BAB 9

953 Words
"Kau mendekati Athena sekarang?" Cal menatap lurus ke arah Thanos, saat lelaki itu sedang menikmati minumannya di sebuah bar. Thanos menoleh, merasa pertanyaan itu tak menyenangkan bagi telinganya. "Apa maksudmu? Seolah aku terlalu sering bermain dengan wanita?" Cal tersenyum tipis, "Apa aku salah? Athena berbeda, Thanos. Dia bukan seperti wanita yang kau kenal selama ini." Thanos menjilat giginya, menunjukkan wajah kesal dengan ucapan Cal yang seperti itu. "Memangnya apa yang akan kulakukan kepada Athena, hah? Jangan katakan kalau kau menyukai dia." "Aku hanya memberitahumu, jangan sampai kau memperlakukan Athena seperti yang sebelum - sebelumnya. Athena tahu tentang berita itu, Thanos." Cal menatap sayu, membuat Thanos terkejut. "Berita itu? Maksudmu?" Lelaki itu menautkan keningnya, menatap Cal dengan matanya yang tajam. "Soal Erica. Seseorang Memberitahunya. Dan, dia bertanya padaku apakah itu benar?" "Siapa yang mengatakan itu? Dia belum masuk ke perusahaan saat peristiwa itu terjadi. Lalu apa yang kau katakan padanya?" "Apalagi? Aku hanya bisa mengatakan kalau berita itu tidak benar, kan?" "Itu memang tidak benar, aku tidak terlibat dengan kematian Erica!" Thanos mengatakan itu dengan kesal, diteguknya minuman itu sampai habis. "Hentikan, kau sudah minum terlalu banyak." Cal mengambil gelas itu dari tangan Thanos, tapi Thanos menepisnya dan kembali memenuhi gelasnya dengan minuman beraroma kuat itu. "Kau sudah tidak waras? Bagaimana bisa seorang CEO hanya memikirkan cara untuk berenang - senang?" protes Cal. "Diamlah! Aku sudah bekerja keras untuk perusahaan itu, tidak bisakah aku bersenang - senang, hah?!" "Kau sudah mabuk, Thanos." Thanos tertawa, ia lantas meneguk minuman itu lagi dari botolnya. "Cal, dengarkan aku. Sejak aku muda, aku menuruti semua kata ayah. Aku bahkan tidak peduli saat ibu menegurku. Melakukan semua yang dia inginkan dan menjadi seperti yang dia mau. Keringatku tercurah untuk perusahaan itu. Lalu kenapa sekarang kau melarangku untuk menikmati semua yang kucapai? Kau ingin menjadi ayahku, hah?!" Thanos tertawa lagi, wajahnya memerah menunjukkan betapa minuman itu sudah membuatnya tenggelam semakin dalam. Cal menatap lelaki itu gemas, betapa susahnya untuk meruntuhkan sikap keras kepala Thanos. Dan Cal sama sekali tidak ingin tersinggung dengan semua kata - katanya. Cal tahu, Thanos hanya sedang frustrasi dengan masa lalunya itu. Ketika semua orang berpikir betapa beruntungnya dia, tapi tidak dengan Thanos. "Kau benar - benar payah, Thanos." Gumam Cal yang menatap tubuh sempurna itu tertidur di atas meja bar. ... Thanos menyentuh kepalanya yang masih berdenyut, pening masih cukup terasa di kedua sisi pelipisnya. Lelaki itu berusaha bangun, menyibak selimut tebal yang menutupi d**a telanjangnya. "Di mana ponselku? Sial!" Thanos mengumpat, meraba - raba sisi tempat tidur untuk menemukan benda berdering itu. "Kau sudah bangun?" Suara Cal akhirnya terdengar setelah Thanos menemukan benda itu di bawah bantalnya. "Kau yang membawaku pulang, Cal?" tanya Thanos seraya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajah. "Siapa lagi? Kau membuatku kesulitan. Bagaimana keadaanmu? Kurasa kau tak perlu berangkat hari ini, aku akan membantumu, Thanos." "Tidak. Aku akan berangkat walau terlambat, Cal. Tidak ada yang melihatku di bar itu, kan?" tanya Thanos lagi yang merasa setiap gerak - geriknya selalu diawasi. "Tenang saja. Kau menyewa ruangan VVIP, siapa yang akan masuk ke sana hanya untuk memotret?" Cal tertawa, membuat Thanos tersenyum di sana. "Kau benar, aku menyewa ruangan itu tanpa seorang wanita. Bukankah seharusnya aku membawa dua?" Thanos mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya yang bebas, lelaki itu menatap cermin, memandang wajah tampannya cukup lama. "Kenapa kau tidak menikah saja? Bermain wanita bukan keputusan yang bagus." Suara Cal kembali terdengar, menyadarkan lamunan Thanos sesaat. "Menikah katamu? Untuk apa? Mereka menikah tapi kurasa mereka tidak bahagia." Thanos tersenyum kecut dan kembali ke kamarnya. "Tidak semua pernikahan berakhir buruk, Thanos. Kau hanya perlu menemukan orang yang tepat." "Dan selama ini aku tidak menemukan wanita seperti itu, Cal," jawab Thanos sembari tertawa. "Karena kau tidak mencari yang benar, Thanos. Kau justru Mencari wanita hanya untuk bersenang - senang." "Baiklah, berhenti menceramahiku, Cal. Aku harus bersiap - siap. Apakah kau melihat Athena?" Cal mendengus kasar, ia sudah memperingatkan laki - laki itu semalam. "Memangnya kau mau apa, Thanos? Kau suka padanya?" "Hei, kenapa suaramu terdengar tidak enak, Cal? Jangan katakan kalau kau cemburu." "Aku? Cemburu? Aku hanya memberitahumu, agar kau berhenti mempermainkan wanita. Itu saja," kata Cal yang menegaskan kalimatnya. "Aku tidak mempermainkan wanita, soal itu ... kami selalu sepakat dan mereka meraih keuntungan dariku. Jadi, itu bukan salahku. Aku tidak suka kau terus mengatakan hal yang sama, Cal." "Baiklah, sampai jumpa di kantor, Thanos." Cal menutup ponselnya setelah mengatakan itu. Ia terlihat tak senang dengan semua alibi yang diucapkan Thanos, seolah tak ada yang salah dengan dirinya. ... "Kau mau kopi, Athena?" Cal menawarkan secangkir kopi yang berada di tangannya, saat ia dengan sengaja berjalan ke arah Athena. "Oh, aku sudah membuatnya tadi. Terima kasih, Cal." Athena menjawab lembut sembari memasukkan beberapa kertas bekas ke dalam mesin pemotong kertas. "Mau kubantu?" tanya Cal lagi. "Tidak, ini hanya sedikit." Athena kembali mengulaskan senyuman, dan Cal akhirnya mengangguk mengerti. Athena memang selalu begitu, tak pernah ingin menerima bantuan orang lain. Sesuatu yang tidak diketahui Thanos. "Athena, kau lembur malam ini?" Athena menoleh cepat, menatap Cal ragu, "Ehm, sepertinya tidak. Aku menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu," jawab wanita itu yakin. "Oh, jadi apa kau punya rencana malam ini? Maksudku, sebaiknya kau langsung pulang setelah selesai bekerja, Athena. Kau harus menjaga kesehatanmu, kan?" Cal terlihat kacau saat mengatakan itu, terlebih ketika Athena menatapnya dengan aneh. "Tentu saja, aku akan bertemu Carol. Seperti biasanya." "Carol?" Athena mengangguk, "Hmm, dia teman dekatku." Athena tersenyum saat mengatakan itu. Senyum yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik. "Itu bagus, segeralah pulang dan bertemu Carol, oke?" "Ada apa denganmu, Cal? Kau terlihat aneh." Cal mengibaskan tangannya, "Bukan apa-apa, kembalilah bekerja, Athena." "Oke, walau aku tak mengerti maksud semua ucapanmu itu, Cal." Athena berpaling dan kembali melanjutkan pekerjaan itu, sementara Cal masih menatapnya dari jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD