Tidak terlalu lama setelah Russell meninggalkan ruangan, Fredick masuk ke dalam kamar.
"Kau mungkin berpikir aku tidak menyadari apapun, tetapi faktanya aku tidak sebodoh itu," ujar Fredick sambil tersenyum.
Ia mendekati Alesha yang masih duduk diranjang dan mengusap kepala Alesha pelan.
"Maksudmu?"balas Alesha terbata-bata. Ia ingin memastikan apa yang Fredick katakan.
"Kau terjebak bukan saat berjalan? untungnya ad aayang melihatmu. Aku yakin tadi kau pasti berusaha untuk tidak datang kemari tapi malah berakhir disini," balas Fredick
Alesha menghela nafas , ia merasa bersyukur. Untuk sekejap ia merasa seperti disetubuhi bahkan tanpa ada sentuhan. Ia merasa terlalu gemetaran karena ia berpikir sudah tertangkap bahkan sebelum permainannya dimulai.
Karena tidak memiliki pilihan lain, Alesha hanya mengangguk dan menunjukan senyum kaku pada Fredick.
"Wanna play a round ? Jail or Bed? It's your choice, hun. " ajak Fredick .
Alesha bingung akan menjawab apa.
"Aku haus, mau minum," ujar Alesha. Alesha berdiri dan kemudian keluar sebentar untuk mengambil air.
Saat membuka pintu, ia terkejut, semuanya berbeda. Ini bukan mansion yang kemarin ia lihat. Ia pun memutusman menoleh ke belakang kembali dan melihat Fredick masih menunggu. Ia tidak keluar melainkan masuk ke dalam kamar kembali.
"Aku tidak jadi haus," ujar Alesha.
Fredick tertawa, menyadari kekonyolan Alesha yang tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya tidak haus. Fredickpun mengambil segelas air yang ada dikamar dan memberikannya pada Alesha.
"Tidak perlu jauh, disini juga ada air," ujar Fredick menatap Alesha
Alesha meminum air yang diberikan kemudian menutup matanya sejenak.
"I chose bed, hun. " balas Alesha setelah beberapa saat.
Alesha tidak banyak bicara setelah itu, ia langsung mendekati Fredick dan bersiap seolah akan melahap Fredick saat itu juga. Alesha mendekatkan kepala dan kemudian menyilangkan kedua hidung mancung mereka . Mata saling menatap dalam dan bibir menyatu.
Alesha mulai perlahan memangut bibir yang dimiliki Fredick dengan penuh aura keposesifan dan itu membuat Fredick mulai terbang.
Fredick merasa seperti pecandu, namun bukan pecandu obat, namun pecandu bibir Alesha. Karena bibir Alesha mampu membuatnya terbang sangat tinggi dan saat Alesha berhenti sejenak karena kehabisan nafas, ia merasa seperti terlempar jatuh dari ketinggian yang tidak dapat diprediksi.
Seusai jeda nafas. Mereka melanjutkan hal yang mereka lakukan hingga nafas mereka berdua kembali terengah rengah.
Fredick mulai menurunkan tangannya , perlahan melucuti seluruh pakaian yang dikenakan Alesha tanpa henti. Hingga saat ini yang tersisa hanya bra dan celana dalam yang Alesha kenakan sejak tadi.
Keduanya masih saling menikmati manisnya bibir bahkan setelah semuanya terbuka.
Fredick memang masih mengenakan pakaiannya,namun jika Alesha , semuanya kini terlihat jelas.
Kedua tangan Fredick berpindah dari punggung ke depan . Ukurannya sangat pas untuk digenggam oleh tangan Fredick. Fredick memainkannya . Alesha jelas menutup mata dan hanya mengikuti irama dan cara main Fredick. Tanpa menolak, ataupun menyerang.
Alesha menikmati permainan ini, dan walaupun pada akhirnya harus mati. Kini ia sadar, ia tidak akan menyesal. Karena dalam dendam ini,salah satu memang harus mati. Namun selama masih bisa bahagia, maka itu adalah bonus dari yang diatas untuk menikmati sisa hidup.