Story

941 Words

Senyum sinis terbit di bibir Patra. Dia merasa Cella menampar wajah tampan miliknya dengan ucapan tajam. Satu kelebihan yang dimiliki Cella memaksa Patra membuka matanya lebar-lebar. Tidak semua wanita yang terlihat lemah benar-benar lemah. Terkadang dia hanya tidak ingin semua orang menyadarinya. Pikiran tentang jawaban atas pertanyaan Cella pertama menjadi hal yang sepertinya cocok mereka bicarakan. "Cium aku dan aku akan menceritakan semuanya," tukas Patra. "Bodoh! Tanpa memintanya pun aku tetap akan menciummu. Bagaimana mungkin aku membiarkan laki-laki tampan sepertimu tidak tersentuh," goda Cella. Wanita itu mendekatkan tubuhnya hingga menempel di kulit Patra. Hembusan Patra terasa hangat di tengkuknya. Perlahan Cella memberanikan diri menepis jarak yang tersisa. "Cup! Aku mencin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD