"Apa maksudmu?" tanya Alesha berusaha mencairkan desiran ketegangannya.
"Aku mengetahui tujuanmu sejak awal, aku tidak sebodoh yang kau kira, urungkan saja niatmu, dan jadilah wanitaku ," balas Fredick
"Kau tidak akan perlu merasa takut dengan apapun , kuasaku sangat luas diberbagai belahan dunia, kau tidak akan disakiti , pilihan ada ditanganmu, putuskanlah, dan urungkan niatmu itu, " lanjut Fredick
"Niat apa maksudmu?"tanya Alesha.
"Baiklah jika tidak mau mengakuinya,lanjutkan rencanamu dan kupastikan kau akan menyesal," ujar Fredick.
Fredick berdiri kemudian memberikan Alesha sebuah kartu.
"Mulai hari ini kau akan menjadi sekretaris pribadiku, bersiaplah untuk melayaniku setiap hari. Kupastikan kau akan bahagia. Kita akan banyak melakukan quick s*x dan juga s*x in office, mungkin kau akan menikmatinya nanti," ujar Fredick melempar senyuman yang menyeringai
Alesha mengepalkan tangan dengan keras namun berusaha tersenyum.
"As you wish, Sir " balas Alesha.
Alesha terpaksa harus melakukan apapun yang diminta karena ia sudah maju begitu jauh, sangat disayangkan jika harus mundur detik ini.
Fredick mengambil jasnya dan kemudian menarik Alesha keluar. Fredick mengendarai mobilnya cepat dan membawa Alesha menuju kesebuah ruang bawah tanah.
Alesha tidak memberontak dan hanya ikut, menurutnya semua akan baik-baik saja. Alesha tidak akan mati disana hanya karena dibawa ke tempat gelap.
"Lepaskan," ujar Alesha karena tangannya ditarik cukup kuat.
"Tidak," balas Fredick
"Aku tidak akan kabur," ujar Alesha
"Baiklah," balas Fredick dan kemudian akhirnya memutuskan untuk melepaskan tangan Alesha.
Alesha seperti pernah melewati ruang bawah tanah namun ia tidak terlalu ingat karena dulu ia melewatinya dalam hanya setengah kesadaran.
Alesha mulai menyadari bahwa ini adalah salah satu jalan rahasia dari rumah Fredick yang besar layak istana. Alesha mulai mengingat sisi dari setiap tempat yang ada agar tidak tersesat saat suatu hari akan menggunakan jalan ini untuk misi terbesar dan tujuan utamanya masuk dan mengorbankan diri demi dendamnya yang akan segera terbalaskan.
Sepanjang jalan, Alesha sangat terfokus dan tidak sedikitpun mengeluh jauh walau sudah berjalan sekitar empat puluh lima menit di lorong.
Akhirnya mereka sampai pada suatu ruangan. Fredick belum memasuki ruangan itu, namun Alesha bisa merasakan ada aura negatif dari dalam ruangan.
Fredick membuka pintu perlahan, dan melihat seseorang . Seseorang yang diikat disana, Alesha mengenali orang itu, walau belum melihat wajahnya dan orang itu terikat tidak sadarkan diri.
"Karetha," panggil Alesha.
"Kau mengenalnya bukan?"tanya Fredick
Alesha menatap dan memicingkan matanya terhadap Fredick. Ia kesal jika ada yang menyakiti Karethanya siapapun itu.
"Atas dasar apa kau membawanya kesini dan berani sekali kau mengikatnya? Dia teman baikku," tanya Alesha kesal
"Kau terlalu bodoh untuk membedakan yang mana teman dan yang mana lawan, sayang," balas Fredick sambil menyentuh lembut wajah Alesha.
"Maksudmu?" tanya Alesha dengan kebingungan.
"Apa kau tidak pernah menyadari keganjalan dari temenmu ini?" tanya Fredick
Alesha kemudian menarik Fredick keluar ruangan.
"Apa maksud dari perkataanmu?" tanya Alesha menaikan nada suaranya karena sudah mulai kesal karena emosi sedari dipancing.
"Kau akan menemukan jawabanmu sendiri, hanya saja perlu kuingatkan satu hal padamu, perhatikan dan kenali musuhmu," balas Fredick.
Kemudian Fredick menarik Alesha dan membawanya keruangan lainnya.
"Karena kau merusak hariku, I'll put you on the jail and be my submissive today!" pintah Fredick
"Excuse me?" balas Alesha dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan
"You're in my jail. Under me and inside me, and you are my submissive," balas Fredick
Alesha tersenyum dan membalas.
"Well, that's fine!"