“Sebuah berita menarik!” seru Nazar ketika masuk ke ruang kerja Assad yang didominasi warna hitam. Assad hanya mengguman menanggapi seruan Nazar, jarinya terus menandatangani selembar dokumen kemudian menumpuknya di sisi kanan depannya.
“Ini berita yang membahagiakan untuk korporasi kita,” imbuh Nazar mencoba menarik perhatian Assad sambil mendekat ke meja bos korporasi itu.
“Apa itu hingga Kamu sebahagia itu?” ucap Assad sambil membuka dokumen terakhir yang harus ia tanda tangani.
“Laporan pantauan masyarakat negara ini hehe,” balas Nazar riang sambil berjalan ke sofa besar yang berada tak jauh dari meja kerja Assad. Nazar duduk di sofa itu sambil memegang tabletnya.
Assad menumpuk dokumen terakhir itu dan menggeliat.
“Mari kita dengarkan berita bagus itu!” seru Assad sambil beranjak dan menyusul Nazar ke sofa besar itu. Laki-laki tinggi tegap itu membenamkan tubuhnya ke sofa besar itu. Nazar yang kini berada tepat di sampingnya beringsut karena gerakan itu. Nazar mengusap layarnya dan sebuah televisi layar datar yang ada di depan sofa itu menyala.
“Dengarkan ini!” seru Nazar sambil menoleh ke arah Assad. Jarinya menekan tombol play di layar handphonenya.
“Saya sebagai wakil dari masyarakat yang mengetuai gerakan Justice Community melaporkan pada seluruh masyarakat negeri ini, terutama yang berada di kota New March tercinta, mengumumkan bahwa tim penyidik yang kita utus di korporasi hitam telah membatalkan laporan penyelidikan yang sedianya akan dilaporkan dalam beberapa hari ke depan dikarenakan beberapa proses penyelidikan tambahan yang harus dilakukan. Dengan ini kami mengumumkan, jadwal laporan dari tim penyidik akan dilaporkan sewaktu-waktu. Kepada seluruh masyarakat diminta partisipasinya untuk terus men-support tim ini dengan memberikan temuan informasi apapun terkait kegiatan korporasi yang sedang berada dibawah penyelidikan.” Nazar menghentikan siaran itu, mulutnya tersenyum lebar.
Assad menatap layar datar yang menempel di dinding itu. Jarinya mengusap-usap dagu, matanya sedikit menyipit.
“Itu artinya lima orang yang berada di ruangan bawah itu tak menemukan apapun,” jelas Nazar tanpa diminta.
“Benarkah?” sahut Assad dalam hati, “walaupun berita ini memang berita bagus untuk korporasi ini, tapi mereka bukan orang bodoh.”.
“Jika terus begini, mereka akan segera angkat kaki dari gedung ini dan menyatakan bahwa korporasi kita bersih,” imbuh Nazar kemudian terkekeh. Assad tertegun tak menanggapi pernyataan tangan kanannya itu, dalam benaknya ada alarm yang menyala untuk tak mengaktifkan rasa senang terlalu dini.
Nazar menghela napas panjang penuh kelegaan.
“Orang-orang kita memang handal. Cukup bisa membuat tim penyidik itu apatis. Em ... dari lima orang, hari ini tinggal satu orang yang berada di lantai bawah itu. Mungkin karena paling senior, si auditor manajerial itu tetap sabar menelusuri data-data yang disajikan korporasi ini," ujar Nazar sambil mematikan televisi layar datar itu dari handphonenya.
“Jangan cepat puas, kita nggak tahu langkah mereka selanjutnya. Dan senior yang masih bertahan itu juga patut diwaspadai, Kamu tahu? Ketenangan auditor itu merisaukan,” ungkap Assad tanpa menoleh ke arah Nazar, tatapan laki-laki itu justru terlihat menerawang.
“Menurutmu begitu?” sahut Nazar terhenyak sambil menoleh ke arah Assad. Bos korporasi itu mengangguk.
Assad tetap memandang ke depan dengan tatapan menerawang.
“Kamu sudah selidiki setiap orang dalam anggota tim itu?” ujar Assad sambil meluruskan kaki, kepalanya mendongak di atas puncak sandaran sofa.
“Tentu saja,” sahut Nazar.
“Selain Oscar yang paling senior, Jody, Henry, Eliz dan Harra, detektif itu, adalah anak-anak muda yang terbaik di bidangnya. Bahkan Eliz yang seorang polisi memiliki catatan yang paling bersih dan terkenal ‘sulit’. Jarang ‘kan ada polisi dengan kategori itu?” jelas Nazar terus terang.
“Itulah,kenapa kita harus tetap waspada. Seorang senior yang tenang dan tangguh dan empat orang anak muda terbaik. Kurasa mereka bukan orang-orang yang mudah putus asa,” ucap Assad dengan datar. Nazar menganggukkan kepala.
“Dan yang menjadikan mereka orang-orang yang tak mudah ditundukkan adalah mereka bekerja dengan tak mengharapkan imbalan, jadi kita nggak bisa menikungnya dengan menawarkan harga yang tinggi seperti kita melakukan pada para pejabat di negara ini,” imbuh Assad, Nazar terlihat merenung membenarkan pendapat bos korporasi itu.
Nazar mengeluh pendek.
“Umm ... kalau begitu ku-cancel kesenangan ini,” ujarnya seraya menyandarkan punggung dan ikut meluruskan kaki seperti laki-laki yang duduk di sampingnya.
“Kesenangan mana yang di-cancel? Kenapa aku terus ketinggalan berita?” Mendadak Ronald telah berdiri di depan kedua laki-laki itu. Nazar mengibaskan tangan agar laki-laki gondrong itu tak menghiraukan kata-katanya. Ronald mengedikkan bahu melihat itu.
“Hei! Assad! Apa Kamu menyuruh detektif aneh itu menyelidiki Ivory?” tanya Ronald ketika duduk di sebelah Assad. Seketika bos korporasi itu menolehkan kepala yang sedang tersandar di puncak sandaran sofa itu, tatapannya terlihat tajam.
Ronald menatap Assad dengan terkejut.
“Tatapanmu kuartikan sebagai kata tidak. Uh! Sepertinya detektif perempuan yang aneh itu melebarkan area penyelidikannya. Bahaya banget. Tahu nggak, hampir saja di sana terjadi perkelahian,” ucap laki-laki gondrong itu sambil bersedekap. Seketika Assad mengangkat kepala dan menegakkan punggung, laki-laki itu menatap dengan penuh perhatian. Sedangkan Nazar hanya tersenyum menyeringai tanpa merubah posisi duduk.
Ronald mengedikkan bahu.
“Ya, kunjungan detektif aneh yang beralaskan sedang mempertimbangkan ingin menyewa pengawal itu bertepatan dengan jadwal Melanie yang memilih bodyguard pengganti untuknya,” papar Ronald kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan kedua gadis itu.
“Hem ... ngomong-ngomong aku juga mengatakan pada Melanie tentang keanehanmu, gimana gadis aneh itu bisa membuatmu menggendongnya ketika itu,” imbuh laki-laki gondrong itu dengan santai.
“Ro!” Seketika Assad berteriak sambil mencengkeram baju tangan kanannya itu yang malah melihatnya dengan bingung.
“Apa salahku?! itu ‘kan kenyataan,” protes Ronald dengan wajahnya yang makin tambah bingung melihat wajah Assad yang panik.
Assad mendesah lelah, kemudian melepaskan cengkeraman di baju Ronald. Laki-laki itu mengambil handphone di saku jasnya dan menghidupkan layarnya. Dengan satu gerakan cepat ia menghubungi orangnya.
“Alfa! Di mana gadis itu?” seru Assad dengan panik. Ronald menatap dengan tak mengerti, ia mengarahkan pandangan mata pada Nazar yang mengedikan bahu.
“Siap, Bos!” jawab suara di sambungan telepon itu.
“Em ... detektif itu ... sepertinya sedang digiring ke suatu tempat ... ke arah ... jalan menuju ... dermaga,” jelas Alfa tersendat, laki-laki itu sepertinya menjelaskan sambil membaca sebuah tangkapan layar. Seketika Assad berdiri.
Wajah Assad terlihat gusar, kedua tangan kanannya itu hanya bisa memperhatikan gerak-gerik bos mereka itu.
“Digiring?” kejar Assad dengan suara memburu.
“Ya, ini tangkapan cctv yang diambil dari titik keberadaan handphone yang terlacak, di samping kendaraannya ada dua kendaraan yang sepertinya menggiringnya ke pinggir laut,” jelas Alfa lebih lanjut.
“Kirim lokasinya!” perintah Assad setengah berteriak sambil bergegas meninggalkan ruangan itu.
“Hei! Assad!” teriak Ronald dan Nazar serempak, keduanya bergegas mengikuti gerakan cepat Assad yang berlari menuju lift.