Bab 3

2522 Words
Sepasang manusia yang kini tengah bergumul untuk mencapai kepuasannya masing-masing semakin bergerak agresif. Tak memerdulikan malam yang semakin larut. Bahkan hawa dingin sama sekali tak mempengaruhi diri mereka yang telah panas dengan hawa nafsu. Sang gadis yang hanya terlentang dengan kedua kaki yang terbuka lebar, memberikan kemudahan bagi pria itu memasuki liang senggamanya. Tangannya meremas bantal dan seprai secara bergantian. Pria di atasnya itu semakin gila menghunjamkan miliknya dalam-dalam. Gadis itu hanya terus mendesah dan berteriak. Tak di pungkiri, hatinya pilu merasakan kegiatan intim ini. Bagaimana tidak. Pria yang saat ini tengah menyetubuhinya adalah pria pertama baginya. Sekaligus pria yang tidak pernah ia harapkan sebelumnya. Bunyi dan aroma percintaan mereka semakin menguar di seluruh penjuru ruangan itu. Bagi pria itu, bercinta hanya dengan sekali o*****e tidak akan pernah cukup baginya. "Ahhhh,.. Shhhh...." desahan itu seakan memberikan semangat lebih untuk pria itu menggerakan kejantanannya yang berpacu di dalam v****a sang gadis. "You so hot, babe." pria itu merendahkan tubuhnya tepat di samping wajah sang gadis. Mengucapkan katanya tepat di telinganya. Air mata mulai mengalir di sudut mata gadis itu. Hidupnya telah sepenuhnya hancur. Karena tidak ada yang lebih buruk dari seorang wanita yang kehilangan keperawanannya sebelum menikah. Ini semua ia lakukan demi keluarga yang telah memberikan kebahagian baginya. Ya. Ia harus kuat menjalani penderitaan ini semua. Meski hatinya telah hancur menjadi kepingan debu yang hanya akan hilang dengan sekali saja tiupan angin. "Akhh.. Lionnhhh.." Felicya meresa sebentar lagi dirinya akan meledak. Dia berusha meyakinkan hatinya, toh lebih baik melakukannya untuk yang pertamakali bersama pria asing, daripada harus memulai bersama Darin. Lion semakin memeluk erat tubuh Anna. Memasuki Anna sama saja menghisap nikotin. Ingin lebih, lebih dan lebih. Sungguh nikmat. "Akhhh." lenguhan panjang dari keduanya saat merasakan pelepasan yang begitu nikmat. Lion berguling ke samping melepas kontak tubuh mereka. Mengatur nafasnya yang belum setabil, di balik topeng emas miliknya ia melirik gadis yang baru saja ia prawani itu juga tengah mengatur nafas. d**a indahnya naik turun, dan itu seperti panggilan untuk Lion agar melahapnya. Menggelengkan kepala menghapus pikirannya itu, Lion memilih segera tidur. Felicya menengok kebelakang, dimana pria yang mengaku bernama Lion itu berada. Setelah mendengar nafas teratur pria itu, Felicya sepelan mungkin bangun dari ranjang. Felicya menatap nanar pakaiannya yang sudah tak terbentuk. "Gimana nih? Gimana cara baliknya?" gumamnya. Ia menggigit bibir bawahnya, berpikir sangat keras. Matanya penuh binar saat melihat kemeja putih milik Lion yang tergeletak tak jauh dari bajunya. Ia lekas memakai kemeja itu, syukurlah tubuhnya yang mungil membuat kemeja kebesaran itu menutupi pahanya. Pukul 02:13 pagi, Felicya yakin para tamu undangan pesta telah pulang semua. Ia ragu. Haruskah ia membuka topeng Lion untuk melihat rupa orang pertama yang memasukinya? Atau membiarkannya saja, dan ini akan menjadi rahasianya untuk selama-lamanya. "Ah masa bodoh deh!" decak Felicya. Yang ia pikirkan saat ini harus segera pulang. Felicya baru tiba di rumah setelah empat puluh lima menit menempuh perjalanan menggunakan taxi. Sebuah keberuntungan baginya saat ia tiba di rumah, kondisi rumah sepi. Sehingga tak membuat Felicya berpikir mencari alasan apa yang pas saat ada yang bertanya. Melepas topengnya, lalu melemparkan topeng itu di atas kasurnya, Felicya menghela nafas lelahnya. Selangkangannya terasa sakit akibat ulah si Lion itu. "Bagaimana bisa ada pria seperti itu? Dia bahkan tidak memberiku istirahat sama sekali." decak Felicya. Tapi di luar dugaan, wajahnya justru merona saat mengingat momen dimana 'Lion' memakusinya. Ughhh.. Pria itu sungguh perkasa. Felicya menggeleng tak ingin mengingatnya lagi. Ia menjambaki rambutnya frustasi. Apa sekarang ia menyesal tak melihat wajah pria itu? "Ah, aku harus segera berkemas." Felicya memaksakan tubuh lelahnya untuk mengepak baju-baju yang harus ia bawa. Ia ingat Darin mengatakan akan menyuruh sopirnya untuk menjemput dirinya. Jadi ia harus mempersiapkan dirinya dengan baik. Baik itu mental dan fisiknya. Baru saja Felicya merasa nyaman dengan tidurnya, tapi goncangan di tubuhnya berhasil membawa tubuhnya sadar kembali. "Ughhh.. Jam berapa ini.." lenguh suara serak Felicya. "Non, non Feli bangun! Ada yang nyariin di bawah." ternyata Art-nya. Masih dengan mata terpejam dengan kesadaran yang hampir 55% itu Felicya menimpali. "Siapa bi?" "Gak tau non. Dia cari non Feli. Katanya mau jemput non Feli." kata 'menjemput' itu sukses membuat matanya terbuka lebar. Ia langsung terduduk. "Sepagi ini?" "Pagi apanya? Ini udah jam dua belas siang non." Felicya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ternyata ia sudah tidur cukup lama yaa? "Yaudah Bi, suruh aja dia nunggu sebentar. Felicya mau siap-siap dulu." "Baik non." Felicya segera melesat ke kamar mandi dan bersiap. Sesudah semuanya siap, Felicya kini berdiri di depan pintu ruang kerja Vincent, sang ayah. Menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, Felicya memberanikan diri mengetuk pintu. Terdengar suara tegas sang ayah setelah dua ketukan yang dilakukannya. "Ada apa nak? Ada yang ingin kau bicarakan dengan ayah? Apa itu mengenai kuliah mu?" Bahu Felicya melemas. Menghampiri ayahnya dengan berat hati. "Ayah, Felicya tidak akan kuliah untuk tahun ini. Mungkin tahun depan. Sebenarnya..." Vincent menunggu kalimat Felicya berikutnya. "Felicya ingin hidup mandiri ayah. Feli ingin tinggal sendiri. Tapi ayah jangan sedih, Feli akan sering berkunjung kesini. Ijinkan Feli ayah." Felicya menangkup kedua tangannya, memohon. Vincent menatap sendu putri angkatnya itu. "Brighita pergi dan belum mau kembali. Apa kau juga akan pergi?" "Ayah, maafkan Feli. Tapi mungkin, ini keputusan yang tepat, yang bisa aku ambil untuk saat ini." Veincent mendekati putrinya. Memegang pundak Felicya. "Baiklah, ayah tidak akan melarangmu. Kau sudah memberi tau ibumu?" "Sudah ayah. Dia sedikit tidak terima aku pergi dari rumah." Felicya mengingat percakapannya pada ibunya yang melarang keras dirinya pergi dari rumah ini. Felicya paham maksud dari larangan itu, bukan bentuk larangan karena kekhawatiran melainkan larangan karena takut jika Felicya pergi, Felicya tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Brighita di rumah ini. Setelah ayahnya mengijinkan, Felicya langsung di bawa oleh orang suruhan Darin. Pria itu cepat sekali bertindak. Dan itu membuat Felicya kesal. Kekaguman Felicya seakan tak pernah habis untuk memuji megahnya bagunan di hadapannya. Darin seperti pangeran di dunia nyata, wajah rupawan serta kekayaan yang berlimpah, beruntungnya pria itu. "Mari nona." sopir itu menuntun Felicya memasuki area rumah. Felicya mengekor di belakangnya. Takut-takut nanti ia akan tersesat. Sampai pada mini bar yang pernah ia datangi untuk pertama kali. Sama seperti dulu, Darin duduk melihat kehadirannya. Tangan kanannya memegang sebuah gelas berisi minuman, tangan satunya di masukkan ke dalam saku celananya. Tatapannya tajam, menusuk siapapun yang menjadi lawan pandangannya. Felicya meneguk ludah melihat pria arogant itu. "Saya permisi tuan." pamit sopir itu. Menyisakan Felicya dan Darin seorang. Darin belum membuka suara, pria itu justru semakin menatap Felicya. Membuat yang ditatap berdiri kikuk. "Ehkmm." Felicya berdeham. Mencoba membuat Darin mengerti bahwa dia gugup di tatap oleh mata elang itu. "Hufft." terdengar hembusan nafas Darin. Pria itu meletakkan gelasnya, lalu berdiri menghampiri Felicya dengan angkuhnya. Felicya mengedipkan matanya beberapakali saat tubuh Darin berada dekat dengannya. Tubuh besar Darin membuat Felicya menciut. "Ikut." titah Darin. Huh. Lagi-lagi dia harus menjadi buntut. Darin membawa Felicya pada ruang tengah. Di sana sudah ada para maid yang berbaris menyambut kedatangannya. Atau lebih tepatnya menyambut Darin, sang majikan. Para maid itu menunduk hormat. Felicya dapat melihat beberapa maid yang tersenyum nakal kearah Darin. Ihh apa-apaan itu? Sebelah alis Felicya mengeryit bingung. "Mulai sekarang, Felicya akan menjadi pelayan pribadi saya. Dia yang akan mengurus kebutuhan saya. Bi Daisy, setelah ini tolong jelaskan apa saja yang harus di lakukan Felicya." kalimat pernyataan Darin barusan membuat para maid yang sedari tadi melirik tertarik pada Darin mengerang tak terima. Felicya beranggapan bahwa Darin bukanlah pria yang suka basa basi. Pria itu selalu to the point dengan tujuannya. Yaah seperti saat pria itu tanpa basa basi memintanya untuk menampung benih pria itu. Darin pergi meninggalkannya di antara para maid yang sedang bersungut menatapnya penuh amarah. Felicya merutuki tingkah Darin itu. Setidaknya ajaklah dia pergi dari tempat ini terlebih dahulu. "Nona Felicya, mari ikut saya. Saya akan menjelaskan kepada nona apa saja yang nona lakukan nantinya." ujar Daisy, wanita berumur enam puluhan tahun itu. Felicya mengangguk mengikuti Daisy melakukan tuor keliling rumah. "Umur nona berapa? Nona kelihatan masih muda?" "Delapan belas tahun. Aku baru saja lulus sma kemarin." Daisy tercenung. "Tunggu, Bi. Sebelum kau menjelaskan apa saja tugasku, aku ingin bertanya tentang beberapa hal. Darin itu seperti apa?" "Tuan Darin? Saya pikir anda sudah mengenalnya?" "Belum. Aku sama sekali belum mengenalnya. Oh iya Bi, kau tidak perlu bicara seformal itu padaku, aku kan seorang pelayan disini. Apa Darin itu orang yang kasar? Pemarah?" Daisy tersenyum hangat. "Saya sudah mengapdikan diri saya disini sejak tuan Darin berumur sepuluh tahun. Dan selama itu pula saya tidak pernah melihat tuan Darin tersenyum. Bliau selalu menampilkan tatapan dingin dan datarnya. Kurasa tuan Darin memang sedikit memiliki sifat kasar, pemarah, dan masih banyak lagi sifat buruknya." "Uuu.. Benarkah itu?" bulu kuduk Felicya meremang. Sisi Darin benar-benar gelap. "Tapi saya percaya tuan Darin adalah orang yang baik." Felicya menatap dalam mata Daisy, wanita berumur itu penuh ketulusan mengucapkan kalimatnya. Membuat Felicya terdiam beberapa saat. "Baiklah nona Felicya-" "Feli. Panggil aku Feli bibi Daisy." protes Felicya. "Baiklah, nak Feli. Ini kamar yang akan kau tempati." Daisy membuka pintu kamar. Felicya masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi kamarnya sekarang ini. Cukup luas. Felicya merasa dirinya akan nyaman berada di kamar ini. Kamarnya bernuansa putih, dengan ranjang berukuran sedang. Lalu di dekat jendela terdapat kursi panjang dengan pemandangan yang akan mengarah langsung pada taman rumah. Lengkap dengan lemari pakaian, meja serta kursi. "Apa kau suka?" tanya Daisy. "Hemm. Ini cukup nyaman. Kurasa aku akan betah berada seharian di kamar ini." Felicya menunjukkan cengirannya. Tour pun berlanjut. Daisy dengan ramah menjelaskan setiap ruangan yang ada di rumah itu. "Setiap pagi kau harus menyiapkan setelan kerja tuan Darin. Menyajikan makanan untuknya. Tuan Darin selalu pulang larut malam, dan kau harus menyiapkan air hangat untuknya mandi." "Heh? Kenapa dia tidak mencari seorang istri saja." dumel nya. Daisy terkekeh. "Kurasa itu sudah cukup. Jika masih ada yang membuat mu bingung, kau bisa bertanya padaku. Aku harus segera mengurus pekerja yang lainnya." Felicya mengangguk mengerti, tersenyum senang pada Daisy. Begitu juga dengan wanita itu yang menyambutnya hangat. Malam hari tiba, Felicya mondar mandir di dalam kamarnya. Ia menggigit kuku jari jempolnya. Kenapa ia harus merasa gugup? Darin masih belum pulang. Yang membebani pikirannya saat ini, apa yang harus dia lakukan saat Darin pulang nanti? Menyambut kepulangannya dengan senyuman? Lalu mengajaknya ke kamar dan mereka akan berakhir di ranjang? Oh tidak! Bukankah itu terlalu terburu-buru? Selagi dia masih berpikir apa yang harus dilakukannya, pintu kamarnya di ketuk tiba-tiba. Membuat Felicya terlonjak kaget. Ia lekas membuka pintu kamarnya. "Ada apa Bibi Daisy?" "Tuan Darin sudah pulang. Cepatlah ke kamarnya sekarang." Felicya mengangguk. Di pertengahan jalan menuju ke kamar Darin, Felicya justru berpapasan dengan Darin yang juga hendak ke kamarnya. "Malam, om-ups- tuan." Felicya merutuki kebodohannya. Felicya memperhatikan Darin yang nampak tak peduli dengan ucapannya. Pria itu terlihat brantakan. Dasinya longgar dan bajunya juga sudah tidak serapi tadi sore. Tapi melihat penampilan berantakan Darin justru membuat pria itu terlihat seksi? Hah? Bagaimana bisa pikiran itu muncul di otak kecilnya. Bukannya berhenti memandangi Darin, Felicya justru melanjutkan penjelajahannya. Mulai dari wajah kusut Darin yang nampak menawan, sampai kedua kancing teratas kemeja pria itu yang justru memperlihatkan sedikit d**a bidang pria itu. Uhhh so Hot! "Sudah puas memandangiku?" suara berat nan serak milik Darin membuat kaki Felicya lemas. Pria itu menyadari jika Felicya tengah mengamati ke seksiannya. Rona merah tercetak di wajah Felicya. Gadis itu sungguh malu dengan kelakuan mesumnya. Tunggu, m***m? Sejak kapan dirinya berpikiran m***m? Ah mungkin sejak pertama kali Felicya merasakan surga dunia. Darin berdecih. Beranjak pergi melewati Felicya. Bahu pria itu menyenggol tubuh Felicya, membuat tubuh Felicya terhuyung. "Duhh! Kok gak ke kontrol gini sih otaakk guee!" Felicya menepuki jidatnya. Memutar keran kanar mandi, Felicya menyentuhkan tangannya pada air yang mengalir dalam bathup. "Cukup hangat. Pas." Felicya keluar dari kamar mandi. Betapa terkejutnya dia saat melihat Darin sudah bertelanjang d**a dan hanya ada handuk yang melilit di pinggangnya. Felicya ternganga. Dagunya jatuh dengan tidak etisnya saat melihat abs milik Darin. Uwahhh tubuhnya berbentuk secara sempurna. "Apa kau selalu seperti itu saat melihat pria telanjang?" kalimat Darin membuat Felicya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Ini kan pertama kalinya aku melihat tubuh pria dewasa." decaknya. "Memangnya berapa umurmu? Seolah-olah kau masih anak sekolah saja." sinis Darin. "Aku baru berumuh Delapan belas tahun, dan asal kau tau OM-aku baru saja lulus sma." Felicya menekankan kata panggilannya untuk Darin. Darin terkejut bukan main saat mengetahui fakta tentang gadis yang akan menjadi tempat penampungan benihnya itu. Tapi untunglah Darin pandai mengontrol ekspresi wajahnya. Jadi dia seolah sama sekali tak peduli tentang umur gadis itu. Darin cepat-cepat menuju kamar mandi. Menceburkan dirinya ke dalam bathup yang berisi air hangat. Nyaman. Gadis itu pintar mengatur kadar kenghatan airnya. Dia sungguh akan meniduri gadis itu? Wahh! Darin merasa dirinya akan menjadi seorang p*****l sekarang. Felicya berdiri dengan gugup menanti Darin keluar dari kamar mandi. Gadis itu tak bisa tenang. Ia selalu menggoyangkan kaki kirinya untuk menghilangkan kegugupan. "Tenang Feli. Tenanghhh.. Kau sudah pernah melakukan 'itu' tidak masalah. Tidak masalah." Felicya berusaha menyemangati dirinya. Ceklek. Felicya menengang. Menahan nafas saat melihat Darin yang telah keluar dari kamar mandi. Sisa-sisa air yang mengalir pada tubuh Darin semakin membuat pria itu terlihat 'HOT' apalagi rambut pria itu yang basah. "Kemari. Keringkan tubuhku." Darin menggerakkan tangan kanannya. Membuat isyarat agar Felicya mendekat. Dari mana pikiran itu terlintas? Yang jelas saat melihat wajah Felicya yang memerah seperti kepiting rebus saat melihatnya. Kemudian pikiran jahil itu muncul. Ia ingin melihat lagi wajah melongo Felicya saat mengagumi tubuhnya. Felicya menyeret tubuh kakunya mendekati Darin. Susah payah ia meneguk salivanya saat berhadapan dengan pria itu. Wajahnya berada tepat pada d**a bidang Darin yang masih basah. Sisa-sisa aroma parfum masih melekat di tubuhnya. Percampuran woody dan citrus dengan bahan dasar yang beraroma spicy menyeruak ke dalam indra penciumannya. Darin menunggu apa yang akan dilakukan Felicya pada tubuhnya. Dia menikmati saat-saat melihat wajah tersiksa Felicya.  Memberikan handuk kecil pada gadis itu untuk mengelap tubuh basahnya. Felicya menerimanya. Tangannya mulai merambat ke atas. Jantungnya berdebar tak karuan saat mulai menyentuh tubuh Darin. Mengelap tubuh itu secara perlahan dengan handuk. Gerakan tangan Felicya yang pelan justru seperti belaian lembut pada tubuhnya. Hampir saja Darin mengerang dibuatnya. Bagian bawah tubuhnya sudah mulai on. Sentuhan Felicya berdambak besar pada gairahnya ternyata. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Felicya tersentak saat gerakan tangannya terhenti akibat cengkraman Darin pada tangannya. Ia menengadahkan wajahnya. Rahang kokoh Darin mengeras. Apa Felicya melakukan kesalahan? Gairah Darin justru semakin memuncak saat Felicya menunjukkan wajah polosnya. Tangannya menarik tengkuk Felicya. Bibirnya mendarat sempurna di bibir tipis Felicya. Lembut. Darin merasakan kelembutan bibir itu. Ia mulai merubah intensitas ciumannya menjadi lumatan. Menekan kepala Felicya untuk memperdalam ciumannya. Permainan bibir Darin merusak cara kerja otak Felicya. Kakinya menjinjit untuk berpartisipasi memperdalam ciumannya Darin. Darin membawa tangan Felicya agar mengalung di lehernya. Lalu tangan bebasnya mulai menggrayangi tubuh Felicya. Menarik pinggang gadis itu menempel pada tubuh bagian bawahnya yang sudah mengeras. Menggeseknya sebentar. Tangan Darin turun pada bongkahan padat Felicya. Meremas p****t Felicya. Ciuman Darin merambat turun pada leher Felicya. Felicya mendongak dan mengerang. Darin membuatnya melayang hanya dengan ciuman pria itu. Darin menghentikan ciumannya. Memberi sedikit jarak. Keduanya menatap penuh gairah satu sama lain. Nafas Felicya terengah menunggu apa yang akan dilakukan Darin selanjutnya. "Kita akan memulai prosesnya sekarang." Tbc....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD