Part 27

2409 Words
Keesokan harinya, Zanna keluar dari rumahnya setelah berpamitan dengan Hanna. Kali ini, ia dijemput oleh Steve. Di depan rumahnya,terlihat Steve sudah menunggu Zanna di mobil. Zanna menghampiri Steve dan masuk ke dalam mobil Steve. “Kamu kok gak masuk?” tanya Zanna “Tadi aku lagi terima panggilan dari client aku” jawab Steve Zanna menggangguk paham. “Kita berangkat?” tanya Steve Zanna mengangguk. Steve mulai melajukan mobilnya dan keluar dari halaman rumah Zanna. “Kamu udah sarapan?” tanya Steve sambil fokus menyetir “Belum” jawab Zanna “Kok belum?” tanya Steve “Lagi pengen makan diluar” jawab Zanna “Yaudah, kita sarapan dulu, gimana?” tanya Steve “Boleh” jawab Zanna semangat Steve mengarahkan mobilnya pada breakfast restaurants terdekat. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Steve dan Zanna keluar dari mobil dan masuk bersama-sama ke dalam restoran tersebut. Steve dan Zanna duduk saling berhadapan satu sama lain. “Kamu mau makan apa?” tanya Steve “Aku ikut kamu aja” jawab Zanna “Sayur lagi?” tanya Steve “Jangan!” cegah Zanna sambil mengerucutkan bibirnya Steve tertawa kecil saat melihat Zanna mengerucutkan bibirnya. Pegawai restoran datang untuk mencatat pesanan dari Steve dan Zanna. Setelah selesai, beberapa menit kemudian pesanan mereka datang. Zanna melihat makanan dan minuman yang datang dan kali ini Zanna bisa bernafas lega. ‘Untung bukan sayur lagi’ batin Zanna lega “Kamu suka daging kan?” tanya Steve memastikan “Suka!” jawab Zanna semangat sambil tersenyum semangat “Soalnya ada orang yang gak bisa makan makanan berat untuk sarapan” jelas Steve “Santai aja, aku bisa!” seru Zanna untuk meyakinkan Steve bahwa ia akan baik-baik saja Steve mengangguk paham dan mereka mulai memakan makanan mereka. “Kamu gak pesan menu sayur-sayur itu lagi?” tanya Zanna “Enggak” jawab Steve sambil menggelengkan kepalanya “Kenapa?” tanya Zanna “Enggak apa-apa” jawab Steve “Lagi gak pengen?” tanya Zanna lagi “Iya” jawab Steve Kali ini Zanna tidak menanggapi apapun lagi. ‘Balas ucapan aku singkat-singkat banget’ batin Zanna ‘Agak kesal’ batin Zanna lagi Steve hanya memperhatikan Zanna yang hanya diam tanpa membuka suara sampai makan mereka selesai. “Aku bayar dulu” ucap Steve Zanna hanya mengangguk dan segera keluar dari restoran untuk menunggu di depan. Setelah Steve selesai, Steve melihat Zanna yang sudah menunggu di dekat parkiran. Steve membuka mobilnya, membiarkan Zanna masuk terlebih dahulu. Setelah Zanna masuk, barulah ia yang masuk ke dalam mobil dan segeera melajukan mobilnya. Steve melihat Zanna sekilas yang tidak membuka topik pembicaraan sejak tadi. Zanna hanya memandang keluar jendela mobil sambil menghembuskan nafas beratnya sesekali. ‘Apa gue ada salah?’ batin Steve “Kamu kenapa?” tanya Steve “Gak apa-apa” jawab Zanna “Yakin?” tanya Steve Steve melihat Zanna yang menganggukkan kepalanya. “Terus kenapa dari tadi diam? Gak buka topik” tanya Steve “Mau kamu aku terus yang buka topik?” tanya Zanna “Bukan gitu” jawab Steve Zanna lagi-lagi menghembuskan nafas berat. “Aku buka topikpun kamu respon pendek-pendek, cuman ya atau kamu balas enggak, gitu-gitu doang” jelas Zanna ‘Oh jadi Zanna dari tadi diam karena itu’ batin Steve “Maaf ya” ucap Steve “Iya, gak apa-apa” balas Zanna Steve memutar pikirannya untuk mencari topik pembicaraan. ‘Apa ya?’ batin Steve Steve melirik kembali Zanna yang masih asik memandang keluar jendela. ‘Ah gue tahu!’ batin Steve “Lowongan kemarin gimana?” tanya Steve “Apanya?” tanya Zanna bingung “Kamu mau?” tanya Steve “Iya, besok aku kirim sama CV aku” jawab Zanna “Emang gak apa-apa jadi staff biasa?” tanya Steve “Gak apa-apa, dari pada pengangguran” jawab Zanna Steve hanya ber-oh saja, tidak tahu mau menanggapi apa. “Pokoknya kerja bareng kamu aja, aku udah senang” ujar Zanna Steve tersenyum saat mendengar ucapan Zanna. ***** “Kenapa lagi lo?” tanya Brian, teman lama Alvis “Biasalah, patah hati dia. Cewek yang dia suka dijodohin sama orang lain” jelas Zaki “Ya lo sih kelamaan! Udah keburu diambil cowok lainkan jadinya!” seru Brian “Gak tahu deh!” seru Alvis “Niatnya mau nunggu hati dia pulih dulu, eh ujung-ujungnya pulih karena mantannya” sambung Alvis kesal “M-mantannya? Maksudnya?” tanya Brian “Cewek yang dia suka dijodohin sama mantannya” jawab Zaki “Gila! Plot twist banget buat hidup lo!” seru Brian “Gue kira gak bakalan balik lagi” ucap Alvis “Udahlah,Vis! Nyerah aja,cinta gak harus dimiliki” ucap Brian “Gue suka banget sama dia, dari SMA. Udah berapa tahun tuh?” tanya Alvis “Iyasih udah lama banget, tapi ya mau gimana” jawab Brian “Udah coba aja lagi, mumpung belum nikah” saran Zaki Alvis hanya diam, ia tidak tahu mau menanggapi apa. “Gue beli minum dulu ya” pamit Alvis Brian dan Zaki hanya mengangguk sebagai balasan. Alvis berjalan beberapa meter dari tempat mereka nongkrong dan menemukan minimarket. ‘Untung dekat, kirain jauh’ batin Alvis Alvis masuk ke minimarket tersebut dan alangkah terkejutnya dia karena mengenal sesosok perempuan yang menjadi kasir. “Hai, Al!” sapa Alvis Ya. Perempuan yang menjadi kasir minimarket tersebut adalah Aleeza. ‘Duh dia lagi!’ batin Aleeza tidak suka “Kita kayak jodoh aja, ketemu mulu!” seru Alvis “Ogah” balas Aleeza “Jangan galak-galak dong sama pelanggan” ucap Alvis “Nanti gue panggil manajernya hayolah” goda Alvis “Ya tinggal dipecat, kan?” tanya Aleeza ‘Nih cewek gak bisa diajak bercanda astaga’ batin Alvis heran Alvis meninggalkan Aleeza dan mengambil minuman yang ingin ia beli. Kemudian kembali lagi ke kasir dan antri karena ada beberapa pelanggan lain. Alvis memperhatikan Aleeza yang sedang scan barang-barang pelanggan dengan tenang sambil menawarkan promo-promo yang ada di minimarket ini. Tanpa sadar, Alvis tersenyum. Alvis maju saat gilirannya dan memberikan minuman yang ingin ia beli. “Jangan lihat gue!” seru Aleeza “Siapa yang lihat lo?” tanya Alvis “Lo pikir gue gak lihat dari tadi lo lihatin gue?” tanya Aleeza “Ya emang kenapa kalau gue lihatin lo?” tanya Alvis Aleeza melihat sekitar untuk memastikan tidak ada pelanggan lain. Setelah itu, ia kembali menatap Alvis. “Nanti lo bisa suka sama gue” jawab Aleeza Jawaban Aleeza sukses membuat Alvis terkejut. Bagaimana bisa perempuan itu begitu percaya diri mengatakan hal itu? Itulah yang dipikirkan oleh Alvis sekarang ini. “Gak mungkin!” seru Alvis “Oh ya udah” jawab Aleeza santai “Tapi jujur gue risih, jadi tolong dikondisikan tatapan mata lo” sambung Aleeza “Iya-iya, gue tegasin sekali lagi! Gue gak suka sama lo, gue bercanda doang bilang jodoh-jodoh tadi” jelas Alvis “Oke” balas Aleeza singkat Alvis melangkahkan kakiknya pergi dari minimarket setelah mendengar balasan Aleeza. Aleeza hanya bisa menatap punggung Alvis yang perlahan mulai menjauh. ******* Alex melihat kakaknya yang dari tadi sibuk mondar-mandir seperti sedang mencari sesuatu. Alex kembali mengingat ucapan Zanna padanya. Flashback On Alex sedang mengantar Zanna yang pulang setelah menemui Steve di kantornya. “Lo lagi berantam sama Steve?” tanya Zanna Alex melihat Zanna sekilas. “Enggak, kak” jawab Alex “Kok gue gak pernah lihat kalian bicara satu sama lain ya?” tanya Zanna Zanna melihat Alex yang seperti merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang barusan ia tanyakan. “Maaf, gue gak bermaksud ikut campur masalah kalian, hehe” ucap Zanna Alex menggeleng. “Emang gak ada masalah kok, kak. Ya kita emang jarang bicara, gak ada topik” ujar Alex “Kayaknya Steve gak anggap begitu deh” ucap Zanna “Gimana kak?” tanya Alex tidak mengerti “Kayaknya Steve kira dia ada kesalahan sama lo, jadi dia canggung gitu” jawab Zanna “Ya gue aja orang luar anggap kalian ada masalah, apa lagi Steve kan?” tanya Zanna Zanna melihat Alex yang tengah menyerngitkan dahinya. “Iyasih, kita jarang bicara sejak aku SMA. Dulu masih baik-baik aja sebelum gue SMA” jelas Alex “Gue juga gak paham kenapa kita begini” sambung Alex “Coba deh, buka pembicaraan gitu. Biar kalian bisa akrab lagi” saran Zanna “Bukan mau ngatur nih, mohon maaf sebelumnya” sambung Zanna “Iya, kak. Terima kasih atas sarannya” balas Alex “Iya, hehe” balas Zanna sambil tersenyum Flashback Off Alex menarik nafas panjang lalu membuangnya. “Cari apa kak?” tanya Alex berani Steve membelalakkan matanya saat mendengar pertanyaan Alex. ‘Tumben banget’ batin Steve “Lagi cari file-file kantor tahun lalu” jawab Steve Alex mengangguk paham. “Emang filenya kakak bawak pulang?” tanya Alex Steve mengangguk. “Gue kayak pernah lihat, bentar ya” ucap Alex Steve mengangguk. Steve mengikuti Alex yang menuju gudang belakang. Dan memeriksa teliti apa yang ada di sana. Alex bernafas lega saat menemukan file-file itu dan memberikannya pada Steve yang sudah berdiri di depan pintu gudang. “Ini kak” ucap Alex “Kok ada di gudang ya?” tanya Steve “Mama yang letak kayaknya” jawab Alex Steve mengangguk paham. “Oke, terima kasih ya” ucap Steve Alex mengangguk. Steve mulai melangkahkan kakinya pergi. “Kak” panggil Alex ragu Steve menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. “Ya?” tanya Steve Alex berjalan mendekati Steve. ‘Ada apa nih?’ batin Steve merasa canggung saat Alex mendekat “Kayaknya kakak salah paham” ucap Alex “Gimana?” tanya Steve meminta penjelasan lebih “Gue gak marah sama sekali sama lo, kak. Lo gak ada salah apa-apa. Sejujurnya gue juga bingung kenapa hubungan kita jadi renggang dan saling canggung kayak gini. Tapi, gue minta maaf kalau ada salah” jelas Alex panjang lebar Steve terdiam sejenak. “Terus kenapa lo gak kasih tahu gue soal Karina?” tanya Steve “Lo sibuk, kak. Ngomong sama lo harus antri dulu” jawab Alex “Ya datang aja ke kantor gue” balas Steve “Lo rapat mulu, malah lama” ucap Alex kesal “Emangnya lo pernah nunggu?” tanya Steve “Pernah! Lama banget, akhirnya gue pulang. Lagian cuman mau kabari kalau gue sebenarnya udah punya pacar, gak pala penting-penting banget sih pasti” jawab Alex “Pentinglah! Lo bayangin gue terakhir yang tahu kalau lo udah punya pacar dan malah tahunya pas lo udah mau rencanakan pernikahan” balas Steve “Maaf ya, kak” ucap Alex “Iya, gak apa-apa. Tapi kenapa sekretaris gue gak kasih tahu kalau lo datang? Kenapa lo gak chat gue aja?” tanya Steve “Sekretaris kakak kayaknya ikut rapat juga waktu itu dan kalau lewat chat kesannya tidak sopan padahal kita satu rumah” jawab Alex Steve menggeleng-gelengkan kepalanya. Alex hanya tersenyum malu. “Lain kali, kalau gue lagi sibuk dan lo mau ngomong chat aja, gue usahain balas” ucap Steve sambil tersenyum “Oke, aman! Jangan canggung ke gue lagi” ucap Alex Steve mengangguk sambil tersenyum. “Oh iya kak, jangan kecewain kak Zanna lagi ya, kak Zanna orang baik, hehe” ucap Alex Steve mengangguk paham. “Gue ke kamar dulu ya? Ada kerjaan” pamit Steve “Oke” balas Alex Steve pun pergi meninggalkan Alex. Alex juga segera menuju kamarnya. Mereka tidak tahu bahwa dari tadi Cassey mendengar percakapan mereka. Cassey sangat senang kedua putranya sudah saling mengakrabkan diri kembali. ******* Steve tiba di kamarnya, ia melirik jam dinding kamar yang menunjukkan pukul tujuh malam. ‘Masih sempat deh kayaknya’ batin Steve Steve mengambil ponselnya untuk menghubungi Zanna. “Halo sayang” sapa Zanna “Kenapa?” tanya Zanna “Aku mau kasih kabar baik” jawab Steve “APA TUH?” tanya Zanna semangat “Aku sama Alex udah baikan!” seru Steve “Seriusan?” tanya Zanna “Iya” jawab Steve “WAH, AKU IKUTAN SENANG! SELAMAT YA!” ucap Zanna “Iya, pokoknya aku terima kasih banget sama kamu” ucap Steve “Kok ke aku?” tanya Zanna “Di akhir pembicaraan Alex ada bahas kamu, kayaknya kamu ada bantu juga. Makasih ya” jelas Steve “Iya sama-sama” balas Steve “Oh iya sayang, aku lagi isi CV nih. Nanti ya aku hubungi lagi ya” ujar Zanna “Oke, kalau ada yang bingung cara isinya hubungi aku aja ya” ucap Steve “Oke sayang” balas Zanna Steve tersenyum dan mengakhiri panggilan itu. Ponsel Steve kembali berdering saat ia baru saja duduk di kursi kerjanya. “Halo” sapa Steve saat menjawab panggilan dari Sam “Eh ini” ucap Sam Steve mengerutkan dahinya. “Udah dijawab?” tanya Dean pada Sam “Udah, makanya gue kasih ke lo” jawab Sam “Buruan!” seru Sam “Halo, Steve” sapa Dean saat sudah menerima ponsel dari Sam “Ada apa?” tanya Steve “Buruan! Gue mau main game” seru Sam “Ya sabar! Baru aja gue mau ngomong, gak sabaran banget sih lo!” seru Dean Steve memijat pelan keningnya melihat kelakuan kedua temannya. “Kalian berdua mulu, pacaran ya?” tanya Steve “Dih geli banget! Lo pikir gue homo?” tanya Dean merasa geli “HEH! SEKALIPUN GUE EMANG HOMO, GUE JUGA GAK MAU SAMA LO!” seru Sam “YA GUE JUGA, OGAH BANGET” seru Dean “KITA BERDUA NORMAL YA, STEVE. GUE GAPLAK LO KALAU NGOMONG GITU SEKALI LAGI” seru Sam “Santai aja kali” ucap Steve ‘Siapa suruh berdua mulu?’ batin Steve “Lo kenapa nelpon pakai ponsel Sam?” tanya Steve “Baterai ponsel gue udah habis, hehe” jawab Dean “Oh gitu” balas Steve “Buruan ngomong ada apa? Gue sibuk” sambung Steve “OH IYA!” seru Dean “Jadi gini, gue mau kabari kalau Ana bakalan ke Indonesia” sambung Dean “Dan kayaknya dia langsung temuin lo dulu deh” sambung Dean lagi “Lo tahu dari mana?” tanya Steve “Dia yang kabari gue tadi” jawab Dean “Oh oke” balas Steve “Lo belum kasih tahu soal perjodohan itu?” tanya Dean “Belum, gue lupa” jawab Steve “Terus kapan dong lo kasih tahunya?” tanya Dean “Ya besok aja sekalian pas dia datang” jawab Steve “Oh oke deh” balas Dean “Gue matikan ya panggilannya” pamit Steve “Iya” balas Dean Steve segera memutuskan panggilan mereka dan fokus pada kerjaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD