Siapa yang membuat peraturan?

1049 Words
IPAR DAN MERTUAKU “Loh bukannya baru satu minggu lalu Mas Fendi sudah mentransfer uang untuk Mbak Ulfa ya Bu?” Sahutku, saat mendengar obrolan Mas Fendi dan Ibunya di ruang tengah. “Uang segitu ya sudah habis, kamu kan tahu kalau Ulfa itu membutuhkan biaya banyak setelah melahirkan.” Jawab ibu mertuaku. “Satu juta lebih dari cukup bila untuk membeli s**u formula Alif, kalau kebutuhan Mbak Ulfa itu bukan tanggung jawab kami.” Jelasku. “Kamu itu pelitnya gak ketulangan, apa kamu gak kasihan dengan Ulfa? Dia itu jand*, Fendi ini adiknya Arul, setelah Arul meninggal ya memang Fendi yang harus membiayai kebutuhan Ulfa dan Bayinya, lagian Ibu kan minta uang sama Fendi, kenapa kamu ikut campur?” Sergah ibu tak mau kalah menjelaskan. 'Minta uang pada Mas Fendi? Apa ibu lupa kalau Mas Fendi sudah tidak bekerja? “Baru satu hari berada di rumah sudah kebanyakan aturan.” Lanjut ibu. Aku memilih diam tak menjawab ucapan ibu mertuaku, percuma, pasti semua ucapanku selalu tidak ada benarnya. “Jangan ribut seperti ini, malu di dengar tetangga, ibu butuh uang berapa?” ucap Mas Fendi. “Terserah kamu saja, yang penting cukup untuk biaya Ulfa dan Bayinya.” Jawab ibu sambil melirik ke arahku. Terlihat Mas Fendi memberikan beberapa lembaran merah pada ibunya. Entah berapa jumlah yang ia berikan. Ternyata Mas Fendi masih memiliki uang? Atau jangan-jangan uang itu yang kemarin aku berikan untuk membayar cicilan sepeda motor miliknya? Jika iya, lalu bagaimana dengan cicilan itu? Kenapa uangnya malah diberikan pada ibu. Semenjak Mas Fendi dirumahkan oleh pihak perusahaan, keuangan kami saat ini juga sangat sulit. Malah di tambah lagi dengan biaya kehidupan ipar dan mertuaku. Aku sudah cukup berbaik hati dengan memberikan sebagian gajiku untuk membantu Mbak Ulfa pasca Mas Arul meninggal. Tapi jika semua kebutuhan biaya hidupnya harus kami yang menanggung, sepertinya aku harus lebih tegas. Agar ibu juga tahu kondisi keuangan putranya. “Assalamualaikum ...” Suara salam dari depan, tak lama sosok yang saat ini tengah menjadi perbincangan ibu mertuaku muncul. Mbak Ulfa datang dengan menggendong bayinya. “Ulfa, kamu datang ke sini? Naik apa? Kasihan cucu ibu, apa tidak kepanasan?” ibu mertuaku sangat antusias menyambut kedatangan menantu dan cucunya itu. Sikapnya suguh berbeda jika ia sedang berbicara denganku ataupun dengan Melda putriku. “Ulfa naik taksi Bu, kebetulan Alif juga pintar saat di jalan,” terang Mbak Ulfa. Ibu memindahkan Alif dari gendongan Mbak Ulfa, kemudian menimang nimang bayi yang baru berusia tujuh bulan itu. Mbak Ulfa baru ditinggalkan meninggal oleh Mas Arul emat bulan lalu, saat Alif masih berusia tiga bulan. Entah apa yang berbeda antara aku dan Mbak Ulfa, hingga ibu mertuaku bersikap demikian. “Ini untuk Ibu, dan ini untuk Fendi dan Aira, Ulfa sengaja masak banyak karena tahu kalau hari minggu pasti Aira sedang berada di rumah,” Ucap Mbak Ulfa, seraya meletakkan kotak berisi makanan yang ia sebutkan. “Kamu ini benar-benar menantu idaman, seorang istri memang harus rajin memasak, melayani suami. Bukannya sibuk di luar rumah, giliran libur malah bangunnya siang.” Jawab ibu mertuaku. Ibu sengaja menyindirku. “Ibu jadi punya usul kalau sebaiknya kamu tinggal bersama kami saja, biar Ibu dan Fendi bisa makan masakanmu setiap hari, kamu setuju kan?” lanjutnya memberi pertanyaan pada menantunya. Mbak Ulfa mengangguk. Mas Fendi mengangkat kedua bahunya. ‘Enak saja membuat peraturan sendiri. Memangnya selama satu tahun terakhir siapa yang mencari uang? Siapa yang mencukupi biaya hidup mereka? Kenapa aku yang jadi seperti benalu di sini? Tidak bisa kubirkan. “Lain kali gak usah repot-repot datang ke sini lagi Mbak, masalah makanan dan tugas di rumah ini biar Ibu yang mengerjakan. Ibu sendiri yang bilang, sejak Ibu datang dan tinggal di sini, Ibu memintaku untuk memberhentikan Mbak Norma asisten rumah tanggaku. Oh iya Mas, jangan lupa, hari ini Pak Mardi pemilik rumah ini datang untuk menagih biaya kontrak selama satu tahun sejumlah 4.500.000. siapkan uangnya kalau tidak ingin kita semua tinggal di emperan toko!” Jelasku. Terlihat Ibu menelan ludahnya. “Aira! Jaga bicaramu, Ibu ini orang tuaku, orang tuamu juga!” Sergah Mas Fendi. Terlihat ibu mengangkat kepalanya setelah mendengar pembelaan dari Mas Fendi. “Lalu?” Jawabku. “Hormati Ibuku! Cara bicaramu itu sudah melebihi batas!” Lanjutnya. Aku menggelengkan kepala sambil menatap lurus ke arah Mas Fendi. Sengaja tak menjawab ucapannya. Seharusnya ia sadar, kenapa aku bisa bersikap demikian pada ibunya. Ibu tidak pernah memiliki rasa terima kasih meskipun tau aku lah yang membanting tulang selama ini. Yang ibu tau semua yang ada di dalam kontrakan ini adalah hasil dari sisa tabungan Mas Fendi. Menjelaskan beberapa kali pun akan percuma, besok pasti sikap ibu akan seperti ini lagi. Hanya akan membuang buang tenagaku saja. Kali ini aku menatap Mbak Ulfa yang sejak tadi masih berdiri di samping ibu mertua yang sangat menyayanginya. Mbak Ulfa menunduk saat menyadari bahwa aku memperhatikannya. Kulangkahkan kaki untuk mendekat ke arahnya. “Masakan apa ini Mbak?” tanyaku, seraya meraih kotak yang terletak di atas meja, entah apa ini isinya. “Itu dendeng kesukaan Ibu dan Fen..” “Wow ... Pasti ini sangat lezat.” Sengaja aku mendahului ucapan Mbak Ulfa. Apa maksudnya? Ia memasak makanan kesukaan suamiku? Benar-benar cari muka. “Berapa harga daging sapi ini? Tidak murah kan pastinya? Lebih baik sekarang Mbak Ulfa pulang, jual saja masakan Mbak Ulfa, Mas Fendi sudah tidak terbiasa makan masakan seperti ini!” Lanjutku sambil meraih satu kotak yang masih berada di atas meja. Aku menumpuk kotak itu lalu meletakkan di tangan Mbak Ulfa. “Ini, gendong Alif dan segera pulang, cuaca siang hari tidak baik untuk anak kecil,” Imbuhku, kali ini aku meraih Alif dari gendongan ibu kemudian menyerahkan pada Mbak Ulfa. Ibu dan Mas Fendi hanya terdiam melihat apa yang kulakukan. ‘Siapa yang mau memprotes? Ayo silakan saja! Malah semakin kuperjelas di mana mereka seharusnya berada. Mbak Ulfa kepayahan karena terkejut saat Alif juga ku serahkan padanya saat dua kotak berisi dendeng itu masih berada di tangannya. Terlihat ibu meraih kotak tersebut, kemudian Mbak Ulfa menyempurnakan gendongan Alif. “Kamu pulang dulu ya, besok ke sini lagi,” ucap ibu. Aku bisa mendengarnya meski suara ibu sangat lirih. Bisa-bisanya ibu berbicara seperti itu, berarti selama aku berada di tempat kerja, Mbak Ulfa sering datang ke kontrakan ini. Apa yang mereka lakukan selama ini? Benar-benar keterlaluan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD