Aletta memperhatikan pantulan dirinya melalui kaca kamar mandi yang sedikit beruap. Di sekitar leher hingga turun ke kedua gundukan kembarnya, banyak sekali bekas kebiruan di sana-sini. Bekas kiss mark. Saksi bisu bekas ciuman bibir seorang Damian yang kayaknya tidak akan hilang dalam hitungan hari. Aletta langsung memutar otak. Bagaimana cara Aletta menjelaskan ke ibu? Masa iya gara-gara digigit nyamuk? Kalau nyamuknya segede babon sih mungkin orang baru percaya.
Dengan perlahan, Aletta mengelus lehernya. Jari-jari halusnya mulai bergerak turun, mulai dari kedua gunung ranumnya, perutnya yang nyaris rata itu, hingga ke daerah intimnya. Tiba-tiba, pikiran Aletta kembali mengingat apa yang baru saja dialaminya tadi.
Ya, Damian baru saja menyentuhnya di situ. Di daerah intimnya. Di daerah paling sensitif dan paling pribadi dari seorang perempuan. Bahkan Damian tidak hanya menyentuh milik Aletta, tapi dia juga ‘memainkannya’. Menggerakkan jarinya, masuk ke dalam tubuh Aletta. Membawa Aletta terbang hingga ke puncak nirvana ..
Berkat Damian, akhirnya Aletta tahu apa yang dinamakan o*****e. Seperti apa rasanya o*****e. Bagaimana rasanya ketika seolah-olah serangan listrik yang begitu nikmat menjalari tubuhnya .. Otak Aletta yang masih polos itu jadi berpikir. Tadi kan Damian sudah sempat menyentuh dirinya, apa bisa Aletta dihitung masih perawan? Tapi .. Tapi kan Damian belum memasukkan miliknya yang nampaknya sangat besar dan menantang itu?
Astaga, Aletta langsung geleng-geleng kepala. Apa sih yang sedang dia pikirkan? Sepertinya karena efek minuman yang dikasih Kenan, Aletta jadi mulai berpikir yang aneh-aneh.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, sekadar untuk mengalihkan pikiran saja supaya nggak mikirin Damian terus, akhirnya Aletta melanjutkan mandinya. Begitu kelar mandi dan bersih-bersih, pokoknya Aletta harus langsung telepon ibu lalu tidur secepat mungkin. Aletta nggak boleh jadi kalong malam ini.
Begitu kelar dan puas mandi, Aletta menemukan sebuah baju tergeletak rapih di atas ranjang tempat tidurnya. Pasti Damian yang taruh di situ. Iya lah, siapa lagi? Di apartemen ini kan cuman ada Damian dan Aletta. Damian pasti menaruhnya di sana saat Aletta sedang asik mandi.
Aletta mengambil baju tersebut. Ternyata sebuah kaos oblong berwarna hitam yang ukurannya besar sekali. Pasti punya Damian. Sangkin terlalu besar dan panjang, Aletta sampai tidak perlu repot-repot pakai celana lagi. Toh kaosnya sudah menutupi sampai setengah paha mulusnya. Mungkin kalau yang pakai kaos itu Damian, panjangnya tidak akan sampai segitu. Maklum, Aletta kan jauh lebih mungil dibandingkan Damian yang tinggi menjulang bak lampu taman di pinggir jalan.
Kelar pakai baju dan menyisir rambut tebal nan indahnya, Aletta memperhatikan lagi tampilan dirinya di cermin. Aletta malah terkikik geli. Aletta nampak lucu dan konyol sekali.
Setelah menertawakan dirinya sendiri, Aletta langsung menghubungi ibu. Belum ada sepuluh detik, ibu langsung menjawab telepon.
“Aletta? Kamu ke mana aja, nak? Udah malam ini. Ibu khawatir tau nggak?” tanya ibu khawatir.
Aletta tersenyum, “Maaf bu, aku baru bisa kabarin sekarang. Aku baik-baik aja kok. Aku nggak pulang ya, nginep di rumah temen. Ibu nggak usah khawatir.”
Ibu menghela napas lega, “Syukur deh. Lain kali jangan lupa kabarin ibu dong, nak.”
“Iya. Maaf ya udah bikin ibu khawatir.”
Ibu kembali bertanya, “Kamu nginep di rumah siapa, Aletta?”
Kali ini Aletta bingung mau jawab apa. Kalau ibu tahu Aletta nginep di apartemen Damian, bisa berabe. Bisa-bisa malah perang dunia ketiga. “Eh, itu, di rumahnya Kirana, bu,” bohong Aletta.
Ibu mengerutkan dahi, “Kirana? Kirana teman SMA? Kok bisa sama dia? Bukannya kamu perginya sama Damian ya tadi?”
Rupanya ibu cukup jeli juga. Persis kayak detektif Conan. “Eh, iya, tadi kelar pergi sama Damian, aku pergi lagi sama Kirana. Jadi tadi Damian yang anterin aku ketemu sama Kirana,” bohong Aletta. Untung otaknya masih bisa cari alasan buat bohong.
“Oh, gitu,” kata ibu.
Aletta menghela napas lega. Untung ibu nggak nanya-nanya lagi. “Udah dulu ya, bu. Aku mau tidur nih, udah ngantuk. Besok pagi aku langsung pulang kok.”
“Ya udah. Salam buat Kirana ya, nak.”
Aletta tersenyum tipis, “Iya. Malam, bu.”
Panggilan pun terputus. Duh, lega sekali rasanya. Sayang sekali Aletta nggak bisa menyampaikan salam ibu buat Kirana. Mau salam gimana kalau orangnya saja tidak ada di sini.
Kelar menelepon ibu, Aletta harus buru-buru tidur. Aletta harus cukup tidur kalau mau bangun pagi-pagi sekali besok. Kelar menata bantal kepalanya yang terasa begitu empuk itu, Aletta langsung mematikan lampu kamar dan buru-buru naik ke atas ranjang, bersemayam di balik selimut putih yang begitu tebal itu.
Dari dalam kamar, Aletta mendengar sayup-sayup suara berisik TV yang menyala. Sepertinya Damian belum tidur. Dari asal suaranya sih sepertinya bukan dari kamar, tapi dari ruang tamu. Kayaknya Damian masih bergadang sambil nonton TV. Mungkin ada pertandingan sepak bola Eropa malam ini.
Sialnya, setelah sepuluh menit, tiga puluh menit, bahkan hingga satu jam berlalu, Aletta masih nggak bisa tidur. Aletta terus bergerak tidak jaman di ranjangnya. Terus ganti posisi. Ke samping kanan, ke samping kiri, telentang. Kayaknya semua posisi tidur sudah dicoba Aletta. Tapi matanya masih saja nggak mau menutup.
Apalagi selimut tebal yang Aletta gunakan saat ini malah menambah rasa panas dalam tubuhnya. Sepertinya efek dari minuman sialan yang dikasih Kenan tadi belum hilang. Aletta langsung mengutuk dirinya sendiri, kok bisa-bisanya main percaya saja minum minuman yang dikasih orang yang tidak dia kenal.
Dengan kasar, Aletta menyingkirkan selimut tebalnya jauh-jauh, lalu menurunkan suhu pendingin ruangan. Sudah 16 derajat, masih saja kepanasan. Apalagi suara berisik dari TV yang diputar Damian tambah membuat Aletta keki. Jadi dongkol sendiri. Mau tidur saja susahnya minta ampun.
Akhirnya Aletta memutuskan keluar kamarnya. Begitu keluar kamar, ternyata dugaan Aletta benar. Rupanya Damian lagi asik nonton pertandingan bola ditemani sama sebungkus kacang goreng yang lambangnya gambar dua ekor kelinci.
Damian langsung terkejut begitu melihat Aletta, “Eh, Aletta? Kamu belum tidur?”
Aletta menggeleng, “Aku nggak bisa tidur, Damian ..”
“Duh, maaf, maaf. Pasti kamu nggak bisa tidur gara-gara suara TV ya? Ini aku kecilin deh suaranya,” kata Damian sambil mengambil remot TV yang tergeletak di atas meja kaca kecil di depan sofa. Damian langsung mengecilkan suara TV nya. Padahal Aletta belum bilang kalau dirinya jadi susah tidur gara-gara suara TV, tapi sepertinya Damian sudah paham duluan. Sungguh tipe cowok yang sangat peka.
Aletta tersenyum, “Kamu suka bola ya?”
Damian membalas senyum Aletta, “Iya. Setiap ada pertandingan bola di TV, aku pasti nonton. Mau itu yang main tim lokal atau luar negeri.” Damian lanjut bicara, “Kamu nggak mau makan apa gitu? Aku bisa pesenin makanan kalo kamu mau.”
Aletta menggeleng dan tersenyum, “Nggak usah. Aku nggak laper kok.”
Damian menepuk space kosong di sofa empuk yang sedang dia duduki, “Sini duduk di samping aku.”
Aletta menghampiri Damian, “Aku nggak suka bola, Damian.”
“Nggak apa-apa. Nanti kamu ganti aja mau nonton apa.”
Akhirnya, karena memang sama sekali belum ngantuk, Aletta ikut nimbrung nonton bareng Damian. Jantung Damian langsung berdegup kencang setelah tak henti-hentinya menatapi Aletta dari ujung kepala hingga ujung rambut. Bagaimana tidak? Paha mulus milik Aletta begitu menantang untuk disentuh. Belum lagi baju milik Damian yang nampak sangat kebesaran di tubuh mungil Aletta. Bukannya terlihat aneh, Aletta malah terlihat tambah seksi di mata Damian.
“Kamu kenapa?” tanya Aletta bingung.
Damian langsung gelagapan. Dengan cepat, Damian menawari Aletta sebungkus kacang goreng yang ada di tangannya, biar nggak kelihatan nervous saja. “Mau kacang?” tanya Damian.
Aletta tersenyum geli, “Nggak ah. Nanti aku jerawatan.”
“Emang kacang bisa bikin jerawatan ya?” tanya Damian polos. Kali ini nggak dibuat-buat. Damian memang nggak tahu kalau kacang, yang katanya sih, bisa bikin jerawatan. Entah mitos atau fakta.
“Aku nggak tau deh. Kata orang-orang sih gitu,” jawab Aletta. Aletta lanjut bicara, “Boleh aku ganti acaranya?”
Damian mengangguk, “Boleh. Ganti aja.”
Sementara Aletta asik menggonta-ganti acara televisi, Damian malah jadi tambah nggak fokus. Kedua mata indah Damian kini tidak hanya fokus di TV, tapi juga sesekali menatap Aletta. Bahkan Damian juga beberapa kali sempat curi-curi pandang, memandang pemandangan indah berupa kedua paha mulus Aletta yang ada di sampingnya itu.
“Kok acara TV nya nggak ada yang bagus ya?” kata Aletta yang mulai kesal.
“Nggak tau deh. Mungkin karena malam minggu kali. Kalo malam minggu kan biasanya acara TV nggak ada yang bagus,” jawab Damian gugup. Duh, semoga saja Aletta nggak sadar akan betapa gugupnya Damian.
“Hmm nggak juga sih. Kadang ada yang bagus kok,” kata Aletta. Aletta menatap ke arah pendingin ruangan yang terpatri rapih di pojok ruangan. “AC nya mati ya?” tanya Aletta.
“Nggak kok. Masih hidup. Emang panas?” tanya Damian heran.
“Iya. Bisa diturunin sedikit nggak suhunya?”
Damian mengerutkan dahi, “Ini udah 18 derajat loh. Kamu nggak kedinginan?”
Sepertinya efek dari minuman yang dikasih Kenan tadi benar-benar belum hilang. Padahal Aletta sudah mandi dan ganti baju. Bagaimana ini?
Damian menangkupkan wajah Aletta, “Aletta? Kamu kenapa?”
Tiba-tiba, getaran itu menghampiri tubuh Aletta lagi. Getaran yang menyambar setiap kali Damian menyentuh tubuhnya. Ah, Aletta masih menginginkannya lagi ..
“Panas, Damian ..,” kata Aletta.
Dahi mulus Damian berkerut lagi, “Panas?” Damian meletakkan punggung tangannya di atas dahi Aletta. “Kamu nggak demam kok. Kok kepanasan?” tanya Damian bingung.
Aletta hanya terdiam. Aletta mulai menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya meremas kaos oblong yang sedang digunakannya dengan erat. Sensasi aneh itu muncul lagi dalam dirinya.
Damian tiba-tiba terdiam. Kedua matanya tak pernah lepas dari wajah Aletta. Damian langsung paham apa maksud Aletta. Dari gerak-geriknya saja, terlihat sekali kalau Aletta sedang b*******h untuk bercinta.
Damian menangkupkan kedua tangannya di wajah mungil Aletta. Damian memandangi kedua mata Aletta. Ada dua siratan yang bertolak belakang di sana. Yang satu siratan penuh cinta dan kasih sayang. Sementara yang satu .. siratan yang penuh nafsu dan gairah.
Tanpa basa-basi, Damian langsung menciumi bibir Aletta. Kali ini Aletta tidak tinggal diam, tapi ikut membalas ciuman Damian. Ciuman Damian dan Aletta nampak begitu b*******h dan membara. Damian mencium Aletta dengan begitu nafsu, seolah-olah Aletta adalah oksigen yang akan segera menguap kalau tidak segera dihirup.
Tangan-tangan Damian mulai menyusup masuk ke balik kaos oblong yang digunakan Aletta. Ah, sudah sejak tadi Damian menahan hasratnya untuk menyentuh kedua paha mulus Aletta. Akhirnya Damian bisa merasakan bagaimana halus dan lembutnya paha Aletta lagi.
“Ah, Damian ..,” desah Aletta begitu merasakan sengatan lain dalam dirinya begitu tangan-tangan Damian mengelus dan meremas kedua pahanya.
Tangan Damian mulai nakal, mulai bergerak ke atas, ke arah keperawanan Aletta. Dengan perlahan, Damian mengelus keperawanan Aletta yang masih tertutup celana dalam. Tubuh Aletta langsung merinding disko. Ternyata Aletta sudah sangat basah di bawah sana.
“Kamu udah basah, Aletta ..,” bisik Damian.
Aletta hanya menatapi kedua mata Damian dengan tatapan sayunya. Tatapan yang begitu sayu itu seolah-olah ‘mengundang’, seolah-olah meminta agar Damian menyentuh dan memuaskan Aletta segera.
Tiba-tiba, Damian menghentikan aksinya sesaat. Untung otak Damian belum sepenuhnya dipenuhi kabut gairah dan nafsu. Damian masih bisa sedikit berpikir jernih. Ada sedikit rasa kecewa yang terlihat di raut wajah Aletta kala Damian berhenti menyentuh dan menciuminya.
“Maaf, aku nggak bisa, Aletta .. Aku .. aku nggak mau ngerusak kamu ..,” kata Damian. Damian masih bisa mengontrol dirinya. Ya, meskipun miliknya di bawah sana tidak bisa bohong.
Aletta langsung menunduk dan duduk agak menjauh dari Damian. “Maaf, aku juga kelepasan ..,” lirih Aletta.
Damian menyentuh dagu tirus Aletta. Mata Damian dan Aletta kini bertemu lagi. “Aku nggak bisa bohong, Aletta. Aku mau, mau banget ‘nyentuh’ kamu. Tapi nggak sekarang. Aku takut kamu belum siap,” kata Damian.
Aletta terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Aku .. aku udah siap, Damian ..,” kata Aletta takut-takut.
Entah apakah kelak Aletta akan menyesali perkataannya dan perbuatannya malam ini atau tidak. Sebodo amat. Aletta sudah tidak tahan lagi. Demikian pula dengan Damian. Hasrat biologis keduanya sudah meronta-ronta, minta dipuaskan.
“s**t,” umpat Damian.
Sembari menciumi Aletta dengan ganas dan bergairahnya, Damian mengangkat tubuh mungil Aletta. Membawa Aletta ke kamar tidurnya, melanjutkan percintaan panasnya dengan Aletta di atas ranjangnya yang begitu empuk.
Desahan dan erangan mulai memenuhi ruangan, bersamaan dengan suara jam dinding yang berdetik begitu beraturan.