Waktu terus berjalan. Tanpa terasa dua bulan sudah Bayu dan Nadira backstreet di belakang Anisa. Bayu sengaja menyewa apartemen untuk dia gunakan jika mereka sedang ingin bermesraan. Jika Anisa pergi ke luar kota, baru mereka akan melakukannya di rumah. Dan Nadira tidak keberatan untuk itu.
Saat ini Anisa sedang berada di luar kota. Sudah tiga hari. Dan rencana awal, urusannya akan selesai dalam lima hari. Namun, belum sampai empat hari, urusan itu telah selesai. Dan Anisa memutuskan untuk pulang hari ini juga.
***
(Anisa)
Saat ini aku sedang berada di pesawat dalam perjalanan pulang. Perasaanku benar-benar tidak enak. Entah karena apa. Urusanku dapat selesai dengan cepat. Dan aku putuskan untuk pulang. Aku sangat merindukan Mas Bayu. Karena selama di luar kota, kita jarang bertelepon. Karena dia sedang sibuk mengurusi proyek baru. Karena itu juga, sengaja aku tidak menghubunginya untuk menjemput. Aku bisa naik taksi.
Jam setengah sembilan malam, aku sampai di depan gerbang rumah kami. Aku sengaja masuk lewat pintu belakang. Ingin memberi Mas Bayu kejutan. Pintu belakang memang jarang dikunci sebelum Bik Sumi tidur.
Sayup-sayup aku mendengar suara televisi dari ruang keluarga. Bik Sumi yang terkejut melihat kedatanganku hampir berteriak kalau aku tidak meletakkan jari telunjuk di depan bibirku. Tanda agar dia tidak bersuara. Bik Sumi mengangguk. Aku melanjutkan jalanku sampai di ruang keluarga.
Jantungku terasa mau lepas, mataku melebar. Di sana, di sofa yang menghadap televisi, ada Mas Bayu dan Nadira yang duduk membelakangiku. Mereka tidak menyadari kehadiranku. Mereka tengah berciuman dengan mesranya. Bahkan suara decapannya sedikit terdengar dari jarak dua meter tempatku berdiri. Aku mundur teratur dengan pelan.
"Bik, jangan bilang Mas Bayu kalau saya udah pulang ya ... biar dia tahu sendiri," ucapku pada Bik Sumi. Bik Sumi tidak tahu apa yang Mas Bayu dan Nadira sedang lakukan. Karena jarak dari dapur ke ruang keluarga lumayan jauh.
"Baik, Bu ...," jawab Bik Sumi.
"Itu di tas pakaian kotor semua. Tolong beresin, ya ...."
"Baik, Bu."
Setelah itu aku masuk ke kamar. Aku tumpahkan air mata. Kenapa rasanya sesakit ini? Nadira juga istri Mas Bayu. Sudah sewajarnya mereka melakukannya. Bahkan sah-sah saja jika lebih dari apa yang aku lihat tadi. Padahal dari awal aku sudah menduga kalau hal ini pasti akan terjadi. Sejak kapan mereka sedekat ini? Kenapa aku tidak menyadarinya.
Ya Tuhan ... beri aku keikhlasan ....
Kupandangi sekeliling kamar. Memperhatikan satu persatu foto kebersamaanku dan Mas Bayu. Dan seketika semua berubah dalam pandanganku. Di sana bukan aku, tapi wajah Nadira-lah yang muncul.
Kamu harus ikhlas Anisa ... kamu harus ikhlas.
Kuraih tasku. Aku ambil sepasang paket honeymoon yang sudah aku pesan untuk minggu depan.
Kemudian kuraih ponselku. Aku akan menghubungi seseorang untuk meng-cancle tiket atas namaku dan menggantinya dengan nama lain.
***
Jam sebelas malam aku keluar kamar untuk mengambil air minum. Tenggorokanku terasa sangat kering. Kamarku berada di ujung. Karena di lantai dua ada tiga kamar yang berjejer. Untuk mencapai tangga, aku harus melewati kamar yang ditempati Nadira. Saat tepat di depan kamarnya, aku mendengar suara desahan mereka. Meskipun sangat pelan, tapi aku dapat mendengarnya. Karena malam hari jadi rumahku sangat sunyi.
Aku terhenti. Lagi-lagi air mataku menetes. Tapi malaikat dalam diriku berkata, mungkin ini memang saatnya. Siapa tahu Mas Bayu bisa memiliki anak dari Nadira. Karena aku juga tidak tahu kapan hidupku akan berakhir. Mungkin saja besok.
Satu bulan yang lalu, aku mendapatkan kabar buruk. Aku memeriksakan diri ke dokter. Dokter itu mengatakan jika kerusakan ginjalku makin parah. Aku harus segera melakukan pencangkokan ginjal. Tapi sampai sekarang, aku belum mendapatkan pendonor yang tepat. Memang sudah lama ginjalku bermasalah. Mas Bayu juga tahu itu. Tapi sudah lama juga aku tidak mengeluhkan apa pun. Baru satu bulan yang lalu aku merasakan sakit yang luar biasa. Dan akhirnya mendengar kenyataan itu. Aku belum sempat mengatakannya pada Mas Bayu karena akhir-akhir ini, dia selalu mengatakan jika dia sangat sibuk.
Tapi sekarang, aku rasa merahasiakannya dari Mas Bayu adalah jalan yang terbaik.
Tbc.
***