Belum Mulai, Tapi Putus?

1044 Words
Kok ada lelaki kayak Alvo, ya? Dua tahun mereka pernah sama-sama walau statusnya hanya pura-pura. Kerin baru tahu kalau sifat buruk Alvo telah bertambah. Suka seenaknya merendahkan orang lain. Sudah merasa jauh lebih hebat ya, enteng sekali mulutnya merendahkan orang lain. Ya, sih... Kerin tahu Alvo ada di atas Alfa. Kalau dilihat, jika diperbandingkan, Alvo memiliki segalanya daripada Alfa. Mulai dari kendaraan, isi dompet, jabatan, sampai penampilan, Alvo beberapa langkah di atas Alfa. Tapi, ayolah, baik dan buruknya sifat seseorang nggak bisa dipatok berdasarkan penampilan atau isi dompet, kan? Lihat Alvo, lelaki itu boleh memiliki jabatan tinggi, kaya, tetapi mulutnya tidak berpendidikan! Mudah sekali merendahkan orang cuma karena penampilan saja! Kalau boleh jujur. Alfa jauh lebih mengerti caranya bersikap baik kepada orang lain. Alfa tidak pernah merendahkan siapa-siapa. Alfa baik dan memperlakukan Kerin dan orang sekitar. Buktinya tadi. Alfa memperlakukan Yasmin sama baiknya seperti ke Kerin. Sedangkan Alvo, apa? Hanya pada Yasmin saja baik, mulutnya manis, senyumnya ceria. Giliran berhadapan sama Kerin, duh, tabiat jeleknya keluar. Judes setengah mati! Kerin menggelengkan kepala lalu menarik napas panjang. Kok bisa, gitu, dia naksir berat ke Alvo, bahkan sampai hari ini! Lamunan Kerin buyar. Suara dering ponsel mengejutkan dirinya. Kerin menyambar beda persegi di depannya dan membaca nama kontak yang muncul. Seketika dahi Kerin mengernyit, bibirnya mengeluarkan desahan panjang. Mampus! Mamanya Alvo yan telepon! "Halo, iya, Ma?" Suara Kerin kentara sekali gugup. Bahkan Kerin tidak menyadari dia mengangguk-angguk sejak ponsel itu menempel ke telinga kirinya. "Lagi di mana, Ke? Sibuk, nggak?" tanya mamanya Alvo. "Ada di tempat kos, Ma. Aku nggak sibuk, kok. Kenapa, Ma?" balas Kerin. "Bisa datang ke rumah? Mama mau undang kamu makan malam sama-sama. Mama undang teman Alvo yang lain juga. Ya, anggap aja lagi reuni gitu." "Ah, gitu. Acaranya kapan, Ma?" "Malam ini, Ke. Bisa, kan?" Kerin menggigit bibir bawahnya gelisah. Untuk datang ke sana diperlukan hati dan tekad yang kuat. Jangan sampai dinding yang baru dibangunnya beberapa hari ini malah runtuh cuma karena melihat wajah sombong Alvo. "Ke?" tegur wanita itu. Suaranya pelan, tapi penuh perhatian. Salah satu alasan Kerin mau bertahan di samping Alvo sebagai tunangan pura-pura, ya, itu... karena mamanya Alvo sangat baik kepada Kerin. Sayang, perhatian, kasih sayang yang nggak pernah dia dapatkan dari seorang Ibu, Kerin bisa mendapatkannya dari sosok wanita itu. Mamanya Alvo seringkali mewanti-wanti Alvo, agar tidak berani menyakiti Kerin. Apalagi sampai berani menomorkan duakan Kerin dengan pekerjaan. Kerin yang mendengar omelan mamanya Alvo cuma bisa tersenyum paksa, dalam hati dia bilang, "Telat, Ma. Aku bukan cuma dinomorduakan sama pekerjaan. Entah. Aku mungkin jadi orang kesekian, nggak penting untuk menjadi prioritas anak Mama." Tapi hanya dalam hati. Mana berani Kerin bilang secara blak-blakkan. Kalau sampai kata-kata itu keluar sungguhan dari mulutnya, wah, mungkin saja Kerin akan melihat Alvo dihajar mamanya karena sudah membuat calon menantu kesayangannya sakit hati. "Aku usahakan ya, Ma," jawab Kerin akhirnya. Entahlah. Dia akan datang memenuhi undangan mamanya Alvo atau tidak. Kalau dia tidak datang, itu artinya Kerin akan mengecewakan mamanya Alvo. Tapi, kalau Kerin nekat datang ke sana dan bertemu lelaki itu, bisa dipastikan, dinding yang dia buat sungguhan roboh. Bukan karena tsunami atau angin beliung. Tapi karena lelaki bernama Rialvo Tjandra! *** Kerin sama sekali tidak memiliki bayangan akan melihat wajah Alvo sekarang. Di saat Kerin sedang bimbang dia akan datang atau tidak untuk makan malam bersama orang tua Alvo, lelaki itu tahu-tahu datang dan mengetuk pintu rumah kosannya. Kerin sempat bengong untuk beberapa detik, kemudian disadarkan dengan suara Alvo yang menegurnya. Oh, Tuhan. Mau move on saja kenapa banyak sekali ujiannya! Begini, lho, ketika Kerin sendiri memutuskan untuk berhenti menyukai Alvo, ada saja yang membuat mereka berdua bertemu lagi, lagi, sampai rasanya Kerin nggak berhenti bertanya ke dirinya sendiri. "Kenapa, gitu? Kok, bisa?" Seharusnya yang terjadi, mereka jarang bertemu agar mempermudah Kerin menyembuhkan hatinya. Menata lagi dari awal setelah diporak-porandakan Alvo, tapi lelaki itu tidak mau bertanggungjawab! "Lo belum siap-siap? Berapa lama lagi gue harus nunggu lo dandan?" cibir Alvo. Bibir Kerin mengerucut. Mengenal Alvo, Kerin jadi kesulitan membenci seseorang. Ada turorialnya di Youtube, nggak, sih? Siapa tahu bisa membantu Kerin agar bisa mudah membenci orang macam Alvo. Sudah nggak peka, tidak berperasaan pula! "Ngapain lo dateng kemari?" tanya gue, sinis. Alvo tersenyum tipis, jenis senyum mengejek lebih tepatnya. Sebelah tangannya diletakkan ke dinding, kemudian mencondongkan badannya agak ke depan sampai Kerin refleks mundur beberapa langkah. "Daripada lo tanya ngapain gue ke sini. Harusnya lo ucapin terima kasih," katanya, menyunggingkan senyum sinis. "Emang lo melakukan hal baik apa ke gue sampai harus bilang terima kasih ke lo?" tanya Kerin balik. "Gue dateng jauh-jauh ke sini buat jemput lo." Alvo memalingkan wajahnya ke belakang sepintas. Kemudian, lelaki itu menambahkan suara paling pelan. "Kalau bukan karena Mama yang nyuruh, gue juga ogah." "Lo balik aja kalau gitu! Nggak ada yang minta lo buat jemput gue," balas Kerin, hendak menutup pintu namun Alvo menahannya. Sama kayak Alvo. Kalau bukan karena mamanya Alvo yang minta Kerin datang untuk makan malam di rumahnya, Kerin juga malas! "Gue udah terlanjur ke sini ya, Ke, jangan bikin ulah!" Alvo menahan pergelangan tangan Kerin. "Yang bikin ulah bukan gue, tapi lo, Vo," ujar Kerin menatap Alvo sengit. "Nggak ada yang minta lo ke sini. Nggak ada yang nyuruh lo buat berbaik hati ke gue. Kalau lo nggak suka dan merasa terpaksa, lo pulang aja sana. Lo bisa cari alasan kenapa lo pulang nggak bareng gue." "Mana bisa gitu, Ke." Alvo meninggikan suara sambil mendelik. "Lo mau bikin Mama gue curiga kalau kita putus?" Kerin menyeringai. "Putus? Kita pacaran aja nggak, kok. Akan lebih baik lo nyebut kerjasama kita udah selesai." Alvo terkesiap, terkejut mendengar kata-kata Kerin baru saja. "Oh ya, satu lagi yang mau gue bilang ke lo." "Apa?" tanya Alvo was-was. "Sesuai janji gue ke lo. Gue sendiri yang bakal ngomong ke Mama lo kalau kita udah selesai. Gue tahu lo merasa terbebani selama ini. Jadi, supaya nantinya kita nggak saling mengganggu satu sama lain, gue yang bakal mengakhiri. Gue rela dianggap paling egois. Karena gue yang minta kerjasama kita berakhir. Jadi, lo tenang aja. Nama lo bakal baik-baik aja di mata keluarga lo." Alvo diam mematung. Dia menelaah kata-kata Kerin. Perempuan itu santai dan tenang. Alvo merasakan dadaanya bergemuruh hebat. Mendengar Kerin telah mengakhiri hubungan mereka hingga diulang beberapa kali, Alvo menjadi tidak rela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD