2025 (14)

1593 Words

Adel menepikan mobilnya perlahan di depan taman kanak-kanak, lalu menoleh ke kursi belakang, tempat anak keduanya duduk dengan wajah penuh semangat. Begitu sabuk pengamannya dilepas, bocah laki-laki itu langsung berseru riang. "Makasih, Mamaaa!" Tanpa menunggu, ia langsung membuka pintu mobil dan melompat turun dengan lincah. Wajahnya begitu ceria, penuh energi khas anak kecil yang seolah tak pernah kehabisan tenaga. Adel tertawa kecil melihatnya. Ya, cowok sih. Tapi entah kenapa, Adel melihat terlalu banyak jejak ‘kecentilannya’ sendiri di bocah kecil itu. Dulu waktu kecil, Adel memang ekspresif, suka bercanda, suka cari perhatian. Dan sekarang, karma sepertinya datang dalam bentuk anak keduanya ini. Bocah itu melambaikan tangan ke arah mamanya sekilas sebelum berlari kecil menuju ger

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD