Arya sekeluarga tiba di Jakarta, setelah jenazah sang ayah sudah dibawa pulang ke rumah. Ia tak bisa menahan tangis saat melihat jasad ayahnya. Meski hubungan mereka tidak terlalu dekat, tapi ayahnya salah satu orang yang mendukung saat ia memilih Aisah sebagai istrinya, bukan Devira, gadis yang dijodohkan dengannya. "Bu.... " Arya menatap Zubaidah yang sudah bengkak matanya. Zubaidah tak mampu berkata-kata. Arya mendekap bahu Malika, adik satu ayah dengannya. Malika menangis sesunggukan di d**a Abangnya. Aisah berpelukan dengan Zubaidah. Kedua wanita beda usia itu sama-sama menangis. "Ikhlaskan, Bu." "Aku ikhlas, Aisah. Tapi, air mata ini seperti tidak mau berhenti mengalir," jawab Zubaidah di antara isakannya. Aisah mengusap bahu ibu tiri suaminya. "Arya," Adrian berdiri di dekat

