BAB11

926 Words
"Sudah lama kau tidak ke mari, Thanos. Apakah kau sesibuk itu?" Wanita berbaju seksi itu duduk di sisi Thanos, bibirnya terus mengulaskan senyuman. "Kenapa? Kau mencariku?" Thanos membalas dengan seringainya, lelaki itu kembali menyesap wine yang telah diisi kembali. "Tentu saja, kau klien yang selalu kunantikan. Kau suka dengan penampilanku malam ini?" Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memperlihatkan sebagian tubuhnya yang terbuka. "Entahlah, tapi kurasa aku mulai bosan denganmu, Emyl. Tak adakah orang baru malam ini?" Wanita yang dipanggil Emyl itu tersenyum. Tampaknya ia tak peduli dengan kata-kata Thanos yang menyinggung itu. "Orang baru tak memiliki pengalaman sepertiku. Kau tak akan puas dengannya. Lagi pula hanya aku yang bisa menjaga rahasiamu, kan?" "Sial! Kau mulai mengancamku?" Emyl tertawa, memperlihatkan deretan gigi putih di balik bibir merahnya itu. "Ayolah, apa yang tak bisa kulakukan? Semua permainan yang kau suka, aku sanggup memerankannya." Thanos meraih wajah Emyl, menyapu lipstik merah itu dengan ibu jarinya, membuatnya berantakan. "Aku benci warna ini, Emyl. Jangan memakainya lagi," ucap Thanos yang lantas melumat bibir wanita itu. "Bisakah kau sedikit lebih lembut, Thanos? Kau membuatku sakit," pinta Emyl saat Thanos meremas tubuhnya yang membulat indah. "Hanya aku yang berhak menentukan apa yang kulakukan padamu, Emyl. Kau hanya perlu menurut saja." Thanos menatap mata wanita itu, dan kembali meremas tubuhnya dengan gemas. "Tapi ini sakit, Thanos," protes wanita itu lagi. Thanos berdiri, melepaskan kemeja itu dari tubuhnya dan membuangnya ke lantai, menatap Emyl dengan mata berkilat. Lelaki itu mengulurkan tangannya, menarik pakaian Emyl dengan kasar, membuatnya robek di beberapa bagian. "Thanos, kau merusak pakaianku!" protes wanita itu lagi. Namun Thanos tak ingin memberi jawaban. Lelaki itu menarik tubuh Emyl, membuatnya berdiri tepat di hadapan Thanos. "Kau terlihat menarik dengan pakaian robek seperti ini, Emyl," kata Thanos yang lantas memeluk tubuh Emyl dan menciumnya dengan rakus. "Thanos, kau ...." Emyl bergerak ketika Thanos tiba-tiba menyelipkan jemarinya ke dalam tubuh sensitif wanita itu, membuatnya nyeri. "Diamlah! Nikmati saja apa yang kulakukan padamu! Kau boneka yang kubayar mahal untuk malam ini, ok?!" "Sakit, Thanos! Aku bahkan belum siap!" Thanos tak peduli dengan rengekan wanita itu, ia justru melakukan hal yang semakin gila kepada tubuh Emyl. "Apa yang akan kau lakukan dengan ikat pinggang itu, Thanos?" Emyl menatap cemas, saat Thanos melepaskan ikat pinggangnya dan mengarahkan benda itu kepada Emyl. "Tentu saja bersenang-senang denganmu. Bukankah aku bisa melakukan apa pun yang kumau, Emyl?" Thanos meraih tangan wanita itu, mengikatnya dengan ikat pinggang miliknya. Emyl tidak melawan, bukankah Ini hal yang memang kerap Thanos lakukan padanya? Lelaki itu memang sering membuat kejutan. "Tapi, kali ini apa yang akan kau lakukan padaku?" Emyl bertanya lirih, saat matanya menatap Thanos cemas. "Sesuatu yang kau sukai, Emyl." "Aku juga ingin menyentuhmu, Thanos," pinta wanita itu lembut. Thanos menggeleng, "Kau tak boleh menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Bahkan mata indahmu tak layak untuk menatap tubuhku, Emyl." Thanos meraih kain yang berada di atas meja, dan menutup kedua mata Emyl di sana. Wanita itu menghembuskan napas kasar, seperti yang sudah-sudah, ia tahu apa yang akan dilakukan Thanos kepadanya. ... Thanos menyandarkan tubuhnya di sofa, kepalanya terangkat ke atas menatap langit-langit ruang VIP itu. Tidak ada yang menyenangkan dengan semua permainan itu. Selain emosi yang hanya ingin Thanos lampiaskan. Wanita di sisinya bergerak, meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sesekali ia menyeringai saat perih mendera tubuhnya. "Kau tidak waras, Thanos," desis Emyl seraya meneguk wine itu. "Aku tidak peduli dengan semua ucapanmu. Jangan pernah mengkritikku!" Thanos menegakkan tubuhnya, menuang segelas wine untuk dirinya sendiri. "Kau harus menjaga mulutmu, Emyl. Tak seorang pun boleh melihatku datang ke tempat ini. Terlebih bersamamu. Kau mengerti?" Emyl tersenyum kecut, "Tenang saja. Apa peduliku? Selain uang, Thanos?" "Itu yang kusukai darimu, Emyl." Thanos meraih ponselnya yang berdering, menatap nama Cal di sana. Yah, siapa lagi yang berani menghubungi Thanos secara langsung selain Cal? "Ada apa? Kau tahu aku sedang sibuk, heh?" kata Thanos dengan malas. "Aku hanya mengingatkan, ayahmu akan berkunjung besok. Kuharap kau sudah siap dengan semua pertanyaan yang akan ia ajukan, Thanos." Thanos diam sesaat, ia lantas tersenyum tipis. "Memangnya, apa yang tak bisa kujawab, Cal? Dia terlalu banyak ikut campur urusanku!" "Dia ayahmu, Thanos. Pemegang saham terbesar De Aluna. Kurasa kau harus mengambil hatinya kalau ingin mendapatkan sahamnya juga." "b******k! Kau mengejekku?" Cal tertawa, "Aku berkata benar, kan? Kau di mana sekarang, sepertinya aku mendengar suara riuh musik. Jangan katakan kau sedang berada di klub, Thanos." Thanos menatap Emyl, memberi isyarat kepada wanita itu untuk pergi. "Baiklah, jangan lupa untuk membayarku dua kali lipat, kau merusak gaunku," bisik Emyl di sisi telinga Thanos. "Aku hanya bersenang-senang, Cal. Tidak ada yang salah dengan itu. Kalau kau mau, datanglah ke mari. Aku menyewa ruang VIP seperti biasanya." "Dan, kau akan membuatku repot dengan membawamu pulang saat mabuk, kan? Aku tidak mau," tolak Cal yang terkadang merasa kesal dengan kebiasaan buruk Thanos. "Aku tidak minum banyak. Aku sudah ... ya, seperti yang kau tahu," celetuk Thanos. "Astaga, kau mempermainkan wanita lagi? Kau tidak khawatir dengan Erica?" "Cal, berhenti menyebut nama itu di depanku! Dia sudah tewas, tak ada gunanya membahas itu lagi." "Tapi kasusnya belum selesai, bisa saja kau ...." Cal menghentikan kalimatnya, saat mendengar suara hembusan napas Thanos yang kesal. "Cukup, Cal! Jangan kurang ajar kepadaku! Bagaimanapun juga aku adalah CEO De Aluna. Kau harus ingat itu!" "Oke ... baiklah, terserah kau saja. Aku hanya mengingatkan. Sebaiknya kau segera pulang, Thanos. Jangan biarkan dirimu mabuk tanpa seorang pengemudi." "Diamlah! Kau membuatku tak nyaman." Thanos menutup ponselnya kesal. Lelaki itu kembali meneguk minumannya dengan rakus. Siapa yang berani mengatur Thanos? Kecuali ia sudah bosan berada di dunia ini!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD