Namaku Siti Aisyahrani. Aku terlahir dari keluarga sederhana kedua orang tua ku sudah tiada sepuluh tahun yang lalu, tepat di hari pernikahan ku dan Mas Ryan.
Mas Ryan bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah proyek, gajinya sehari hanya 120 ribu yang selalu di bayar dalam satu minggu sekali, namun aku hanya menerima 140 ribu dari gaji suamiku, lalu sisanya kalian tahu sendiri, uang itu sudah di kuasai oleh Ibu mertuaku.
Mas Ryan adalah anak tunggal dari ibunya, dia yang menjadi tulang punggung.
Ibu mertua yang sudah menikah lagi, dengan duda anak dua juga menjadi tanggung jawab suamiku, dia harus memenuhi kebutuhan keluarga baru ibunya.
Maka dari itu ibu mertua selalu terlebih dahulu menguasai gaji putranya, untuk kebutuhan suami serta anak tirinya.
Sementara suamiku hanya di beri 140 ribu dari gajinya, dan uang itu selalu di berikan semua padaku untuk makan kami selama seminggu.
"Maaf. Dek, ini sisa gaji mas, ibu sudah mengambilnya terlebih dahulu. Mas hanya di beri oleh ibu 140 ribu ini untuk seminggu, semoga cukup karena kita hanya berdua, biarlah setiap hari makan telur mata sapi ini. Mas harap kamu bisa bersabar, dan selalu bersyukur atas nikmat dan rezeki yang Allah berikan pada kita, namun suatu saat mas janji akan membahagiakan mu."
Mendengar ucapan suamiku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Mas Ryan memang lelaki yang bertangung jawab, dia pria yang jujur dan setia, aku pun memang tak pernah marah apalagi mempermasalahkan hal sepele ini, mungkin memang ibu yang lebih membutuhkan uang itu dari pada kami.
Al hasil kami hanya bisa memakan telur mata sapi ini setiap harinya, terkadang uang yang khusus ku belikan telur itu juga tidak cukup, harus ada yang mengalah di antara kami, dan aku lah yang berkorban, aku harus menahan lapar atau berpuasa karena harga telur selalu turun naik.
Selama sepuluh tahun, aku jalani semua ini dengan penuh ikhlas dan rasa syukur. Aku menerimanya bagiku uang jatah 20 ribu sehari yang diberikan suamiku, sudah cukup untuk makan kami berdua, karena bagiku rezeki bukan di ukur dari seberapa banyak jumlahnya, tapi di ukur dari keberkahannya.namun lama kelamaan, tak jarang aku juga kebingungan. Aku takut Mas Ryan akan bosan karena aku hanya bisa menyediakan telur mata sapi ini.
Karena uang yang di berikan Mas Ryan pun memanglah tidak cukup untuk membeli lauk pauk yang lain, hanya telur, dan beras, yang bisa ku beli dengan uang segitu.
Saat yang kutakutkan pun terjadi, dimana aku selalu meletakan satu piring nasi serta satu telur mata sapi, untuk sarapannya.
"Telur mata sapi lagi. Dek?" Tanyanya saat itu.
Aku hanya menjawab seadanya" iya Mas"
Mas Ryan menghela napas panjang lalu lanjut bertanya " Memang tidak ada lauk yang lain?".
Deg
Air mata yang ku tahan mati-matian akhirnya keluar tanpa aba-aba.Pertanyaan itu yang begitu menyakitkan bagiku, merasa diri gagal menyediakan yang terbaik untuknya.namun apa boleh buat aku tak bisa melakukan apa-apa, jangankan untuk membeli lauk yang lain, untuk menghemat telur saja aku harus kelaparan.
Aku memilih diam membisu, namun tak lama Mas Ryan meminta maaf. Aku mencoba menatap wajah nya yang terlihat sendu, aku mengerti suamiku mungkin bosan jika hanya makan dengan itu saja.
Suamiku terus meminta maaf, dan menyalahkan dirinya yang tak mampu memberi uang lebih padaku.
Aku berusaha menghiburnya dan mengatakan bahwa dia adalah suami yang terbaik, setelah agak tenang, aku menyuruhnya untuk segera memakan sarapan buatanku.
Suamiku, menyatap makanan itu dengan mata yang terus menatap wajahku, kulihat matanya nampak berkaca-kaca entah apa yang ia pikirkan sekarang.
Di saat momen mengaharukan di antara kami terjadi. Ibu mertua datang dengan berteriak memanggil nama suamiku.
"Ryan. Ibu mau bicara!" Panggilnya.
"Ada apa, Bu?" Tanya, Mas Ryan.
"Astaga, Ryan. Setiap hari makan telur mata sapi, nga bosan apa kamu?" Ujar Ibu mertua. Saat melihat isi piring makanan putranya yang hanya berisikan nasi dan telur, sedetik kemudian. Ibu mertua langsung menatapku tajam, ibu mertuaku selalu menyalahkan ku, yang katanya tak becus mengasihi makan anaknya.
"Kamu kasih suamimu makan sama telur terus, bisa-bisa dia bisulan Aisyah. Harusnya kamu kasih dia makanan yang sehat biar nyari duitnya juga semangat, pantas saja putraku kurus kerempeng gini kalau setiap harinya makan telur mata sapi." Ujar, Ibu mertua. Jika ia tiba- tiba berkunjung ke rumah kami.
Sudahlah, Bu. Sebenarnya ibu mau apa kemari?.
"Ibu butuh modal usaha, Ryan."
"Ibu tidak lihat keaadan ku dan Aisyah bagaimana, mana ada kami uang untuk mo
dal usaha ibu."
"Bukan itu maksud ibu, Ryan. Ibu mau kamu menikahi Marni." Ujar ibu mertua.
Sungguh hati ini sangat sakit, permintaan mertuaku kali ini sukses membuat d**a ini sesak.
Apa ibu sudah tak waras, Ryan ini sudah punya istri, Bu."Ucap Mas Ryan.
"Ibu tahu, Ibu tak akan meminta kamu menceraikan Aisyah, tapi dalam agama laki-laki boleh memiliki istri lebih dari satu bukan, maka ibu ingin kamu menikahi Marni. Demi ibu, Ryan"
"Aisyah kamu izinkan dan rayu, Ryan. Untuk menikahi Marni" Pinta Ibu mertua padaku.
Apakah aku tidak salah dengar.ibu mertua, yang tanpa perasaan meminta menantunya untuk merayu suaminya menikah dengan wanita lain. Marni si janda kaya raya itu.
Ibu mertua. Bagaimana bisa?. Kau meminta hal itu padaku, tidak ada satupun seorang istri yang mau di madu, tidak ada satupun yang menginginkan cinta suaminya terbagi pada wanita lain. Itu adalah mimpi buruk bagi seorang istri.
'Ya Robb. Cobaan apalagi? yang kau berikan padaku?.'
Air mata ini bercucuran deras, kedua tangan ku mendekap d**a yang terasa sesak, kemudian tanpa sadar tubuh ini sudah tak kuat lagi menatap kedua orang di hadapannya, tanpa pamit aku meninggalkan mereka.