Bagian Empat

839 Words
"Siapa pun dia dulu, sekarang Mas Reno adalah calon ayah anakku." . . . Namanya Reno Adipati, lima bulan lagi dia bakal genap menginjak usia 34. Sejak dua belas tahun lalu, dia telah merintis usaha mandiri hingga kini berhasil mendudukkan diri pada puncak tertinggi jenjang karirnya. Meski dia terbilang sukses begitu, jujur saja kadang aku kerap sebal sekaligus mati kutu bila harus berhadapan dengan Papa dan Mamaku yang super kolot itu. Bagi mereka gunung harta suamiku masih kalah saing dari bling blingnya tunjangan PNS. Walau sudah kubujuk rayu, sudah kujelaskan pelan-pelan sampai sekilat cahaya hingga mulut ini keluar busa bahwa hari gini wirausahawan tuh tak kalah kecenya dari abdi negara. Namun tetap saja, orangtua Indonesia sejati itu tak bisa berpaling untuk mengidamkan mantu berseragam. Padahal dulu, saat aku sempat dilamar Mas Marsel sang security berseragam hitam-putih ujung-ujungnya tetap ditolak juga tuh. Orangtuaku itu memang suka aneh. Dikasih durian malah minta kulitnya aja. Entahlah. Masa bodo yang penting aku dan Mas Reno telah menikah dan dalam hitungan bulan aku pun bakal melahirkan buah cinta kami. Baik protesan, ejekan atau apa pun jenis demo Papa dan Mama soal PT Go Tahu yang Mas Reno jalankan nggak akan berefek banyak untuk ikatan kami. Ngomong-ngomong soal Go Tahu, belakangan aku jadi tak terlalu suka kalau Mas Reno sok ikut-ikutan terjun ke lapangan untuk menjual tahu bulat. Sumpah jabatannya udah mentereng sebagai Owner and Founder tapi masih doyan aja nyolong-nyolong waktu untuk menjajakan dagangan tahunya keliling kota dengan kolbak. Kejar target demi masa depan calon anak kita, dalihnya setiap kali kumarahi. Emang dasar pria, expert banget cari alasan! Nggak tau dia jika sebagai istri aku itu khawatir. Apabila kisah FTV-FTV pagi hari yang kerap kutonton tiba-tiba menimpanya bagaimana? Aku nggak mau sampai ada cerita 'Kepincut cinta di kolbak tahu'. No way! Ora sudi! Maka, di sinilah aku. Mogok untuk menyeterika kemeja kerjanya sambil terus membalas tatapan bersorot lembut dari mata kecokelatan milik Mas Reno yang baru aja keluar dari kamar mandi, lengkap bersama lilitan handuk Doraemon yang kubelikan awal minggu lalu. Ya Allah badanya yang kotak-kotak itu menjadi sangat macho dan unyu secara bersamaan membuat tanganku gatal untuk main raba-rabaan. "Mas bisa nyeterika sendiri loh, Dek kalau Adek emang lagi nggak mood, hm?" Suara damai ala motivator punya Mas Reno serta merta mengembalikan otakku ke jalan yang benar. "Jangan! Selama Adek masih napas Mas Reno nggak boleh sentuh-sentuh setrikaan pokoknya," tolakku nyaring membuat suami gantengku tersebut sedikit meringis geli. Idih! Apaan sih Mas Reno? Sadar yah kalau dia jadi makin cakep bila bertingkah macem begitu? "Ya udah Mas pake baju lain aja yah dari lemari?" negonya. "Nggak boleh! Adek udah pilihin kemeja yang harus Mas Reno pake hari ini. Hargain dong!" "Oke oke. Tapi Mas mesti cepet berangkat loh, Dek buat ketemuan sama distributor baru. Kalau Adek nggak seterika sekarang, ntar Mas telat. Gimana dong?" "Halah! Bokis banget! Mau ketemu distributor apa mau dagang tahu bulat pake kolbak?" todongku galak tak lupa sambil memeragakan aksi melipat tangan di d**a sebagai bukti ketangguhanku. "Mas Reno mah Adek tuh nggak suka dibohongin. Mentang-mentang Adek masih kecil yah jadi Mas Reno ngerasa gampang aja gitu ngibulin Adek? Mas Reno nggak ngertiin Adek banget sih. Kesel, kan!" lanjutku kali ini mulai serak. Sumpah sebenernya aku paling anti marah sama Mas Reno tapi semenjak hamil napsu murkaku justru jadi bertumpuk-tumpuk minta diledakkan. "Jangan emosi gitu Dek kasihan calon anak kita yah?" bujuk Mas Reno sambil mendekat dan memelukku erat sampai-sampai aku merasa tenggelam dalam lautan harum menyegarkan khas sabunnya. Hmmm, lemon. Sekilas mengingatkanku akan sabun cuci piring. Namun, lemon yang menguar dari tubuh Mas Reno tentunya tak semurah dan sepasaran itulah. Aroma ini ... aku yakin tak mampu di-endorse oleh artis mana pun. "Dan Mas juga jual tahu bulet, kan biar masa depan anak kita makin cemerlang nanti." Tuh, kan alasan pamungkas nan menjengkelkan itu lagi. Heran deh! Padahal tanpa dia melancong, pamer suara merdunya ke seluruh pelosok kota. Aku sih percaya-percaya aja jika masa depan calon anak kami pasti bakal terjamin kok. Kenapa sih dia mesti memforsir pita suara indahnya juga b****g sexy-nya untuk berlaku maksimal macem begitu? Ishhhh! Mas Reno mah gitu! "Lagipula cuma sebulan doang kok, Dek. Mas lagi persiapan demi dapet MURI," lanjutnya sambil melonggarkan dekapannya padaku lalu, menyisir pelan rambutku dengan jari-jari panjang nan hangatnya. "MURI apa?" tanyaku. "Ada deh. Nanti juga Adek tau," jawabnya diiringi segaris senyum miring. "Ih Mas Reno! Jangan main rahasia-rahasiaan. Kata Veny, kalau pria udah mulai berani punya rahasia itu tandanya dia rawan selingkuh. Mas, Adek nggak mau diselingkuhin," kataku keras sambil mengalungkan tanganku ke leher Mas Reno serta memeluknya makin ketat. "Enggaklah, Dek. Veny aja itu yang nakut-nakutin karena iri kamu udah nikah. Udah-udah jangan mikir yang gitu-gitu ah bahaya buat anak kita kalau Adek sampe stres yah? Sekarang Adek mau apa? Biar Mas kabulin." "Cius bakal diturutin?" tantangku sambil tersenyum selebar lahan gambut yang sempat terbakar di Riau sana. "Janji," ucap Mas Reno pasti membuatku terkikik puas dalam hati. "Jangan ngantor!" "Hm?" "Adek mau dikelonin!" *** Si Adek ini kok ya minta dikelekin banget karakternya. Udah ah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD