BAB 72

1203 Words
Jangan-jangan ... kucing ini kucing bodoh, ucap Hitam dengan mulut yang menganga lebar. “Meong ....” Kucing itu kembali mengeong dan menurut Hitam, suara kucing itu membuatnya terlihat semakin bodoh. Kucing di hadapan Hitam itu semakin mendekat, lalu mengibaskan ekor panjangnya ke kanan dan ke kiri. Sepertinya kucing itu ingin menarik perhatian Hitam. Bahkan dengan agresif kucing berwarna putih itu mulai mengusapkan kepalanya di tubuh Hitam. Menggosok-gosokkan berulang kali pada bulu si Hitam. Hitam menjadi risih dibuatnya. Hei, apa yang Kamu lakukan? tanya Hitam. Kucing itu semakin aktif menggerakkan tubuhnya dan Hitam sepertinya tahu apa yang kucing itu inginkan. Hitam dapat membaca gerak gerik kucing jantan itu. Tidak mau! tolak Hitam dengan tegas. Hitam melihat kucing jantan itu tanpa berkedip, baru saja kucing putih itu mau mendekat, Hitam langsung lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Aaaa ... tidak! Aku masih kecil jangan berbuat hal itu padaku. Hitam terus berlari tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Ia benar-benar takut pada kucing jantan itu. Hah, hah, hah. Astaga kenapa aku harus bertemu dengan kucing gila seperti itu? Hitam merasa kelelahan setelah beberapa lama ia lari terbirit-b***t. Tapi aneh sekali. Kenapa kucing itu seolah tidak paham dengan apa yang aku katakan? Apa dia memang bodoh? Atau dia gila? Atau mungkin ... memang tidak semua binatang memahami bahasaku? Kini hitam jadi penasaran dengan persepsinya. Aku harus menyelidiki ini, ucap Hitam. Ia bertekad untuk menemukan binatang lain dan mengajaknya bicara. Ia akan mengetahui apa mereka memahami bahasanya atau tidak. Hitam berjalan menyusuri kampung itu, setelah beberapa lama ia berjalan, ia berjumpa dengan seekor ayam betina yang sedang menjaga anak-anaknya. Hei, Ayam. Apa Kamu bisa mendengar suaraku? Apa kamu paham dengan perkataanku? Hitam langsung bertanya pada ayam itu untuk memenuhi rasa penasarannya. “Petok, petok, petok!” Bukannya menjawab, ayam betina bertubuh gemuk itu malah mengeluarkan suara khasnya. Hei, jangan jawab pertanyaanku dengan bahasa binatang. Jawab aku dengan bahasa manusia! perintah Hitam lagi. Ayam betina itu berkotek lebih keras lagi. Anak-anaknya yang semula bermain di sekitar tempat itu langsung berkumpul dan bersembunyi di bawah ketiak sang ibu. Ayam itu, sesekali mengibaskan sayapnya, seolah tengah mengusir Hitam. Rupanya ayam betina itu menyangka jika ia akan memangsa anak-anaknya. Hei, aku tidak ingin melakukan sesuatu pada kalian. Aku hanya ingin kalian menjawab pertanyaanku. Aduh, bagaimana sih? Kenapa aku tidak bisa berkomunikasi dengan mereka seperti saat aku berkomunikasi dengan tuan katak dan ular. Dengan kucing gila tadi pun tidak, ucap Hitam merasa frustasi. “Petok petok petok!” Suara ayam betina yang dilanda kecemasan semakin terdengar. Hitam jadi pusing dibuatnya. Ia memutuskan untuk pergi saja dari tempat itu. Ia harus rela saat misi keduanya gagal lagi. Bruk! Baru saja Hitam membalikkan badan dan ingin pergi, punggungnya terasa sakit seperti dihantam sesuatu. Hitam menoleh, seorang wanita gemuk dengan daster di tubuhnya berdiri berkacak pinggang menatapnya penuh amarah. Wanita itu memegang sebuah kayu pemukul di tangannya. Sepertinya wanita itu tadi memukulnya dengan kayu itu. “Oh, jadi Kamu ya, yang membuat ayamku ketakutan? Atau mungkin juga Kamu yang membuat anak ayamku selalu berkurang di setiap harinya?” omel wanita itu. Enak saja! Aku baru pertama kali ke tempat ini dan Kamu langsung menuduhku. Aku tidak pernah melakukan apa pun pada peliharaanmu ini, omel Hitam tak terima seraya menahan nyeri di tubuhnya akibat pukulan wanita tersebut. “Dasar kucing kurang ajar! Awas saja Kamu!” Wanita itu hendak memukul Hitam lagi. Hitam secepat kilat, lari tunggang langgang dari tempat itu sebelum ia menjadi objek amukan wanita menyeramkan itu. “Mau lari ya?” Bugh! Wanita itu melemparkan pemukul kayu itu ke arah Hitam hingga mengenai kaki belakangnya. "Meong!" (Arghhh!) erang Hitam saat sakit di tubuhnya bertambah-tambah. “Rasakan! Rasakan! Bias mamp*s sekalian,” umpat wanita pemilik ayam dengan kejam. Apa salahku hingga Kamu menyakiti aku? Apa Kamu melihatnya sendiri aku memakan anak ayam itu? Tidak kan? Tapi kamu menuduhku sembarangan tanpa bukti. Ternyata benar kata sang ular, manusia itu adalah makhluk yang kejam yang bahkan tega menyakiti kami para kaum binatang untuk memuaskan emosinya, ucap Hitam seraya berjalan terpincang-pincang menahan rasa sakit di kakinya. Ia harus pergi dari tempat itu dengan segera. Hitam takut, jika wanita tak berperasaan itu akan menyakitinya lagi. Ya Tuhan, ternyata kehidupan luar tidak semulus yang aku pikirkan. Ternyata seratus kali lipat lebih nyaman tinggal di rumah Tuan Raja yang seperti istana. Di sana ada Boni yang menyayangiku, meski diikat sekali pun tidak apa asal mereka tidak akan menyakiti aku, gumam Hitam seraya meneteskan air mata. Tubuh Hitam terasa sakit semua, ia bahkan berpikir jika mungkin saja tulang di tubuhnya akan hancur gara-gara pukulan wanita itu. Kamu orang baru di dunia ini, ya? Kenapa Kamu baru tahu bahwa dunia ini sangat kejam? Sebuah suara yang terdengar renyah dan ramah menyapa telinga Hitam. Hitam melihat ke sekelilingnya, mencari sosok itu. Akan tetapi, tak ada siapa pun di gang sempit itu. Hanya ada dirinya. Si- siapa Kamu? Kenapa Kamu tidak menampakkan wujudmu? tanya Hitam dengan tubuh bergetar ketakutan. Hahaha. Justru sosok itu malah tertawa terbahak mendengar pertanyaan Hitam. Apa Kamu monster? Atau kamu hantu? Atau kamu manusia yang sedang bersembunyi dan akan menyakitiku? tanya Hitam lagi. Kalau aku monster, sudah tentu aku menampakkan wujud menyeramkanku padamu. Jika aku hantu, mana mungkin aku datang menemui di siang hari buta begini. Jika aku manusia, mana mungkin aku bisa berbicara denganmu, mendengarkan ucapanmu .... Ah, benar juga. Lalu makhluk apakah Kamu? Kenapa aku tidak bisa melihatmu? Sudah berapa kali Hitam melihat ke sekeliling tapi tak menemukan apa pun. Hei, Bodoh! Mendongaklah, aku ada di atas. Sontak saja, Hitam mendongakkan kepala melihat ke atas. Di atas pohon ia melihat burung berwarna hitam, sehitam bulunya sedang bertengger di sana. Apakah itu Kamu yang berbicara denganku sejak tadi? tanya Hitam. Iya, tentu saja. Siapa lagi? Tidak ada orang lain di sini, ucap burung itu. Oh, ternyata Kamu seekor burung .... Hitam tampak kecewa. Tunggu dulu! Jadi Kamu paham bahasaku? Kamu bisa berbicara denganku? Tentu saja. Kalau aku tidak paham, bagaimana caranya aku berbicara denganmu sejak tadi? tanya burung itu. Tapi ... semua makhluk bahkan tak memahami perkataanku. Kucing itu, ayam itu, mereka hanya bisa berkotek dan mengeong, ucap Hitam. Tentu saja, mereka kan hanya hewan biasa. Sementara kita, diciptakan dengan cara yang luar biasa. Eum, lebih spesial atau istimewa, ucap burung itu. Luar biasa? tanya Hitam penasaran. Iya, itu artinya kita bukan sepenuhnya memiliki wujud seperti ini, jawab burung itu. Maksudmu? Kita berdua sebenarnya bukan hewan seperti ini, begitu? tanya Hitam lagi. Kemungkinan seperti itu, jawab burung itu dengan suara yang terdengar meragu. Jadi, ada kemungkinan juga aku bisa berubah menjadi wujud lain? Manusia misalnya? tanya Hitam penuh semangat. Ada harapan baginya untuk berubah menjadi manusia. Entah mengapa ia sangat menginginkannya. Ia sangat ingin bisa berubah menjadi manusia. Ia ingin memiliki kehidupan sempurna seperti manusia. Kalau itu, aku tidak tahu. Dari pengalamanku selama ini, ada hewan yang bisa berubah menjadi manusia. Tapi tidak semua, mungkin satu di antara seribu. Bahkan aku sendiri saja, tidak bisa mengubah wujudku. Hanya saja, aku paham dengan bahasa para manusia. Juga hewan dengan kelebihan sepertimu, ucap burung itu. Harapan Hitam musnah, satu di antara seribu sama saja kemustahilan baginya. Ia tak lagi berharap untuk bisa berubah menjadi manusia. Lagipula, mimpinya terlalu tinggi. Seekor kucing tidak akan pernah pantas menjadi seorang manusia. Selamanya mungkin tidak akan pernah pantas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD