“Anda tidak apa-apa?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Leon saat pria yang mengaku sebagai paman Stella itu pergi dengan satu koper berisi uang tunai sejumlah yang pria itu pinta.
“Tidak, Tuan,” jawab Stella. “Saya baik-baik saja.”
“Ajak dia masuk Leon. Tempatkan dia di kamar ujung. Ah ya, sekalian panggilkan dokter untuk memeriksanya. Pria itu menghajarnya dengan begitu brutal, mustahil di baik-baik saja,” perintah Raja sebelum akhirnya pria itu masuk ke dalam terlebih dahulu.
“Mari, Nona. Anda bisa beristirahat di dalam sana,” ajak Leon.
“Baiklah.” Stella terpaksa menurut dan mengabaikan rasa malunya. Sebab, tak ada tempat yang bisa ia tuju malam itu.
Stella berjalan terseok-seok, bahkan hampir saja tumbang. Pada akhirnya, Leon harus memapah gadis itu karena kasihan.
“Mari saya bantu.” Leon mengulurkan tangan, menawarkan bantuan. Lagi-lagi wanita itu hanya bisa menurut. Karena ia memang sangat lemah.
“Maafkan saya karena telah menyusahkan Tuan berdua. Saya tidak menyangka jika kita akan bertemu di tempat ini dan dalam situasi yang seperti ini,” ucap Stella.
“Tidak apa-apa, Nona. Mari kita bahas lain kali. Yang paling penting sekarang kita harus mengobati lukamu. Aku akan memanggil seorang dokter untukmu,” ucap Leon.
“Tidak perlu, Tuan. Saya benar-benar tidak apa-apa,” ucap Stella seraya meringis menahan rasa sakit di perut, d**a dan bagian lainnya.
“Jangan keras kepala, Nona. Saya tidak mau jika sampai ada luka parah dan terabaikan. Apalagi paman Nona tadi menyakiti Nona tanpa belas kasihan. Saya takut ada organ dalam yang terluka atau bagaimana. Jadi, lebih baik saya panggilkan dokter untuk Nona. Ini demi kebaikan Nona Stella juga,” ucap Leon.
“Sungguh, Tuan. Saya tidak apa-apa. Saya telah terbiasa mengalami hal seperti ini. Bahkan bukan hanya satu atau dua kali,” ucap Stella dengan wajah sedih. Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya. “Kalau boleh, saya ingin meminjam kain lap dan meminta beberapa bongkah es batu. Itu saja.”
“Tentu saja boleh. Sepertinya ada banyak kain lap dan es di dalam sana. Ah ya, jadi paman Nona sering menyakiti Anda?” tanya Leon.
“Iya, Tuan. Ah, ceritanya panjang. Mungkin nanti saja akan saya ceritakan,” ucap Stella.
“Ah, benar juga. Nanti saja kita bicarakan lagi. Mari kita segera masuk lalu kita obati dulu lukamu, Nona,” ucap Leon.
Mereka berdua segera bergegas masuk ke dalam vila, menyusul Raja yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam sana
***
Tangan wanita itu gemetar saat menempelkan kain berisi es batu di perutnya yang memar. Rasa dingin dari es batu semakin membuat kulit perutnya terasa ngilu dan sangat sakit.
“Arghhh!” erang wanita itu seraya menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Nona. Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Leon khawatir.
“Saya tidak apa-apa, Tuan. Hanya sebentar, rasa sakit ini hanya terasa beberapa detik saja. Setelah itu akan kembali biasa seperti semula. Seolah tidak ada yang terjadi,” ucap Stella seraya memaksakan senyumannya.
“Pasti itu sakit sekali.” Leon meringis, membayangkan betapa sakit yang harus Stella derita. Apalagi, Stella adalah seorang wanita. Sudah tentu kulit wanita itu lebih lembut dan lebih sensitif daripada kulit laki-laki.
“Leon, apa yang Kamu lakukan? Bantu dia mengobati lukanya, jangan hanya melihat seperti itu!” Raja datang tiba-tiba dan muncul entah dari mana. Mengejutkan Leon dan Stella.
“Tuan, saya adalah seorang pria mana mungkin saya menyentuh Nona Stella ...." Leon ragu melanjutkan kata-katanya.
“Loh, memangnya kenapa? Adakah dokter yang memilih-milih pasiennya. Apakah dokter laki-laki tidak boleh mengobati pasien wanita dan sebaliknya?” tanya Raja.
“Yah, bukan begitu juga ....” Tiba-tiba saja terbersit suatu ide di dalam kepala Leon. Pria itu tersenyum lebar lalu berdiri dan menghampiri majikannya yang berdiri di ambang pintu.
“Leon sangat bodoh mengenai hal mengobati atau apa pun itu. Bahkan Leon tidak memiliki keterampilan sama sekali," ucap Leon.
"Omong kosong. Kalau aku sa—"
"Sepertinya Tuan lebih mahir, jadi Tuan bisa membantu Nona Stella,” potong Leon sebelum Raja menyelesaikan ucapannya. Leon mendorong tubuh tuannya agar mendekati wanita itu.
“Kamu gila ya, Leon? Bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak mau berurusan dengan yang namanya wanita? Kamu mau aku anfal lagi?” tanya Raja dengan suara berbisik.
“Ayolah, Tuan. Hanya duduk berdua saja. Tuan obati dia, aku yakin Tuan bisa melakukannya kan? Hanya perlu menghindari bersentuhan dengan Stella. Siapa tahu dengan itu Tuan bisa membaik? Tuan harus membiasakan diri untuk berdekatan dengan wanita. Anggak saja ini seperti terapi, okay?” Leon pun jadi ikut-ikut berbisik.
“Ck!” Decak pria itu saat Leon terus memaksanya. Entah apa yang diinginkan Leon hingga selalu memaksanya mendekat ke arah Stella.
“Aduh, perutku mulas sekali. Sepertinya aku harus cepat pergi ke toilet. Nona, maafkan saya. Saya tidak bisa membantu Nona. Tapi sebagai gantinya, Tuan yang akan membantu Nona mengobati luka Anda,” ucap Leon.
“Leon! Kenapa jadi a—“ Sayang sekali Raja tidak bisa menghentikan pria itu karena Leon secepat kilat kabur dari kamar Stella dan menghilang di balik pintu.
Sial! umpat Raja dalam hati. Ia sangat kesal pada Leon yang selalu memojokkannya.
“Tidak apa, Tuan. Saya bisa mengobatinya sendiri,” ucap gadis itu seraya meringis kesakitan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Gadis yang semula berbaring itu berusaha untuk duduk.
Raja memandang Stella, lalu kejadian tadi terputar kembali di dalam kepalanya. Pria itu merasa iba melihat penderitaan yang harus wanita muda itu tanggung, akhirnya ia terpaksa membantu Stella. Raja mendekat lalu duduk di depan wanita itu, di tempat Leon duduk tadi dengan masih sedikit menjaga jarak. Raja harus berusaha agar ia tidak bersentuhan dengan Stella, atau ia bisa saja mengalami serangan panik saat itu juga.
“Berikan kepadaku, Nona. Biar saya bantu untuk mengobati luka Nona,” ucap Raja seraya mengulurkan tangannya.
“Tapi, Tuan ....”
“Berikan saja, atau Leon akan berbuat lebih dari ini agar aku mau mengobatimu,” ucap Raja terdengar menyakitkan bagi Stella. Stella kecewa saat tahu bahwa pria itu mau membantunya hanya karena permintaan Leon.
“Ayo, kemarikan!” pinta pria itu.
“Ini, Tuan. Maafkan karena terlalu banyak menyusahkan,” ucap Stella dengan suara lirih.
“Berbaringlah. Aku akan mengobatimu,” ucap Raja mengabaikan ucapan wanita itu. Stella sempat terkejut, tetapi pada akhirnya ia dengan patuh merebahkan diri.
“Buka kausmu!” perintah pria itu.
Stella mengangkat kausnya dengan ragu-ragu. Wanita itu tampaknya malu, meski tadi Leon sudah melihatnya juga.
Raja terkejut melihat perut wanita itu memar hingga berwarna kebiruan. Bahkan bukan hanya di perut, di bagian d**a wanita itu juga memar bekas tendangan. Bahkan luka lama yang telah mengering juga tampak membekas di mana-mana. Seketika, hati Raja merasa iba melihat keadaan Stella. Raja jadi penasaran sebanyak apa wanita itu harus menanggung penyiksaan dari pamannya.
“Kamu yakin, Kamu baik-baik saja?” tanya Raja seraya menempelkan kompres di perut Stella dengan hati-hati.
“Iya, Tuan. Saya baik-baik saja. Saya sudah sering mengalami hal seperti ini. Ini bukan pertama kalinya, bahkan pernah lebih parah dari ini,” ucap Stella seraya mengigit bibir bawahnya saat dinginnya es kembali menyentuh luka memarnya.
“Dia benar-benar pamanmu?” tanya Raja.
“Iya, Tuan. Beliau adalah adik dari ayah. Paman yang menggantikan peran almarhum kedua orang tuaku sejak saya berusia empat belas tahun,” cerita wanita itu.
“Lalu kenapa dia bersikap buruk padamu?” tanya Raja.
“Semua berawal sesaat setelah kecelakaan kedua orang tua saya. Sejak saat itu, saya menjadi seorang yatim piatu. Semula saya sangat bersyukur dengan kehadiran paman saya, akan tetapi rasa syukur itu menghilang setelah ia masuk ke dalam kehidupan saya. Dulu, orang tua saya terbilang cukup mampu, bahkan harta yang ditinggalkan untuk saya tidak akan kurang sampai saya dewasa dan bisa mencukupi diri sendiri. Akan tetapi, ternyata paman saya adalah pria yang tamak dan gila judi. Pria itu menghabiskan harta peninggalan orang tua saya hingga habis tak bersisa. Bahkan bukan itu saja, hutang kami juga menumpuk karena dia," cerita wanita itu panjang lebar.
“Lalu yang dia katakan tentang balas budi atas apa yang ia berikan kepadamu? Dia bilang dia menghabiskan uang yang ia punyai untuk keperluan pendidikanmu,” ucap Raja keheranan.
“Apa yang ia katakan hanyalah omong kosong. Saya bahkan kuliah sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan biaya pendidikan. Saya bahkan mengambil beberapa pekerjaan sambilan untuk membayar bunga hutang paman saya itu,” ucap Stella.
Raja semakin kasihan saat mendengar cerita Stella. Tiba-tiba saja ia jadi mengingat kembali kisah hidupnya. Kisah hidup yang sepertinya tidak terlalu berbeda jauh dari apa yang Stella alami. Hanya saja, dengan bantuan Leon dan pengacara keluarga ia jadi tidak terkekang oleh para pamannya.
“Maafkan saya, Tuan. Gara-gara saya, pria tua itu mengambil banyak uang dari Anda. Saya berjanji bahwa saya akan mengembalikan uang Tuan begitu saya memiliki uang. Atau bahkan saya bersedia untuk mencicilnya meski harus menghabiskan waktu seumur hidup saya,” ucap Stella.
“Nona, untuk uang itu. Saya sudah tidak mempermasalahkannya. Jadi Anda tidak perlu lagi memikirkannya. Saya tidak pernah menganggap Anda berhutang kepada saya,” ucap Raja.
“Tapi, Tuan ... itu bukan jumlah yang sedikit ....”
“Sudahlah, saya tidak ingin membahasnya lagi. Nah, sudah selesai. Silakan beristirahat, hari sudah malam. Jika memerlukan apa pun, panggil saja Pak Jo atau Leon.” Pria itu berdiri lalu meninggalkan kamar Stella bahkan sebelum gadis itu sempat berterima kasih.