13. Adila

1017 Words

“Ayo, bilang yang jujur,” ujar Diva begitu kami sampai di taman kampus. Aku menghela napas dan berpura-pura mengerutkan kening. Masalah pria itu sebaiknya tidak dibicarakan lagi dengan Diva. Semua omongan Diva bukan membuatku merasa tenang. Sebaliknya, dia seolah ingin mendorongku ke jurang hitam. Maksudku, bukan dalam arti sesungguhnya. Aku sendiri tidak yakin mengapa Diva terus mendesakku membicarakan Arvino. Kami mungkin tidak akan bertemu lagi. Sesuatu yang menyebabkan kami bersua hanya dompetku. Sekarang, benda itu sudah berada di tanganku. Apa ada alasan lain kami untuk bertemu. Fadil. Baiklah. Aku mungkin sesekali ingin mengunjungi anak yang telah aku tolong itu. Sekadar untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Arvino tidak akan berada di panti sepanjang waktu, bukan? Dia jug

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD