BAB 90

1836 Words
Seorang wanita sudah berdiri di depan gerbang lebih dari lima belas menit lamanya. Namun, para penjaga sepertinya tak memiliki niat sedikit pun untuk membukakan pintu untuk wanita tersebut. Membiarkan wanita tersebut tersengat panasnya matahari yang bersinar dengan teriknya. “Tuan, saya mohon. Izinkan saya masuk ke dalam dan menemui Tuan Raja," pinta wanita yang membawa keranjang buah di tangan itu untuk ke sekian kalinya. “Maaf, Nona. Saya benar-benar tidak bisa membukakan pintu untuk anda,” ucap penjaga gerbang. Wanita itu tampak kecewa. Ia sudah datang jauh-jauh, tetapi ia ditolak langsung bahkan sebelum ia bertemu dengan tuan rumah. Entah bagaimana caranya agar mereka mengizinkannya masuk. “Begini saja ... bisakah Tuan memberitahu Tuan Leon?” pinta wanita itu tak kehabisan akal agar ia bisa masuk. Ia berharap Leon akan membantunya jika ia meminta tolong. “Tapi, Tuan Leon sudah berpesan kepada kami agar tidak mengizinkan siapa pun masuk tanpa terkecuali,” ucap penjaga itu. wanita itu kecewa, ternyata membawa-bawa nama Leon juga tidak ada gunanya. “Aduh ... tidak bisakah Tuan menolong saya? Saya jauh-jauh datang dari luar kota hanya untuk menemui Tuan Raja. Haruskah saya pulang dengan kehampaan?” bujuk wanita itu lagi. “Maaf, Nona. Saya benar-benar tidak bisa memberikan akses untuk Anda. Meski apa pun yang Anda katakan, Kami tetap tidak bisa,” tolak penjaga untuk ke sekian kali. “Sebaiknya Anda pergi, Nona. Atau Anda hanya akan lelah menunggu.” Wanita itu tampak kecewa. Ternyata ia memang tidak punya kesempatan. Ia menatap rumah besar itu untuk yang terakhir kalinya. Sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu. *** Hari kedua, ternyata wanita itu datang lagi. Setelah apa yang ia dapatkan semalam, ternyata wanita itu tidak jera. Kali ini bukan dengan buah di tangan, melainkan dengan sebuket bunga. Ia tampak lebih segar dan ceria. Wanita itu tampak sangat optimis dan tak kenal lelah. Keinginannya untuk bertemu dengan Leon dan Raja harus terwujud hari itu juga. Ia harus berhasil masuk ke rumah Raja apa pun caranya. “Selamat siang, Tuan,” sapa wanita itu dengan ramah. “Selamat siang. Ada keperluan apa Anda datang kemari?” tanya penjaga. Sepertinya penjaga berbeda dengan yang kemarin karena menanyakan maksud dan tujuan wanita itu. “Saya Stella, teman tuan Leon. Bisakah saya bertemu dengan beliau?” tanya wanita itu. “Maaf, Nona. Tuan Leon sedang tidak menerima tamu. Silakan kembali lain kali,” ucap penjaga itu. “Tapi saya ada keperluan yang sangat penting. Tidak bisakah Anda berdua mengizinkan saya masuk walau hanya sebentar saja?” tawar wanita itu. “Maaf, Nona. Benar-benar tidak bisa. Tuan Leon sudah berpesan jika beliau tidak menerima tamu hari ini,” jawab penjaga itu. “Tuan saya mohon ....” Stella tampak putus asa. “Silakan pergi, Nona! Jangan datang jika belum membuat janji,” usir penjaga. “Janji? Kenapa aku tidak kepikiran, ya?” wajah Stella tiba-tiba saja mnjadi semringah. “Sebentar, saya akan menelepon tuan Leon kalau kalian tidak percaya.” Wanita itu mengambil ponselnya. Ia harus menghubungi Leon agar bisa masuk ke dalam rumah itu. Dalam hati Stella merutuki kebodohannya, karena tak segera menghubungi Leon sejak kemarin. Namun beberapa menit kemudian, senyuman di bibir wanita itu menyusut lalu menghilang. Rupanya, Leon mematikan ponselnya. Pria itu sengaja menutup semua akses. Stella jadi berpikiran buruk. Mungkin saja keadaan tuan raja benar-benar buruk karenanya. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada tuan Raja. Benarkah ini salahku? Kalau ia kenapa-napa gara-gara aku bagaimana? batin wanita itu sedih. Bagaimanapun caranya, aku harus memastikan keadaan tuan raja. Aku tidak boleh pulang dengan tangan hampa lagi. “Bagaimana, Nona? Bisakah Anda meninggalkan tempat ini sekarang juga? Tolong jangan membuat keributan apa pun dan menyusahkan kami.” “Tuan, saya mohon. Tolong pertemukan saya dengan Tuan Leon. Jika tidak, tolong sampaikan kepada beliau bahwa saya, Stella ingin bertemu,” ucap Stella memohon. “Tidak Nona. Saya tidak bisa melakukan apa yang Anda pinta,” tolak penjaga. “Apakah Anda ingin saya terus membuat keributan di tempat ini? Tidak kan? Kalau Anda ingin saya lekas pergi, tolong sampaikan pesan saya. Saya hanya ingin mengetahui respon tuan Leon. Jika beliau berkata saya harus pergi maka saya akan pergi,” ucap Stella. Kedua penjaga itu saling berpandangan mata. Akhirnya mereka setuju untuk menyampaikan pesan Stella karena lelah menghadapi kekeras kepalaan wanita itu. “Baiklah. Kami akan berusaha menyampaikan pesan Anda. Tapi kami tidak bisa berjanji apa pun. Jika tuan Leon berkata tidak maka artinya tidak,” ucap penjaga itu. “Baiklah, terima kasih, Tuan. Terima kasih.” Wajah Stella kembali ceria. Setidaknya ia memiliki kesempatan, meski ia tidak tahu Leon akan mengizinkannya masuk atau tidak. *** Di ruang kerja Raja. Leon mendampingi Raja yang sedang melakukan rapat online darurat pemegang saham. Pria itu dengan cekatan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk rapat yang akan berlangsung sebentar lagi. Namun, saat pria itu sedang menata dokumen, tiba-tiba seorang anak buahnya memanggil. “Tuan!” “Tuan, semua sudah saya siapkan. Saya bicara dengan Faz dulu.” Pria itu berpamitan dengan setengah berbisik. Raja mengangguk mengiyakan. Lalu menepi, menjauh agar tidak mengganggu jalannya rapat. “Selamat siang. Saya mengadakan pertemuan mendadak ini karena gosip yang beredar. Namun tuan-tuan bisa melihat sendiri bagaimana keadaan saya. Saya baik-baik saja dan saham dalam keadaan stabil.” Suara Raja memulai rapat sempat terdengar sebelum akhirnya Leon keluar dari ruang kerja Raja dan menutup pintu. “Iya, ada apa?” tanya Leon tanpa basa-basi. “Tuan saya mau melapor. Wanita yang datang kemarin, hari ini datang lagi,” ucap Faz. “Kamu bisa mengusirnya bukan?” tanya Leon dengan nada meninggi. “Sudah, Tuan. Kami sudah banyak kali mengusirnya, akan tetapi wanita itu begitu gigih dan tak mau pergi,” lapor Faz. “Hah!” Leon memijit kepalanya yang pening. Ia merasa bahwa ini adalah salahnya yang telah menyulut bara api. Ia sendiri yang memberi kesempatan pada wanita itu untuk mendekat. Kini wanita itu akan selalu datang untuk mengganggu ketentraman hidupnya bersama Raja. "Baiklah, suruh dia masuk. Dan antarkan saja ke gazebo depan. Suruh dia tunggu di sana, jangan biarkan dia mendekati rumah utama. Aku akan segera datang setelah mengurus keperluan tuan muda," ucap Leon pada akhirnya. "Baik, Tuan." Pengawal itu langsung pergi dan kembali ke gerbang tempat ia berjaga. "Huft ada ada saja. Apa maunya wanita itu? Apa juga yang harus aku katakan? Rasanya tidak enak sekali menyuruhnya pergi ... ah terserahlah. Demi keamanan tuan muda, aku akan melakukan apa pun." Leon segera kembali ke ruang rapat untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. *** Sementara itu di depan gerbang. Stella tampak celingukan, sesekali ia tampak berjinjit agar bisa melihat pemandangan di balik pagar tinggi dan besar itu. Akan tetapi sia-sia saja, ia hanya bisa melihat pepohonan dan beberapa tanaman. Apalagi, penjaga pintu gerbang tampak tak begitu ramah. Beberapa kali melotot saat ia berusaha melihat ke dalam. Drrrkkk! Pintu gerbang terbuka dan dibiarkan menganga kurang lebih setengah meter. Pengawal yang pergi melapor akhirnya kembali. "Silakan masuk, Nona. Silakan ikuti saya," ajak pria itu. Stella masuk dengan ragu-ragu, mengikuti langkah pria itu. Namun, begitu ia masuk, ia melihat pemandangan rumah Raja, ia sangat terkejut. Baginya rumah pria itu begitu menakjubkan. Ini bukan rumah, ini istana namanya. Sangat indah dan menawan. Bahkan halamannya saja luasnya sepuluh kali lipat dari luas rumahku, batin Stella terkagum-kagum. Wanita itu menoleh ke sana-kemari tanpa henti saat berjalan di belakang pengawal. Tak hentinya juga, wanita itu berdecak kagum. Bukan hanya perusahaan Raja yang besar dan maju. Kediamannya pun tak jauh-jauh dari kata kemewahan. Namun, Stella terkejut saat pengawal itu ternyata tidak membawanya ke rumah itu. Pengawal itu mengajaknya berbelok ke sebuah taman kecil yang penuh bunga-bunga. Wah, indah sekali, batin Stella lagi. "Nona, tuan Leon bilang, dia akan segera datang dan menyuruh Anda menunggu di gazebo ini," ucap pengawal. "Baiklah." Stella segera melepaskan sepatu hak tinggi yang ia pakai dan naik ke atas gazebo yang memiliki konsep lesehan itu. Awalnya Stella kecewa karena ia tidak dibawa ke rumah utama. Namun, kekecewaan wanita itu terbayar saat ia melihat pemandangan di sekitarnya yang begitu indah. Taman penuh bunga-bunga dan dihiasi oleh kupu-kupu berwarna-warni yang berterbangan ke sana kemari. Terdapat kolam kecil yang berbentuk setengah lingkaran yang mengelilingi gazebo. Menambah keasrian tempat itu. "Wah, kalau saja aku tinggal di tempat seperti ini. Aku pasti akan betah dan kerasan," ucap Stella tanpa sadar. Wanita itu menyandarkan dagunya di pagar tepi gazebo seraya melihat ikan-ikan kecil yang berenang bebas. Bunyi gemericik air di batu karang buatan semakin membuat hati wanita itu tenang. Bahkan rasa panas yang sempat ia rasakan, tak tersisa lagi tertiup oleh angin. "Nona!" Stella sedikit berjingkat karena terkejut. Ia lantas menoleh dan melihat Leon sudah berdiri di jalan bebatuan itu. "Selamat siang, Tuan," sapa Stella. Leon mendekat, lalu melepas sepatu pantofel yang ia pakai. Dengan masih menggunakan kaos kaki, pria itu segera naik ke atas gazebo setinggi sekitar delapan puluh sentimeter tersebut. "Silakan duduk, Nona." Bersamaan itu, seorang pelayan pria datang membawa dua gelas jus oren untuk Stella dan Leon. "Silakan diminum dulu, Anda pasti lelah menunggu terlalu lama," ucap Leon berbasa-basi. "Terima kasih, Tuan." Stella segera mengambil gelas jus lalu menenggaknya hingga habis. Rasa haus yang sempat Stella rasakan menghilang oleh rasa dingin dan segar jus itu. "Nona, apa tujuan Anda kemari?" tanya Leon. "Sebenarnya saya ingin menjenguk tuan Raja. Saya selalu kepikiran dan tidak tenang semenjak kejadian malam itu," ungkap Stella. "Nona tidak perlu merasa bersalah. Keadaan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Leon. "Tapi, saat saya datang ke kantor, Tuan Raja dan Anda tidak ada di tempat. Saya jadi berpikir yang tidak-tidak. Saya kira ...." "Anda tidak perlu berpikir terlalu jauh, Nona. Tuan kami baik-baik saja. Hanya saja, dia masih butuh istirahat," ucap Leon. "Tetap saja ... saya merasa sangat bersalah. Gara-gara saya ...." "Tidak apa-apa, Nona. Jangan merasa bersalah atas sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Saya yang bersalah pada kasus ini. Karena saya mengandaikan kesehatan tuan saya." Leon mulai kesal karena Stella keras kepala. "Baiklah, kalau Anda berkata demikian. Tuan, bolehkah saya bertemu dengan beliau sebentar saja? Saya ingin melihat keadaan beliau," pinta Stella. "Maaf untuk hal itu saya tidak bisa mengabulkannya. Karena tuan sedang ada rapat penting dan tidak bisa diganggu," tolak Leon. "Oh begitu ...." Stella memasang wajah kecewa. "Nona, jika tidak ada kepentingan lagi bisakah Anda segera meninggalkan tempat ini? Saya sedang ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan," usir Leon secara halus. "Baiklah saya akan pergi. Tapi sebelumnya, bisakah Anda memberikan bunga ini kepada tuan muda?" tanya Stella. Leon memandangi bunga mawar putih yang dibawa oleh Stella. Ingin sekali pria itu menolaknya, tetapi ia tak tega. Akhirnya, Leon hanya bisa mengiyakan dan mengambilnya. "Baiklah. Berikan bunga itu kepada saya." Leon mengulurkan tangan. Dengan wajah bahagia, Stella menyerahkan bunga itu. Dalam hati berharap agar Raja menyukainya. "Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Wanita itu segera memakai sepatu hak tinggi miliknya dan meninggalkan kediaman William. Leon memandang kepergian Stella dengan iba. Dirinyalah yang telah membuat situasi menjadi seperti ini. Leon memandangi bunga mawar putih itu dengan perasaan kasihan dan bersalah, lalu detik berikutnya pria itu melemparnya ke dalam tong sampah. Leon tak mau kehadiran Stella akan mengganggu kesehatan Raja lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD