Chapter 4 : Question and Contract

522 Words
Fredick perlahan membuka topeng yang Alesha gunakan di pesta tadi. Beberapa kali Alesha memalingkan wajahnya dan tersipu malu. Fredick mulai mengikat kedua tangan dan menutupi mata Alesha dengan kain merah. Semuanya gelap , dan ini adalah kali pertama untuk Alesha. Walaupun Alesha cukup ketakutan, ia berusaha menetralisir dengan menarik nafas dalam. Fredick bisa membaca gerak gerik Alesha. Fredick tahu Alesha masih perawan, namun ia sudah berniat mendekap gadis itu dan menjadikannya miliknya, jadi tidak masalah jika melakukannya sekarang. Walau ini bukan bercinta, ini hanya "seks". Karena mereka tidak melakukannya atas dasar cinta.  "Kita akan terikat kontrak setelah ini, kau akan bisa memilikiku setelah menandatangani kontraknya," ujar Fredick. Alesha tersenyum karena telah berhasil menjebak Fredick. Fredick sekarang akan masuk dan menjadi miliknya. Dan itu akan menjadi lebih mudah untuk menyingkirkan sosok Fredick. "Ayo kita mulai," ujar Alesha merekayasi sedikit suaranya agar terkesan sangat menginginkan Fredick. Ia ingin Fredick percaya bahwa dia sangat menantikan saat ini dalam hidupnya. Tidak langsung memulai. Fredick berhenti sejenak. "Tetapi ada beberapa syarat yang harus kau taati," ujar Fredick Alesha rasanya ingin menyerah. Fredick sangat teliti dan hati hati. "Mari bicarakan itu semuanya nanti, bisakah kita selesaikan permainan ini terlebih dahulu?" Tanya Alesha. Alesha kesal jika mental yang sudah yang kumpulkan sejak lama harus gagal dan ia kembali harus mengumpulkan niat melakukan ini lagi dilain waktu. Fredick tidak banyak bicara dan langsung mulai menindih tumbuh wanita itu. Tidak banyak yang mereka katakan dan hanya menikmati permainan yang ada. Permainan itu berangsur satu jam sejak dimulainya tadi. Teriakan hebat memenuhi ruangan. Darah mengalir layaknya air mancur . Permainan itu mungkin adalah permainan paling menarik yang pernah dimainkan oleh seorang Fredick. Ada sedikit penyesalan dalam pikiran Alesha. Alesha merasa ia menukar mahkotanya demi dendam kakaknya. Namun, ia rela karena ia telah berjanji diatas pemakaman kakaknya bahwa ia akan membalas pria yang telah membuat kakaknya meninggal. Alesha tidur setelah perenungan yang panjang dan Fredick meninggalkan ruangan setelah bermain. *** Matahari menyinari ruangan yang indah itu. Pemandangan dari atas memang sangatlah indah. Terlebih lagi saat ia terbangun ia berada diruangan berbeda dari saat ia tertidur. Alesha menjadi bingung kenapa ia bisa bergerak sejauh ini. Ia yang tadinya berada di kamar lantai dua sekarang berada di kamar seatas ini. Walaupun indah pemandangan, itu menjadi pertanyaan yang melintas. Seorang maid mengetuk pintu dan membawakan sarapan serta pakaian untuk Alesha. "Bagaimana aku bisa berada disini?" tanya Alesha penasaran . "Tuan Reagan yang telah mengangkatmu kemari , nona . Nona juga merupakan orang pertama yang tuan izinkan masuk kesini setelah Nyonya Reagan dulu," balas pelayan. Belum sempat Alesha menanyakan kembali Fredick sudah berada di belakang. Pelayan mundur perlahan dan berjalan keluar. Untuk sesaat Alesha baru mengetahui bahwa Fredick ternyata sudah menikah. Tetapi pertanyaannya adalah, siapakah istrinya dan dimanakah istrinya. Hanya dua hal itu yang menjadi pertanyaan yang terlintas. Fredick bisa membaca raut wajah penasaran yang Alesha miliki namun tidak banyak bertanya. Fredick melemparkan sebuah map yang berisi kontrak yang akan ditanda tangani nanti didepan pengacaranya. Alesha membuka dan membaca. Ia cukup terkejut dengan beberapa hal yang tertulis pada kontrak itu. Namun Alesha tidak punya pilihan lain. Ia tetap harus menanda tanganinya nanti karena dendam memang harus terbalaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD