Seanna mengambil kardus berwarna cokleat yang berisikan pakaian milik mendiang ayahnya dari dalam gudang. Dia memilah pakaian mana yang masih pantas pakai untuk diberikan kepada Noah.
"Ini semua pakaian mendiang ayahku. Kamu bisa memakainya setelah mandi. Dan selama berada di sini, kamu bisa tidur di kamar tamu. Aku akan menunjukkan di mana letak kamarmu."
Seanna menggenggam tangan Noah dan mengajaknya pergi ke kamar paling ujung. Meskipun ukuran kamar itu kecil, tetapi semuanya tertata dengan rapi. Perabotannya juga tidak berdebu, karena Seanna dan Julie rutin membersihkannya secara bergantian.
"Kamu akan tidur di kamar ini."
Noah hanya mengangguk, lalu duduk di kursi kayu yang ada di sudut ruangan.
"Di samping kamar ini ada kamar mandi, kamu bisa membersihkan diri sekarang. Aku akan mengambilkan obat untukmu," ucap Seanna menyodorkan handuk kepada Noah.
Wanita itu hendak beranjak pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Noah.
"Bolehkah aku meminta satu hal?"
Noah memandang Seanna dengan tatapan puppy eyes, supaya Seanna tidak menolak permintaannya.
"Ada apa, Noah?"
"Tolong temani aku tidur, aku sangat takut, lihat ke sana!"
Noah menunjuk ke arah jendela yang sedikit terbuka karena tiupan angin. Dia menutup wajahnya dengan satu telapak tangan, seolah takut akan terjadi sesuatu yang menyeramkan.
"Ada monster di sana. Kalau malam dia akan bergerak dan masuk secara diam-diam. Aku sangat takut monster itu akan memakanku, Angel," cerocos Noah merengek ketakutan.
Seanna tersenyum seraya menurunkan telapak tangan Noah. Nampaklah ekspresi cemas dari raut wajah lelaki tampan itu.
"Noah, tidak pernah ada monster di rumahku. Monster itu hanya ada di film atau dongeng," ucap Seanna menundukkan kepala agar sejajar dengan posisi Noah.
"Tetapi bagaimana kalau dia benar-benar ada, Angel?" tanya Noah sembari memilin jari jemarinya sendiri.
"Aku akan mengusirnya dari sini.”
Seanna menaikkan dagu Noah dan menatap netra lelaki itu dalam-dalam.
“Noah, boleh aku tahu siapa itu Angel?"
"Angel? Hmm...Angel itu siapa?" balasnya malah balik bertanya.
Noah mencoba untuk berpikir, tetapi dia terlihat kebingungan untuk mengingat nama tersebut.
"Aku tidak tahu. Nama itu ada di dalam kepalaku. Selalu terngiang-ngiang," jawab Noah memegangi kepalanya.
"Aku sungguh tidak ingat siapa Angel itu. Namun, setiap kali membuka mata, aku selalu melihat wajahmu. Jadi, aku yakin kamu adalah Angel, temanku," jawab Noah tersenyum senang.
Mendadak pria itu memeluk pinggang Seanna dan merebahkan kepalanya di bahu wanita itu. Sontak, Seanna terkejut dengan kelakuan Noah yang ingin bermanja-manja seperti muridnya di sekolah.
"Baiklah, tidak apa-apa kalau tidak ingat. Hanya mulai sekarang kamu harus memanggilku dengan nama asliku, Anna, setuju?"
Noah melerai pelukannya lantas berpikir sejenak.
"Setuju, Anna," jawab Noah mengangguk.
Seanna merasa lega, karena Noah sudah mau mengubah nama panggilannya. Dia menggandeng tangan Noah dan membukakan pintu kamar mandi. Sesudah itu, Seanna pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan obat.
"Anna, Mommy mau bicara," ajak Julie menarik Seanna ke kamarnya.
“Ada apa, Mom?”
"Apakah pria bernama Noah itu korban kecelakaan yang kamu tolong?"
"Iya, Mom. Dia mengalami amnesia."
"Lalu kenapa dia menyebutmu Angel?" tanya Julie curiga.
"Mungkin karena dia menganggapku sebagai malaikat penyelamatnya. Saat aku tanya, Noah juga tidak ingat siapa Angel."
Julie menyipitkan matanya sambil menatap wajah cantik putri semata wayangnya itu.
"Anna, kamu jangan terlalu dekat dengan Noah. Kita belum tahu asal-usulnya. Siapa tahu dia berpura-pura amnesia supaya bisa masuk ke rumah kita. Aku khawatir dia ternyata seorang mafia, penjahat, atau penipu. Lagipula kamu harus menjaga perasaan Andrew. Tidak baik bila wanita yang sudah memiliki calon suami memasukkan pria lain ke dalam rumahnya."
Seanna sudah menduga sejak awal bahwa ibunya tidak akan suka bila dia membawa pulang Noah.
"Sudahlah, Mom, Noah bukan orang yang berbahaya. Sikap dan cara berpikirnya bahkan seperti anak-anak."
"Tetap saja kita harus waspada. Sebaiknya kamu memasang fotonya di internet, lalu mengumumkan bahwa dia mengalami hilang ingatan. Dengan begitu, keluarga Noah akan datang untuk menjemputnya. Jika dia terlalu lama di sini, Andrew pasti akan keberatan."
"Nanti akan kupikirkan, Mom. Aku akan membantu Noah minum obat dulu," ujar Seanna berlalu dari kamar sang ibu.
Seanna masuk ke kamar Noah dan terkejut melihat pria itu sudah duduk di ranjang. Rambutnya masih basah, sedangkan piyama yang dipakainya dikancingkan dengan sembarangan. Melihat hal itu, Seanna tergerak untuk membantunya.
"Noah, kenapa kancing piyamamu naik turun begini?" tanya Seanna mendekat.
"Eh, aku tidak tahu. Tadi aku sudah berusaha."
"Sini, aku ajari cara mengancingkan baju yang benar."
Dengan telaten Seanna membenahi satu per satu kancing baju Noah. Ia tidak sadar bila jarak antara mereka berdua begitu dekat, bahkan ia bisa mencium aroma harum sabun dari tubuh pria itu.
Jantung Seanna hampir meloncat keluar saat Noah tiba-tiba meraih tangannya. Pria itu menempelkan telapak tangan Seanna yang halus ke da-da bidangnya.
"Noah, a-apa yang kamu lakukan?" tanya Seanna gugup. Ia bisa merasakan irama jantung Noah yang berdegup dengan kencang.
"Terima kasih. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu," tutur Noah seraya memandang Seanna.
Ditatap dengan intens oleh Noah, membuat wajah Seanna merona. Lekas saja dia menarik tangannya, agar mereka tidak bersentuhan terlalu lama.
"Tidak perlu berterima kasih. Sekarang duduklah, aku akan mengeringkan rambutmu."
Seanna mengambil handuk dan mengelap rambut Noah. Setelah setengah kering, ia bergegas mengambil obat dari dokter. Seanna ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, karena bagaimanapun tidak baik jika pria dan wanita berduaan saja di dalam kamar.
"Sudah selesai. Tidurlah, Noah.”
Seanna membantu Noah naik ke atas tempat tidur, lalu menyelimuti pria itu hingga sebatas d**a. Namun, Noah kembali memegang tangannya dengan erat.
"Jangan pergi, tolong bacakan aku dongeng sebelum tidur."
Bola mata Noah berkaca-kaca dan bibirnya mengerucut ke atas. Seanna yakin pria itu sebentar lagi akan menangis tersedu apabila permintaannya tidak dikabulkan.
"Baiklah, aku akan membacakan dongeng untukmu. Janji, ya, setelah ini kamu harus tidur."
"Aku janji," ucap Noah.
Seanna mengambil ponselnya, lalu mencari cerita dongeng yang ada di internet. Dia memilih cerita Snow White untuk dibacakan kepada Noah.
"Dahulu kala, ada seorang putri yang sangat cantik. Kulitnya seputih salju, rambutnya sekelam malam dan bibirnya semerah darah. Dia bernama Snow White."
"Aku kira dia terbuat dari salju makanya dinamakan Snow White," celetuk Noah membuat Seanna tertawa.
"Tidak, Snow White itu seorang putri raja. Wajahnya paling cantik di dunia."
"Apa dia sama cantiknya denganmu, Anna?" tanya Noah tiba-tiba.
Pertanyaan Noah membuat Seanna merasa canggung. Dia tidak menyangka Noah akan memujinya seperti itu.
"Aku tidak tahu karena aku belum pernah bertemu Snow White. Sekarang kita lanjutkan ceritanya."
Seanna membacakan dongeng itu pelan-pelan, tetapi hingga akhir cerita mata Noah belum juga terpejam.
"Noah, kenapa kamu belum tidur?"
"Aku sedang berpikir apa benar orang yang kena racun bisa disembuhkan hanya dengan sebuah ciuman?"
"Kalau di dunia nyata tidak seperti itu. Orang yang kena racun harus diobati oleh dokter, Noah."
"Hmmm, aku kira bisa. Aku ingin kamu menciumku supaya aku dapat mengingat lagi," kata Noah dengan polos.
Mata biru Noah seolah memiliki kekuatan magis yang membuat Seanna terpaku. Entah mengapa ia jadi betah berlama-lama menatap netra pria itu, seolah ada pancaran kedamaian yang mengalir ke dalam hatinya.
"Jangan membahas dongeng lagi. Sekarang kamu harus tidur atau aku akan marah kepadamu."
"Iya, Anna," jawab Noah patuh.
Lelaki itu membalikkan punggung, lalu memejamkan mata. Diam-diam Noah tersenyum sambil membayangkan jika dia adalah sang pangeran, dan Seanna adalah tuan putri cantik yang disembuhkannya dari apel beracun. Dia berjanji akan menyelamatkan Seanna dari semua orang jahat yang akan mengancamnya.
***
Di sebuah kamar lain yang luas, nampak tirai berwarna ungu menjuntai menutupi jendela. Di tengah kamar itu, terdapat kasur berukuran king size dilengkapi seprai yang terbuat dari bulu-bulu halus. Harum lilin aromaterapi memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana bertambah hangat dan romantis.
Terlihat siluet seorang pria dan wanita yang sedang berpagutan mesra. Tubuh mereka terbalut selimut tebal untuk menghalau dinginnya udara malam.
"Aku sangat bahagia, Sayang. Akhirnya, aku bisa memiliki dirimu seutuhnya.”
"Aku juga, tetapi apakah kamu yakin kalau suamiku telah meninggal?"
"Itu sudah pasti, Baby. Aku sudah mengurus mobilnya dengan baik, membuat rem mobilnya blong dalam perjalanan ke Kansas. Sampai sekarang mobilnya juga belum ditemukan."
Wanita itu tersenyum lantas mengambil dua gelas wine. Salah satu gelas tersebut diberikan kepada prianya.
"Cheers!" Dua gelas beradu diiringi tatapan penuh hasrat.
"I love you, Angel," bisik si pria sambil mengecup mesra bahu wanitanya.