Latisha menatapnya sedih saat mendengar suara Kairo bertanya. "Ibu Alana pergi karena kanker rahim. Saat usianya lima belas tahun." "Ya Tuhan," Tara menahan napas dan menggeleng sedih. "Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan." Kali ini keduanya yang menatap Tara iba. "Ayo, Latisha. Mereka sudah menunggumu di lantai dasar." Latisha mengangguk. Saat Tara mendorong troli berisi mainan dan makanan manis. Bersama Kairo yang menenteng banyak barang. Latisha masih menyimpan hadiah lagi di van milik Alana. Dan meninggalkan bingkisan kecil untuk para perawat yang tidak mengenal kata lelah menjaga mereka sepenuh hati. Suara anak-anak menggema. Mereka sering melihat Latisha di layar kaca. Saat beberapa kali lagu miliknya diputar di televisi nasional dan radio-radio lokal dalam kurun waktu terlama

