Di sebuah rumah di Tangerang, seorang perempuan berusia 26 tahun berdiri di tepi jendela kamarnya. Tatapan matanya tajam, memperhatikan pagar rumah yang menjulang tinggi. Ia sedang mengukur ketinggian pagar itu, bukan dengan alat, melainkan hanya dengan matanya. Terlalu tinggi nggak, ya? Bisa nggak gue lompatin? pikirnya sambil menggigit bibir bawah. Ini bukan rumahnya. Ini rumah suaminya. Atau lebih tepatnya, rumah laki-laki yang secara sah menikah dengannya, tapi sama sekali tidak ia anggap sebagai suami. Pernikahan ini sudah berjalan setahun, tapi rasanya asing. Bukan seperti rumah tangga pada umumnya, lebih seperti dua orang asing yang terjebak dalam satu rumah yang sama. Mereka jarang berbicara. Kalau bertemu di ruang makan, hanya ada percakapan-percakapan basa-basi yang dingin. Ba

