"Cukup, Nak, cukup." Bibir seorang paruh baya bergetar, kelihatan seperti ingin menangis tapi nyatanya air mata itu tidak keluar. Suasana gedung sepi, tinggal beberapa orang anggota keluarga saja yang menyaksikan itu, sunyi sekejap setelah Daniar menumpahkan perasaannya. Tukang potret bahkan telah meninggalkan gedung setelah mengumumkan kesibukan lain dan beberapa orang kecewa karena belum puas senyumnya tersungging selama beberapa menit. Ekspresi digantikan oleh keterkejutan yang baru saja terjadi di dalam gedung. Seterusnya yang terjadi adalah mereka pamit untuk pulang, mengejar bus malam tentu saja yang takut tak muncul karena hari memang sudah gelapnya. Lampu-lampu gedung kemudian dinyalakan oleh tukang gulung kabel, Pak tua tukung gulung kabel itu segera saja meninggalkan aula utam

