Jika ini yang terbaik untuk hubungan kita maka dari itu mari putuskan bersama agar tak ada lagi kesalah pahaman yang dapat menyebabkan cinta berubah jadi benci pada akhirnya karena jika hubngan ini masih terus di paksakan itu takan baik untukmu maupun untukku. Karena kita tak pernah tau takdir apa yang akan terjadi pada hubungan kita saat ini maupun nanti di kemudian hari. Jika kau bertanya apa arti dirimu bagiku maka aku akan dengan senang hati menjawabnya bahwa kau adalah lelaki yang sesaat berhasil meluluhkan hatiku dan dengan mudahnya menghancurkan nya tanpa mau memikirkan bagaimana sakit yang aku terima.
@Drevan.
Jika nanti suatu saat aku mengaku salah maukah kau terus memberikan kesempatan untukku berubah menjadi yang lebih baik karena aku tau sekatang hatiku sedang goyah dan sangat butuh tempat untuk berlabuh. Berjanjilah Liana karena aku tak ingin kau pergi dari sisiku dan aku sangat tak ingin kehilanganmu egois memang tapi aku benar benar tak mau kau pergi menjauhiku.
@Liana.
Aku bukan Tuhan Van yang selalu memberi kesempatan untuk hamba hambanya yang meminta kesempatan untuk berubah, aku hanya manusia biasa yang di mana memiliki hati dan perasaan yang bisa sakit kapanpun dan dimana pun dan bahkan dengan siapa dan oleh siapa pun itu.
Jika kau meminta padaku apakah aku bisa memberikan kesempatan untukmu lagi dan lagi ??? Maka jawabannya adalah maaf ...Karena berulangkali aku memberimu kesempatan tapi kau selalu mengingkarinya dan melakukan hal yang sama berulang ulang dan itu semua semakin membuatku muak dengan menghadapi sifatmu maka sudah cukup sampai di sini, jika kau mencintainya hiduplah dengannya karena aku tidak apa apa dan aku akan melepasmu untuk bahagia bersamanya hanya dengannya tanpa ada bayang bayang kehadiranku disisimu Van. Dan agar kau tak perlu memikirkan perasaanku yang terluka di balik ini semua.
Pov.....
@Liana.
***35896
" Mari bertemu."
Pesan dari Rania.
" Kita bertemu di caffe dekat kantorku." Balasku padanya.
@Drevan messege.
" Kau sibuk, kalau tidak mari makan siang bersama aku yang akan ke caffe dekat kantor mu."
" Maaf aku sudah ada janji, bagaimana kalau lain waktu."balasku padanya karena tak mungkin aku bertemu mereka secara bersamaan seperti ini.
Drevan messege.
"Baiklah." Balasnya padaku. Baik ini mungkin saatnya untuk membalas. Aku bergegas menuju Caffe yang di maksud, Tuhan jika ini yang terbaik untukku maka baiklah aku menunggu Rania datang.
Aku melihatnya datang bersama Drevan menaiki mobil pria yang berstatus sebagai tunanganku saat ini atau yang sebentar lagi akan berubah status menjadi mantan menantu karena aku tak pernah tau akan jadi seperti apa hubungan ini jika kita masih terus bersama dan menjalin hubungan seperti ini dengan kehadiran dari wanita yang tak pernah kuharapkan berada di tengah tengah hubungaan yang sedang kita jalin saat ini. Aku terus menatapnya dalam diamku. Aku melihat hanya Rania saja yang masuk sedangkan Drevan tidak kemana pria itu fikirku. Aku tersenyum menyambutnya .
" Sudah lama menunggu."Ucapnya.
" Ah tidak, aku baru saja datang. " Ucapku menatapnya tersenyum. Ia kemudian duduk dihadapan ku .
" Oh Rania apa kau datang sendiri??."Tanyaku padanya.
" Aku datang bersama kekasihku tak apa-apa kan." Ucapnya menatapku tersenyum cerah .
Degggggggggggggggggggggggggg Cukup sudah. Aku menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. kekasih fikirku.
" Oh benarkah tentu tidak apa apa, oh ya kalau aku boleh tau sudah berapa lama kalian berpacaran??."Tanyaku sebisa mungkin menahan emosi ku yang sudah sangat ku tahan.
" Kami berpacaran sudah cukup lama yaitu sekitar 2 Tahun."
Aku menatap nanar ke arahnya. Selama itu fikirku benar bukan Drevan benar-benar membuatku menjadi wanita yang sangat sangat bodoh pria berengsek aku bahkan sangat ingin mencekiknya hingga mati saat ini karena aku tau yang sebenarnya apa hubungan keduanya dan sudah berapa lama terjalin.
" Lalu apa kau sendiri sudah punya kekasih ?."
Tanyanya padaku, aku menatapnya kekasihmu juga adalah kekasihku Nonna ucapku dalam hatiku dan berusaha terlihat tenang di hadapannya walaupun dalam hatiku menjerit untuk berkata tidak dengan semua ini.
" Tidak, aku belum memikirkan karena aku masih ingin sendiri dan fokus pada karirku." Ucapku seadanya.
" Oh ya hmmm panggil saja kekasihmu Rania kasihan dia, biarlan dia bergabung bersama kita." Ucapku.
" Baiklah Tunggu sebentar ya, aku akan memanggilnya." Ucap
nya bangkit kemudian keluar dari caffe ini.
Kulihat mereka berdua memasuki Caffe bersama dan saling bergandeng tangan dan tatapan Drevan pun tampak nyaman bersamanya. Sakit itulah yang kurasakan saat menatap mereka berdua bersama dan bergandengan tangan di depan mataku.
" Honey kenalkan ia Liana Ceo dari perusahaan yang akan bekerja sama denganku." Ucap Rania padanya. Kalian tau bagaimana expresi nya shock aku hanya balas tersenyum dan menatapnya dengan pandangan terlukaku yang sengaja aku berikan padanya, aku bahkan harus menahannya walaupun sakit yang kurasakan saat ini begitu nyata. Bodoh memang kau wanita paling bodoh Liana aku terus merutuki kebodohanku dalam hati. aku bahkan bisa merasakan air menggenang di pelupuk mataku yang sebentar lagi pasti akan mengalir dengan sendirinya dan aku masih harus mencoba bertahan dalam kebisuanku menatapnya dalam pandangan terlukaku Aku mengulurkan tanganku dan tersenyum kearahnya seolah semua sedang baik baik saja dan sedang tidak terjadi sesuatu antara kami berdua.
" Senang bertemu denganmu aku Liana, bagaimana kabarmu."Ucapku mencoba menghalau suaraku yang bergetar agar terkesan normal. Ia hanya diam masih menatapku dengan nanar tanpa membalas jabatan tanganku. Aku benar bukan Van sepandai pandainya kau menyembunyikan keburukanmu dariku pasti akan ketahuan juga pada akhirnya. Aku terus menatapnya, keputusanku sudah bulat detik ini. Bahwa esok hari mari akhiri semuanya secepatnya Van karena detik ini juga aku menyerah padamu dan untuk selalu berada disisimu aku tak mampu karean sakit hati yang kurasakan sudah terlalu dalam dan aku tak mampu untuk bertahan lebih jauh lagi .
" Senang Bertemu dengan mu juga" Ucapnya dengan lirih. Dan membalas uluran tanganku. Aku meremas tangannya seolah-olah mengatakan kenapa kau berbohong padaku Van kau menipuku terlalu lama dan membuat hatiku sangat hancur kau bahkan pria paling jahat yang aku kenal.
" Ayo duduk, aku sudah memesan minuman."Ucapku saat melepaskan tautan tangan kami. Kami duduk bersama dan aku mulai perbincangan tanpa memandangnya karena tatapan ku tertuju pada Rania.
" Rania apa kau sudah memutuskannya??." Ucapku menatapnya.
" Ya ,aku sudah memutuskan mari bekerja sama Liana." Ucapnya dengan semangat menatapku .
Aku tersenyum membalasnya dan mengulurkan tanganku.
" Ya mari bekerja sama, semoga kita berhasil dengan kerjasama ini."Aku meliriknya yang hanya diam menunduk tak berani menatapku, aku menyerahlan dokument padanya untuk ia pelajari dan tak lama aku menatap ke sekelilingku.
" Kapan kalian akan menikah ??."Tanyaku dengan santai sambil menyeruput minuman ku. Kulihat ia menegang di tempatnya setelah mendengar pertanyaan yang kulontarkan barusan.
" Aku rasa secepatnya, karena sudah lama juga kita berpacaran dan aku merasa sudah sangat bosan." Ucap Rania aku hanya menatap mereka berdua dengan nanar kau baru 2 Tahun bersamanya Rania aku yang sudah 5 Tahun saja bertahan disisinya tanpa kejelasan darinya dan tak bisa mengucapkan apapun secara langsung padanya tapj kau.
Kulihat ia mulai menatapku dan kemudian menatap Rania.
" Rania kembalilah ke kantor menggunakan mobilku." Ucapnya dan memberikan kunci mobilnya.
" Lalu kau bagaimana??."Tanya Rania.
" Aku masih ada urusan."Ucapnya tetap memandangku.
" Baiklah kalau begitu." Ucapnya kemudian berdiri dan pamit
" Liana sampai ketemu lagi nanti." Ucapnya membungkuk padaku
Aku pun berdiri dan balas membungkuk.
" Ya sampai bertemu lagi dan hati hati di jalan." Ucapku. Tinggalah kami berdua di sini aku menatapnya dengan tatapanku yang terkesan acuh padanya.
" Jelaskan Van aku mendengarnya dan jangan pernah berbohong sedikitpun. "Ucapku dengan datar.
" Maaf Liana Maaf kan aku." Ucapnya menatapku dengan nanar.
" Aku menyuruhmu menjelaskan bukan untuk meminta maaf Van." Ucapku menatapnya datar.
" Aku tidak bisa menjelaskan sekarang maafkan aku, akupun bingung harus menjelaskan dari mana. "Ucapnya. Aku berdiri dari dudukku dan menatapnya.
" Kalau begitu mari jangan pernah bertemu sampai kau benar benar sudah bisa menjelaskan semuanya padaku, aku pergi." Ucapku kemudian Pergi dengan membawa kepedihan di dalam hatiku dan tak terasa air mata yang sejak tadi berusaha aku tahan sekuat tenaga agar tidak sampai jatuh akhirnya jatuh juga tanpa bisa ku tahan lagi.
Pov.
Drevan.
Apa yang harus ku jelaskan aku pun bingung dari mana dan bagaimana harusnya aku tidak akan pernah mengajaknya bertemu kalau akhirnya akan seperti ini. Aku menatap kepergiannya dengan nanar. b******k b******k Drevan kau berengsek.
Aku berlari keluar untuk mengejar Liana ku dan menjelaskan semuanya. Tapi ia sudah tidak ada .
Pov.
Liana.
Aku bergegas keluar dan masuk ke dalam kantorku dan kemudian melaju ke arah lift tapi tidak menuju ruanganku karena aku menuju parkiran untuk mengambil mobilku. Karena aku harus memenangkan diriku yang sedang sangat kacau saat ini.
Aku mengambil handphoneku dan terdapat panggilan dari beberapa orang termasuk Sandrevano pria b******k.
Aku menekan tombol hijau Mira.
" Halo yak kau dimana."Ucapnya
" Batalkan semua rapat hari ini, aku tidak akan ke kantor."Ucapku
" Kau tidak apa apa ?." Tanyanya khawatir.
" jangan khawatirkan aku. aku baik baik saja."Ucapku dan tak terasa air mataku telah jatuh semakin derasa .
" Liana bicaralah yang jujur padaku, aku tau kau sedang tidak baik baik saja saat ini katakan padaku ada apa dan dimana kau saat ini. " Ucapnya dengan tajam.
" aku hanya lelah. aku butuh istirahat sejenak."Ucapku padanya.
" Demi Tuhan katakan kau dimana sekarang aku akan menyusulmu, kumohon jangan merasa kalau kau baik baik saja karena aku sangat tau kau sedang tak baik baik saja saat ini." Ucapnya dengan penekanan dan kemudian menutup sambungan teleponnya.
Aku memberhentikan mobilku di sebuah taman lalu menangis sejadi-jadinya di dalam mobilku agar tidak ada yang melihatku. Aku merutuki kebodohanku yang masih saja bertahan di saat ia selalu menyakitiku sangat dalam tanpa tau bagaimana terluka hatiku melihatnya bersama dengan wanita itu di depan mataku sendiri.
Tbc.