4. Tutor Period (2)

1334 Words
Chapter 4 : Tutor Period (2) ****** KIKYO pun menghela napas berat. Alisnya menyatu; ia jadi gelisah. Dilihatnya Tuan Yunho sudah berbalik badan dan mulai berjalan ke gedung yang tadi ia belakangi. Ternyata gedung itu adalah aula pertemuan kerajaan. Tuan Dae tiba-tiba menepuk punggung Kikyo pelan. “Kau akan baik-baik saja. Kau hanya harus menjaga sikapmu.” “Tuan, apa para menteri itu sudah tahu bahwa aku akan datang?” tanya Kikyo, ia bersama Tuan Dae mulai menuju ke gedung aula pertemuan itu. Matanya menatap Tuan Dae dengan penasaran. Alisnya masih menyatu. Tuan Dae hanya menatap ke depan. “Mereka hanya tahu bahwa ‘gadis yang setuju untuk menyusup ke Kerajaan Seiju’ akan datang hari ini, tetapi mereka tidak tahu soal siapa gadis itu. Mereka baru akan melihatmu ketika kau masuk ke aula nanti.” “Ah…begitu,” ujar Kikyo seraya mengangguk dengan ekspresi bodohnya. Mulutnya terbuka sedikit, tetapi matanya terbuka lebar. Tuan Dae menoleh kepada Kikyo; ia mulai menatap Kikyo dengan serius. Pria itu terlihat seolah tengah memperingati Kikyo. “Nanti kalau ada menteri yang memberikan komentar buruk tentangmu, jangan terlalu dihiraukan. Diam saja. Mereka bersikap seperti itu untuk melindungi kerajaan.” Kikyo mengangguk. Dia tahu bahwa hal itu mungkin saja terjadi karena dia bukan berasal dari keluarga yang terhormat. Ibu Kikyo hanya merupakan seorang wanita penghibur (tetapi bukan p*****r) dan penampilan Kikyo juga biasa-biasa saja seperti ini. Kikyo memiliki pikiran yang logis; dia juga bukan tipe perempuan yang sensitif. Biasanya hinaan-hinaan dari orang lain hanya akan lewat begitu saja di otaknya, tidak begitu ia gubris. Masuk ke kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Dia orang yang cukup simpel; dia tidak berbelit-belit. Kikyo pun menatap ke depan hingga akhirnya mereka berdua berdiri tepat di belakang Tuan Yunho. Tuan Yunho sudah berdiri di depan pintu berdaun dua aula pertemuan itu dan ada dua orang penjaga yang berdiri di kedua sisi pintu itu. “Yang Mulia,” ujar Tuan Dae—memanggil Yang Mulia Raja yang ada di dalam sana—dan suaranya terdengar kuat. “Aku, Yunho Rui, meminta izin untuk masuk ke dalam aula, Yang Mulia.” Setelah itu, terdengar sebuah suara yang berasal dari dalam aula. Suara yang tegas dan maskulin. “Masuklah.” Tuan Yunho lantas mengangguk; kedua penjaga pintu itu dengan sigap langsung membukakan pintu untuk Tuan Yunho. Para penjaga itu merunduk hormat kepada Tuan Yunho ketika Tuan Yunho mengucapkan terima kasih. Akhirnya, Tuan Yunho pun berjalan masuk ke aula pertemuan. Kikyo dan Tuan Dae hanya mengikutinya dari belakang dan begitu ada di dalam aula, Kikyo langsung terpesona. Aula itu terlihat sangat luas. Megah. Warnanya didominasi dengan warna kebanggaan Hanju, yaitu biru muda. Ada beberapa lampu kristal yang tergantung di atas ruangan, lalu di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah karpet lebar berwarna merah yang memanjang dari pintu masuk hingga ke depan takhta raja. Di kedua sisi karpet merah tersebut berdirilah para pria yang memakai pakaian yang sama dengan Tuan Yunho. Ini menunjukkan bahwa mereka semua adalah menteri-menteri kerajaan. Semua menteri kerajaan berdiri berjajar di sana; mereka semua memang sedang melakukan pertemuan di aula itu! Namun, sayangnya sebelum Kikyo sempat melihat ke depan sana, Kikyo mendadak merasa bahwa seluruh tatapan mata para menteri itu mulai tertuju ke arahnya sehingga ia pun menundukkan kepala. Ketika ia melihat Tuan Yunho mulai berhenti melangkah, ia dan Tuan Dae pun ikut berhenti melangkah. Tuan Yunho langsung membungkuk hormat dan otomatis Kikyo beserta Tuan Dae pun mengikuti gerakannya. “Yang Mulia,” sapa Tuan Yunho. “Hari ini aku membawa perempuan yang akan menyusup ke Kerajaan Seiju, Yang Mulia.” Diam selama beberapa detik…hingga kemudian terdengar suara berat seorang pria dari depan sana. Dari arah takhta. “Baiklah. Angkat kepala kalian.” Tuan Yunho lantas mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Tuan Dae dan Kikyo pun ikut mengatakan hal yang sama. Mereka lalu berdiri tegak secara bersamaan. Begitu Kikyo telah menegapkan tubuhnya dan melihat ke depan, betapa terpukaunya Kikyo ketika melihat area takhta yang ada di depan sana. Mimbarnya cukup tinggi dan berukuran besar. Kikyo kini sadar bahwa para menteri berdiri berjajar tepat di ujung kiri dan ujung kanan mimbar takhta. Itu berarti karpet merah yang ada di tengah-tengah itu juga memiliki lebar yang sama dengan mimbar takhta. Kanopi takhta itu berwarna biru dan dilengkapi dengan tiang-tiang keemasan. Kursinya juga berwarna biru bercampur keemasan. Sungguh indah dipandang mata. Tidak mencekam, tetapi tetap sangat megah. Agung. Di takhta itu duduklah seorang raja. Raja itu terlihat masih muda, tubuhnya tegap dan dadanya bidang. Ia terlihat memiliki fisik yang kuat serta sepasang mata yang berwarna biru, sama seperti yang orang-orang katakan. Raja itu memiliki rambut panjang berwarna hitam kecoklatan dan rambut tersebut diikat pada setengah bagian atasnya. Half ponytail. Raja itu memakai jubah kerajaan yang panjangnya mencapai kakinya; jubah itu terlihat sangat indah saat melekat di tubuhnya. Dari bagian kerah hingga d**a jubah itu kainnya terlihat berwarna keemasan dan sedikit keras. Bagian dadanya sedikit terbuka hingga menampakkan bentuk d**a bidang milik Sang Raja. Kulitnya sedikit kecoklatan; tubuhnya begitu bagus. Raja itu memang memiliki fisik yang sangat kuat. Dia terlihat sangat berwibawa; bentuk matanya tajam seperti siren. Ia menatap dengan saksama, tetapi tidak mengintimidasi. Raja itu—Raja Zyran—tampak tersenyum simpul. Tatapan Raja Zyran mulai tertuju pada Kikyo. Senyuman raja itu semakin terlihat. “Siapa namamu, Nona? Tolong perkenalkan dirimu.” Mata Kikyo kontan membulat; ia sontak tersadar kembali dari momen terpukaunya itu. “A—Ah, baik, Yang Mulia.” Kikyo merunduk hormat, lalu dengan kepala yang masih tertunduk itu ia pun melanjutkan, “Perkenalkan, Yang Mulia. Namaku Kikyo Hana. Nama panggilanku adalah Kikyo. Aku berasal dari Desa Hondae, Yang Mulia. Ibuku adalah kenalannya Tuan Dae.” Raja Zyran pun mengangguk. Raja itu lalu berkata, “Apakah Yunho atau Dae sudah menjelaskan situasinya kepadamu?” Kikyo mengangguk. “Sudah, Yang Mulia.” “Apakah kau benar-benar setuju untuk menyusup ke Istana Kerajaan Seiju?” tanya Raja itu sembari memiringkan kepalanya. Kikyo kembali mengangguk. “Iya, Yang Mulia. Aku bersedia.” Yah, demi melunasi utang. Mau bagaimana lagi. Raja pun tersenyum lebar. Ekspresi wajahnya langsung terlihat seakan ‘menyetujui’ Kikyo; ada sebuah kilat yang melintas dan bersinar sejenak di kedua mata berwarna birunya. “Baiklah. Kalau begitu, kaulah yang akan berangkat.” Setelah Raja mengatakan itu, kontan beberapa menteri yang berdiri di sana mulai terlihat panik dan kaget. Suasana di ruangan itu mendadak mulai sedikit riuh; banyak menteri yang mulai berbicara dengan satu sama lain, keheranan dengan keputusan Raja yang terkesan begitu spontan. Akhirnya, ada salah satu menteri yang mulai menghadap ke arah Raja dan sedikit bergerak maju—maju selangkah dari posisinya—lalu merundukkan tubuhnya sejenak. Ketika ia berdiri tegak kembali, ia pun mengangkat tangannya, pertanda bahwa ia ingin mengatakan sesuatu atau mengemukakan pendapatnya. “Yang Mulia,” sapanya dengan hormat. “Maafkan aku yang apabila aku lancang, Yang Mulia. Akan tetapi, sebaiknya kita tidak memutuskan hal yang krusial secepat ini, Yang Mulia. Ini bukanlah permasalahan kecil. Kita semua harus memikirkannya matang-matang. Anda tidak perlu terburu-buru, Yang Mulia.” Setelah itu, ada satu orang menteri lagi yang maju ke depan dan merunduk hormat, lalu berdiri tegak kembali dan menambahkan, “Benar, Yang Mulia. Sebaiknya, Anda tidak usah terburu-buru. Kita harus mengecek asal usul perempuan ini terlebih dahulu, Yang Mulia. Kita belum tahu siapa dia karena dia bukan seorang bangsawan. Perempuan ini juga belum tentu bisa dipercaya. Kalau kita salah satu langkah saja, kerajaan kita bisa berada dalam bahaya, Yang Mulia.” Tiba-tiba mulai ada empat, lima, sampai enam menteri yang menyetujui saran dari dua menteri sebelumnya. “Benar, Yang Mulia.” “Iya, Yang Mulia.” “Tolong dipertimbangkan lagi, Yang Mulia.” “Benar, Yang Mulia. Kita harus berhati-hati, Yang Mulia.” Akhirnya, Raja Zyran pun mengangkat sebelah tangannya; ia menyuruh para menterinya untuk diam terlebih dahulu. Setelah para menteri itu diam dan berdiri lagi di posisi mereka masing-masing, Raja Zyran pun mulai tersenyum dan berkata, “Baiklah. Silakan kalian cek terlebih dahulu asal usulnya nona ini. Akan tetapi, firasatku bagus. Aku tidak merasakan hal buruk apa pun ketika melihat nona ini.” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD