NISCAYA ada suatu momen tertentu di mana déjà vu dapat mengusik isi kepala seseorang hingga menciptakan kepeningan. Ingatan Candice Emrys seakan-akan kembali terlempar menuju momen ketika ia harus melesak di antara kegelapan pekat demi menampik pemanipulasian Tedros Tiberias terhadap Glacies—separuh jiwa dari Sapphire Galaxy.
Sepasang netranya jelalatan mengitari lokasi serba hitam yang membelenggu gadis itu tanpa menganugerahinya secuil pun penerangan.
Langkah kaki Candice begitu skeptis selagi ia mulai beringsut-ingsut melintasi lokasi tanpa atap, dinding, dan lantai untuk berpijak. Gurat bingung terpatri jelas pada permukaan wajah gadis itu. Ia bisa merasakan debaran jantungnya terlampau cepat, seakan-akan tengah memberikan sinyal bahaya kepada tubuhnya. Akan tetapi, Candice menolak untuk berdiam di tempat lantaran berpikir tak akan ada untungnya juga bila ia menghindar.
Menjelang lima menit tanpa suara—kecuali debaran jantungnya, suara lembut dari entitas tak kasatmata serta-merta mengakhiri senyap. Candice refleks berhenti. Lantas indra penglihatnya lagi-lagi mengitari pekatnya kegelapan tanpa jeda. Cukup lama, hingga akhirnya ekor mata gadis itu menerima sinar dengan intensitas luar biasa terang dari balik pundaknya.
Kala ia menoleh, netranya membaur cepat kepada figur seorang wanita dengan tinggi melampaui sebuah gedung pencakar langit. Lidah Candice terasa kram, perutnya melilit mual. Sepasang netra hijaunya terus mengintai setiap lekuk liku wanita tersebut dengan cermat, memastikan indra penglihatnya tidak salah tangkap.
Gaun serba putih menjuntai hingga menutupi kaki jenjang wanita itu. Figur tersebut tampak menjatuhkan kedua netra kelabunya untuk balas menatap Candice dengan begitu teduh dan sendu. Tidak ada sinyal bahaya. Wanita itu bukan ancaman. Lambat laun, debaran jantung Candice mulai terkondisikan. Ia merasa aman.
“Siapa—astaga, Glacies!”
Candice menolak untuk meneruskan kalimatnya ketika sesosok makhluk bersurai biru dengan tanduk dan sayap muncul dari balik figur wanita itu. Separuh jiwa dari Sapphire Galaxy tersebut menukik cepat ke arah wajah Candice dan merengkuhnya begitu erat, melepas rindu.
“Bagaimana bisa kau berada di sini?” lanjut gadis itu.
“Candice Emrys ….”
Suara merdu wanita itu terdengar. Tanpa melepaskan Glacies dari tangannya, Candice segera memindahkan tatapan menuju si wanita. Air mukanya tampak kebingungan, tetapi rasa kagum lebih mendominasi di sana. Pasalnya, wanita yang sedang berdiri di depan Candice saat ini memiliki rupa yang begitu memikat; netra kelabu yang tampak damai, hidung bangir yang terpatri sempurna, bibir merah delima yang begitu memesona, dan segala yang berpusat dalam dirinya penuh dengan keelokan tak terjamah.
Di antara semuanya, surai putih yang bergelombang membuat keeleganan dan keelokan wanita tersebut begitu kentara.
“Kau … Sang Penguasa,” bisik Candice, mendapat dorongan tak kasatmata yang membuatnya mampu berasumsi demikian.
Anggukan pelan dari Sang Penguasa berhasil mengundang sorot nelangsa dalam netra hijau Candice. Ia semakin merapatkan tubuh Glacies ke dadanya, mengepalkan kedua tangan miliknya erat-erat. Dengan kepala tertunduk, Candice menggigit indra perasanya sendiri, sebelum akhirnya mengatupkan bibir dalam kebisuan. Glacies menelengkan wajah ke arah Candice dengan tatapan lugu, lantas melontarkan ringkik kecil yang tidak pernah absen membuat gadis itu gemas.
“Angkat kepalamu, sayang.” Dua tarikan di sudut bibir Sang Penguasa terukir di paras eloknya. “Tidak ada waktu untuk bersedih dan menyalahkan diri. Kita belum sepenuhnya kalah. Ini bukan sebuah akhir—perjalananmu sebagai Sang Terpilih masih panjang.”
“Aku bukan Sang Terpilih. Aku … suatu bentuk kegagalan paling fatal.” Tremor mendera jemari dinginnya kala Candice mengeratkan rengkuhan terhadap Glacies. Desir halus terasa bergumul mengisi dadanya. Pecundang, umpat gadis itu di dalam hati. Dengan segala usaha, ia kembali meneruskan, “Tedros telah menaklukkan semuanya. Tidak akan ada yang berubah.”
Sang Penguasa lantas menggeleng. Wanita itu merunduk untuk menempatkan kedua tangan di atas bahu Candice, kemudian membisikinya, “Akan ada yang berubah. Apakah kau mengingat amanat dari vampir penerawang itu?”
Binar kesedihan mulai pudar dari netra hijau Candice, tergantikan oleh rasa penasaran. Alfred Grant. Satu nama itu kontan mengisi kepalanya. Baru saja Candice hendak melontarkan kebingungan, ia langsung mengatupkan bibir.
Lawan sesungguhnya bukanlah figur yang selama ini engkau tahu. “Tedros. Ia bukan lawan kita?” bisik Candice, keraguan mendominasi nada tanyanya.
Dengan sekali anggukan dari Sang Penguasa, asa yang sempat pudar mulai terbit kembali di benak Candice. Lantas, keduanya mulai membicarakan segalanya secara empat mata—terlepas dari presensi separuh jiwa dari Sapphire Galaxy, tanpa menyadari adanya sosok lain. Ia turut mendengar dari kejauhan, terdiam di tempatnya berpijak, mematung, sekaligus menahan letupan amarah yang siap pecah.
“Aku menentang keras!” katanya, terdengar tidak menerima bantahan.
Tristan Baxter berdiri di sana. Baik Sang Terpilih maupun Candice sama-sama terkejut dengan presensi pemuda itu di dalam ruang ciptaan Sang Penguasa—sedangkan fungsi dari ruang ciptaan ini sendiri supaya Sang Penguasa dapat berbincang secara empat mata dengan Candice. Lantas, bagaimana bisa? d**a Candice sontak bergemuruh, ketakutan lantaran pemuda itu telah mendengarnya; konsekuensi yang jelas menguntungkan untuk mereka, namun tidak untuknya.
“Tris, bagaimana bisa kau ada di sini?” tanya Candice.
Alih-alih merespons, Tristan beringsut dari tempatnya berpijak. Sorot netra hitamnya tampak berkilat-kilat tajam, tetapi sorot cemas lebih mendominasi. “Jangan lakukan itu,” pintanya. “Dengarkan aku, Candice. Jangan.”
Candice membisu. Tristan segera mencengkeram erat lengannya, seakan-akan sedetik saja ia melepaskan Candice, gadisnya mungkin saja tak akan terjamah. “Demi darahku, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu.”
Tristan mengalihkan atensi dari Candice menuju Sang Penguasa. “Kau adalah Sang Penguasa. Semestinya kau tidak akan membiarkan Candice untuk—”
“Karena ialah Sang Penguasa, maka ia tahu yang terbaik untuk kita—untuk keseimbangan alam.” Candice mengangkat suara, kali ini nada bicaranya terdengar yakin. Ia tidak bisa terlihat gugup dan ragu di depan mata pemuda itu. “Tris, semua akan baik-baik saja.”
“Omong kosong,” balas pemuda itu. “Semua tidak akan baik-baik saja.”
“Percayalah ….” Candice meringis, menunduk untuk menghindar dari kedua netra tajam itu. Entah sejak kapan, netra hitam Tristan telah menjadi salah satu kelemahan sekaligus ketakutan terbesarnya. “Ini waktuku untuk bangkit, Tris. Kejayaan pasti akan berhasil kita raih sebentar lagi.”
Erangan marah lolos dari bibir pemuda itu. Tristan mengacak surai hitamnya dengan frustrasi. “Tidak seperti ini, Candice!” hardiknya, putus asa.
“Akan kumenangkan medan pertempuran ini.” Candice berjingkat, melingkarkan kedua tangan di leher pemuda itu sekadar merengkuhnya erat—yang berkemungkinan untuk kali terakhir. “Kau dan semuanya telah berjasa. Sekarang adalah giliranku, Tristan. Maaf, kurenggut kekuatan itu darimu.”
Tristan bungkam seribu basa. Ia mengeratkan lengannya pada lingkaran pinggang gadisnya. Pemuda itu belum sempat mengangkat bicara lagi. Sihir pelenyap Candice telanjur merenggut habis kekuatan dalam diri Tristan, semata-mata agar pemuda itu mati rasa dan tidak ada alasan untuk melarang. Raga Tristan mulai meredup transparan. Mengerahkan seluruh tenaga yang ia punya, Tristan segera mengangkat kepalanya, mendapati Candice beringsut mundur sembari tersenyum pilu.
Selintas pandang, ia menemukan kilat kemerahan pada sepasang netra gadisnya.
“Candice, kau tidak akan—
“Maaf, Tris.” Figur Candice kian termakan jarak di antara keduanya. “Aku tetap menjalankan konsekuensinya.”
Pandangan Tristan mengabur. Ia mencoba untuk mengulurkan tangan, hendak meraih gadis itu dan berakhir gagal. Candice tidak terjamah—bisa jadi tak mungkin lagi bisa ia jamah. Ingatan tentang percakapan antara Candice dengan Sang Penguasa mulai menguap, terdistorsi oleh sesuatu tak kasatmata, hingga benar-benar raib sampai Tristan tidak mengingat apa pun yang sempat terjadi.
Dan entah mengapa, segalanya terasa menjadi tidak wajar.[]