tidak akan memaksa Naya menceraikan Rama. Tidak ada yang namanya happy ending karena kalau akhir seperti itu nyata maka Naya tidak akan mengirim putrinya sejauh mungkin dari sang Suami. Dan sekali lagi, tidak ada yang namanya happy ending karena kalau akhir seperti itu nyata, Shakka tidak akan membencinya karena membuat sang putra tidak bisa menemukan kembarannya dimanapun. Beginilah keadaan keluarganya saat ini. “Nak..” panggil Naya pada daun pintu di depannya. “Pergi!!” “Shakka,” panggilnya lebih lembut namun Naya tidak mendengar suara apapun dari dalam sana. Putranya pasti sudah menutup kedua telinganya dengan musik keras kesukaannya. “Sayang, ngapain kamu berdiri disitu?” tanya Rama setelah berkeliling rumah mencari istri tercintanya. Naya menoleh kemudian tersenyum lemah pada sang suami. Ia tidak tau apakah dirinya beruntung karena Shakka tidak mengadukannya pada Rama atau semua ini hanya menunggu sampai semua orang membencinya seperti yang mulai Shakka lakukan. Wanita itu membawa dirinya semakin dekat pada sang suami sampai pada akhirnya ia berada di balik lengan kekar dan hangat itu. “Aku rasa kamu perlu kembali ke Animedia karena akhir-akhir ini kamu selalu menempeli Shakka,” kekeh Rama tapi jauh di dalam sana, hatinya selalu sakit karena putri satu-satunya yang mereka miliki kabur dari rumah dan membuat sang istri seperti orang linglung setiap harinya. “Aku perlu kembali ke Animedia? Atau kamu perlu aku untuk kembali ke Animedia, Mas?” “Lebih tepatnya aku perlu istriku untuk melakukan sesuatu yang membuatnya paling merasa hidup. Kamu tidak lihat bagaimana Shakka saat ia menggambar. Aku rindu melihat ekspresi yang sama di wajah istriku.” Naya melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami, menghidu wangi pria itu dan kemudian mengangguk tepat di d**a Rama. Iya, dia akan melakukan apa yang Rama mau sambil memberikan Shakka waktu berpikir dan menerima semua ini. Menerima fakta bahwa semuanya tidak sama lagi. Namun begitu bukan berarti selamanya mereka seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD