Bagian Dua

815 Words
"Apakah nyidam emang sesusah ini?" . . . Hari minggu siang merupakan situasi yang menyebalkan. Di samping karena besok udah Senin, pada jam-jam tanggung seperti ini, Mas Reno pun punya kebiasaan untuk menjalankan program me time-nya. Halah! Udah nikah dan mau punya buntut aja dia bergaya pake main me time-me time-an segala. Bikin pengen masak air biar matang terus kusiramkanlah ke gadget laknatullah-nya itu. Mengamalkan pose terdampar di atas sofa, mataku pun bolak-balik melirik televisi jua, wujud pria berberewok unyu yang sedang anteng senam jari di atas karpet berbahan kulit kambing yang untungnya udah tak berbau perengus, tepat di sisi kakiku sana. Ih! Lagian masa sedari dua jam Mas Reno online nggak beres-beres. Nggak tahu boros kuota yah dia? Mendengus singkat, aku pun mencolek bahunya dengan ujung jempol kaki. Biar kata Mama tindakan ini sangkat b***t nan laknat untuk diamalkan kepada suami tapi, sekarang aku cuma bareng Mas Reno. Mama nggak tau. So, aku nggak bakal dikutuk karena berperilaku begini. "Mas?" kataku pelan nan penuh rasa sayang. "Hm?" sahutnya acuh tak acuh. Oh em gi! "Mas Reno, sayangnya Adek?" cobaku lagi. "Hmmm?" responnya senada walau kini sedikit lebih panjang. "Mas Reno cintanya Adek, anuanya Adek, mblaem-mblaemnya Adek, tukang sengatnya Adek!" "Apa sih, Dek?" tanyanya menyerah dan kentara sekali telah letih sambil terpaksa menengok ke arahku. "Mas lagi ada penting ini. Katanya tadi mau Mas temenin nonton, nih udah Mas temenin. Pengen apa lagi?" "Temenin itu dalam arti yang sebenernya kali Mas. Bukan kiasan. Mas chating Adek dicuekin! Kesel tau!" rajukku tak lupa sambil memanyunkan bibir sepanjang tol Jagorawi. "Ya udah biar nggak kesel, sini Mas pijitin bahunya," negonya seraya ikut duduk di pinggir sofa. "Ogah! Nggak butuh sentuhan-sentuhan manjamu yang sangat terlambat itu!" hardikku sambil lekas bangkit dari posisi terlentang demi mengeluarkan sepaket pelototan gemas pada Mas Reno. "Oke. Terus maunya apa kalau gitu? Coba Adek bilang, supaya Mas bisa kabulin." Mungkin ini salah satu keuntungan dari menikahi pria tua-tua keladi sejenis Mas Reno. Sabarnya seluas gurun Arabia, sedalam samudra Hindia dan setinggi awan di angkasa. Tertawa j*****m dalam hati. Aku lalu berdehem cantik sambil berujar, "Itu. Adek mau itu." Mengikuti petunjuk jariku, Mas Reno pun menoleh ke arah layar televisi yang sedang menampilkan tayangan salah satu channel swasta nasional. "Bihun?" tanyanya sedetik kemudian sarat akan nada heran yang membuatku sejuta kali lebih bingung. Bihun? Mendongak ke arah siaran televisi, di sanalah mataku teracuni. Astaga nagabonar Deddy Mizwar Tora Sudiro! Yang aku maksud bukan program India yang sedang menunjukan adegan Mas-Mas berkumis tipis lalu geleng-geleng sambil joget! "Bukan Mas! Tadi loh ada iklan sebelum ini. Dan lagipula doi bukan Bihun Mas. Namanya Bihan suami Thapki," jelasku yang memang sangat tak penting. Mas Reno hanya manggut-manggut sok mengerti padahal mah dia suka lola bila berhubungan dengan urusan dunia pertelivisian macam begini. Namun, masa bodo sama ketelmiannya yang penting aku dengar suara seksi, ganteng, nan syahdunya yang berujar, "Oh. Terus yang Adek maksud apa? Iklan apa?" "Pizza," jawabku cepat seraya menambahkan, "pitsza hat Amerika yang diracik di Indonesia." "Nggak Dek!" tolak Mas Reno pasti tak terbantahkan. "Mau Amerika, Italia, Cikarang, Bekasi atau dari mana pun tetep nggak boleh." "Ih Mas Reno mah! Nggak boleh terus! Ini nggak boleh-itu nggak boleh. Nanti Adek kurus loh. Nggak cakep kan bumil kurus. Dikira gizi buruk nanti. Dikira Mas nggak becus menghidupi Adek loh nanti sama Papa, gimana hayo? Mas ihhhh!" "Dek, Mas larang kan juga ada alesannya," ujarnya berupaya menerangkan. Lagi lagi dia berlagak macem sales kosmetik, menjelaskan mulu kerjaannya. "APA? APA ALESANNYA? PRIA TUH ALESAN MULU DEH! HERAN! HOBI YAH! NGERASA JAGO YAH?" "Rena!" Mas Reno nggak membentak apalagi berteriak. Dia menyebut namaku dengan merdu juga santai sekali namun, anehnya aku luluh. Aku suka kalau Mas Reno udah mulai panggil-panggil namaku begitu. Sebab, bila udah tiga kali sih biasanya aku dapet bonus nomplok di bibir. Rejeki anak sholeh gitulah! Menghela napas sekali, Mas Reno mengusap rambutku sambil berkata, "Pizza itu topping-nya kadang pake kerang, kan? Seringnya malah pake daging. Dan Mas nggak mau ambil risiko. Kalau dagingnya belum mateng sempurna gimana? Kalau kerangnya setengah mateng? Ibu hamil harus makan masakan yang kematangannya pas biar bebas bakteri. Kalau pun Adek pengen banget pizza. Biar Mas yang buat aja gimana?" "Mas mau buatin?" "Apa sih yang nggak buat Adek sama buat calon anak kita. Naik onta aja Mas jabanin deh." "Cius Mas?" Mas Reno mengangguk pasti tapi senyumku yang selebar bola basket mendadak raib. Apa barusan? Mas Reno yang masak pizza? Sejak kapan pria sejati ini mampu masak makanan luar negeri? Ha-ha-ha yang ada bukannya sehat, aku malah bisa aja sukses masuk rumah sakit sebelum menginjak bulan lahiran! Oh no way! "Jangan Mas! Adek udah nggak nyidam pizza lagi ah! Adek mau itu aja deh, berendem air anget! Nggak jadiiii makan! Waktu Adek konfirmasi ulang ke dedek, ternyata dia juga udah kenyang!" ujarku sambil buru-buru mengambil langkah seribu bergegas menuju lantai atas. Huh! Apa ini? Nyidamku gagal maning, gagal maning. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD