Bab 2 - Mencoba untuk Bertahan

1166 Words
Andini benar-benar dibuat hancur oleh seorang pria yang seharusnya menjadi pelindung untuknya, ucapan dan perilaku Alyas yang di luar nalar membuatnya ingin berteriak. Namun, keadaannya tidak memungkinkan. Jangankan untuk teriak, sekedar untuk menangis, Andini harus menggigit bibirnya agar tidak menimbulkan suara. Andini kemudian teringat akan isi berkas yang diajukan oleh Alyas yang membuatnya semakin tampak menyedihkan. Ia pun duduk di atas lantai, memeluk lututnya dan menangis meratapi nasibnya yang membuatnya hampir frustasi. Tercatat dalam surat perjanjian kontrak pernikahan, Andini harus merawat anak dari Alyas yang berusia satu bulan, Andini harus menjadi sosok istri dan ibu yang baik di depan umum, yang paling membuat Andini hancur adalah dimana setelah 6 bulan pernikahan dirinya akan diceraikan. Jika Andini tidak menyetujui kontrak tersebut, mahar uang lima ratus juta harus dikembalikan. Andini ingat betul bahwa uang lima ratus juta itu sudah ia serahkan kepada kedua orang tuanya untuk menebus rumah yang disita oleh bank. ‘Aku tidak mungkin meminta uang itu lagi dari Ayah, aku juga tidak mau terjebak dalam pernikahan yang tidak sehat ini.’ Kemudian Andini teringat wajah orang tuanya yang sudah berharap banyak dengan pernikahannya. Ia pun kembali mengusap d**a menahan rasa sakitnya. ‘Tapi, aku juga tidak mau membuat kedua orang tuaku merasa khawatir, sepertinya aku harus menelan pil pahit ini sendirian.’ Batin Andini sembari menangis di lantai dengan masih memakai pakaian pengantin. *** Pagi menyinari kediaman rumah putih mewah Alyas, pria berusia 30 tahun itu terbangun di atas ranjang pengantin yang kini sudah tampak berbeda. Ia mengedarkan pandangan, kemudian sejenak tertegun melihatnya. Hiasan bunga-bunga dan pernak-pernik pernikahan sudah tidak ada, begitu juga dengan gadis cantik, berambut panjang yang baru kemarin Alyas halalkan. ‘Dimana gadis itu, ya? apa dia kabur? awas aja kalau dia sampai kabur, saya akan laporkan dia sama polisi,’ gumam Alyas. Dret … Panggilan ponsel Ayas berdering, dapat panggilan masuk dari rumah sakit. “Halo Pak, kami dari rumah sakit Sejahtera. Kami hanya ingin menginformasikan bahwa hari ini anak bapak sudah keluar dari NICU, keadaannya sudah mulai membaik dan jika dalam beberapa hari kedepan keadaannya stabil, anak Bapak bisa dibawa pulang.” “Oh oke, kabari saja jika memang dia sudah boleh pulang,” jawab Alyas. “Ngomong-ngomong kapan Bapak akan menjenguknya?” “Maaf saya sibuk, tapi pihak rumah sakit jangan berburuk sangka dulu, ya! karena mulai hari ini akan ada yang menjenguknya.” “Oh syukurlah kalau begitu, seorang anak walaupun masih bayi, dia sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Apalagi semenjak dia lahir belum pernah dijenguk oleh ayahnya.” Nit … Alyas langsung menekan tombol merah, mengakhiri percakapannya dengan pihak rumah sakit dengan raut wajah yang sangat kesal. Ia pun melemparkan ponselnya ke atas ranjang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan cepat. Ceklek Alyas membuka pintu kamar mandi dan … Braks Dada bidangnya beradu dengan kening seseorang yang hendak keluar dari kamar mandi, sontak kedua bola mata Alyas membulat melihat ada gadis cantik di hadapannya dengan tubuh yang hanya dibalut dengan lilitan handuk berwarna putih. Rambut panjang dan tubuhnya nampak basah, terlihat jelas dari masih adanya tetesan air yang berjatuhan dari ujung rambutnya. “Aw …,” ringis gadis cantik yang tiada lain adalah Andini. Gadis itu menunduk sambil mengusap keningnya. ‘Andini ternyata gadis yang sangat cantik,’ Batin Alyas, sejenak nampak terpesona dengan kecantikan itu, bibirnya tersenyum tipis melihat sikap Andini yang seperti anak kecil sedang kesakitan. Tidak sengaja ia melirik ke arah wanita yang ia peluk dalam pigura foto, seketika itu pula ia langsung tersadar dan menggelengkan kepalanya. ‘Astagfirullah, maafkan saya, sekali lagi saya minta maaf.’ Huf … Alyas menghela napas dalam-dalam, ia kembali memasang wajah yang dingin dan menyebalkan. “Ngapain kamu ada di situ?” Deg Andini sontak diam terpaku, perlahan ia mendongakkan kepalanya untuk melihat Alyas yang tingginya terpaut 15 centimeter dari dirinya. Ia pun spontan menyilangkan kedua tangan di depan dada.“Sa _ saya habis mandi, Mas.” Menjawab dengan terbata. “Selain disini memangnya aku boleh mandi di tempat lain? jika memang boleh, apa itu tidak akan menjadi pertanyaan bagi Ibu kamu?” Alyas menyeringai lebar, “lumayan pintar juga kamu, rupanya kamu telah membaca kontrak pernikahan kita dengan sangat baik. Jadi gimana, apa kamu sudah menandatanganinya?” “Iya, aku memang sudah menandatanganinya walau karena terpaksa. Aku sadar diri kalau aku tidak bisa mengembalikan uang 500 juta itu dalam waktu dekat.” Jawab Andini pelan. “Baguslah kalau begitu, mulai hari ini kamu sudah harus menjalani tugas penting.” Alyas tersenyum merasa menang. “Tugas?” “Iya.” “Tugas apa, Mas?” “Kamu harus pergi ke rumah sakit sejahtera untuk menjenguk anak saya yang baru berusia 1 bulan.” Andini menatap Alyas dalam dalam, ia masih tidak percaya ternyata telah menikah dengan seorang pria yang sudah punya anak. Jika ia ingin mengetahui sesuatu, tentunya harus tampil berani di depan suaminya itu. “Oke, aku akan kesana, tapi kamu harus jawab dulu pertanyaan aku, Mas!” Andini mengusap d**a bidang Alyas kemudian menarik baju yang dikenakan suaminya itu dengan tarikan tangan yang cukup keras. Kedua bola mata keduanya kembali bertemu, jantung keduanya sama-sama berdebar kencang. Alyas merasa jantungnya tidak aman, tak ingin terlihat salah tingkah, pria tampan bak idol Korea itu pun menghempaskan tangan lembut Andini dari dadanya. “Jaga batasan kamu! walaupun kamu istri saya, kamu tidak berhak menyentuh saya!” Kedua mata Andini kembali berkaca-kaca, mendengar ucapan yang seharusnya tidak pernah diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya. “Kalau kamu ingin aku pergi ke rumah sakit, tolong jawab pertanyaan aku dulu, Mas! di mana istri pertama kamu? kenapa bukan dia yang jenguk anak kamu? kenapa harus aku?” “Tugas seorang istri adalah patuh kepada suaminya, selagi itu benar. Maka dari itu jangan banyak tanya, lakuin aja!” Setelah itu Alyas menarik tangan Andini agar keluar dari ambang pintu dan tidak menghalangi jalannya untuk masuk. Jebret Alyas menutup pintu itu dengan sangat keras hingga membuat Andini terhenyak kaget. Alyas memejamkan mata lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu, ia merasa sangat menyesal karena telah mengeluarkan kata-kata yang tidak baik untuk seorang wanita yang ia paksa masuk ke dalam hidupnya. Kemudian Andini meninggalkan pintu itu dengan perasaan yang sangat menyedihkan. Kedua pasangan suami istri itu pun sama-sama menitikkan air mata, tanpa tahu satu sama lain bahwa sebenarnya sedang terluka. ‘Maafkan saya Andini, toh kamu hanya akan menderita selama 6 bulan, setelah itu kamu akan saya bebaskan. Jangan pernah bertanya lagi dimana istri saya? saya bahkan tidak sanggup untuk menceritakan dan kembali mengingat masa-masa pahit itu.’ Batin Alyas kemudian terbayang di kepalanya saat-saat kedukaan menghampiri hidupnya. Di kepalanya muncul bayangan mengerikan, ada sebuah tabrakan mobil yang dahsyat, darah berceceran di jalan, teriakan minta tolong disertai teriakan yang keluar dari mulutnya sendiri sambil memangku seorang wanita yang bersimbah darah. “Tidak …” teriak Alyas. Gedebuk … Andini sontak berbalik badan, ia kembali berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi dan mengetuknya. “Mas, kamu nggak apa-apa, kan? Mas …!” Andini bingung harus berbuat apa karena Alyas tidak kunjung menjawab pertanyaannya. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD