BAB 1

1200 Words
PROLOG Cincin itu terlalu longgar di jari manis Nadin. Ia menatap berlian kecil yang berkilau di bawah lampu kristal. Sulit dipercaya seorang staf administrasi bergaji pas-pasan seperti dirinya kini berdiri di sebuah rumah megah, mengenakan gaun sutra yang harganya bahkan lebih mahal daripada biaya pengobatan ibunya selama berbulan-bulan. "Jangan menunduk," ujar pria di sampingnya. "Orang-orang akan mengira kamu menyesal." Nadin mengangkat wajah. Arkana Wiratama berdiri begitu dekat hingga aroma kayu cendana dari jasnya tercium jelas. "Memang aku menyesal," bisiknya. "Aku tahu." "Lalu kenapa kamu tidak menyuruhku pergi?" Arka tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada pintu besar di hadapan mereka. Dari balik pintu terdengar tawa para tamu dan denting gelas. Di dalam sana ada keluarga besar Wiratama, para wartawan yang menyamar sebagai undangan, serta seorang perempuan yang mungkin akan menjadi ancaman terbesar bagi Nadin. "Dengar," kata Arka. "Setelah kita masuk, aku tidak bisa melindungimu setiap saat. Kamu harus bisa bertahan sendiri." "Aku sudah bertahan sendiri seumur hidupku." Sudut bibir Arka bergerak tipis. "Ya. Itu alasan aku memilihmu." Nadin segera menepis perasaan hangat yang muncul di dadanya. Ini bukan kisah cinta. Semuanya hanya kesepakatan. Ada kontrak, tanda tangan, dan biaya pengobatan ibunya yang harus dibayar. Tidak lebih. Namun, mengapa tangannya gemetar ketika Arka membetulkan cincin di jarinya? Pikirannya kembali pada malam ketika semuanya bermula, dua tahun lalu, saat ia masih menjadi staf biasa yang tidak dikenal siapa pun. *** Dua tahun sebelumnya, Nadin duduk di kursi plastik rumah sakit ketika dokter menjelaskan kondisi ibunya. Ada kata stadium, kanker agresif, dan pilihan pengobatan yang terbatas. Namun, yang paling membekas justru angka biaya yang harus disiapkannya. Malam itu Nadin menghitung saldo tabungannya berkali-kali. Hasilnya tetap sama: tidak cukup. Ia menjual gelang peninggalan neneknya, meminjam uang kepada teman kantor, mengambil pekerjaan tambahan, dan mengurangi waktu tidurnya. Semua dilakukan demi satu harapan: ibunya bisa sembuh. Namun, harapan tidak bisa membayar tagihan rumah sakit. Dua tahun berlalu dalam rutinitas yang melelahkan. Kemoterapi, obat-obatan, utang, dan pekerjaan tambahan menjadi bagian dari hidupnya. Sampai suatu malam, ketika ia mengantar laporan ke lantai dua puluh dua gedung Wiratama Group, Nadin tanpa sengaja mendengar percakapan di ruangan CEO. Ia tidak pernah membayangkan pertemuan singkat itu akan mengubah hidupnya. *** Malam itu, Arka duduk di balik meja kerjanya. Kemeja putihnya kusut, sementara dasinya terlepas longgar. "Nama," katanya. "Nadin Prameswari, Pak. Divisi administrasi, lantai lima belas." "Berapa banyak yang kamu dengar?" "Hanya sedikit. Saya tidak mengerti apa-apa, Pak. Saya juga berjanji tidak akan menceritakannya kepada siapa pun." "Janji tidak banyak berarti di gedung ini." Nadin menunduk. Ia membayangkan kemungkinan terburuk: kehilangan pekerjaan, ancaman, atau sesuatu yang lebih buruk. Namun, kalimat berikutnya justru membuatnya terpaku. "Aku membutuhkan seorang istri." Nadin mengira dirinya salah dengar. "Istri kedua," lanjut Arka dengan nada datar. "Hanya di atas kertas dan di hadapan publik. Sebagai gantinya, seluruh biaya pengobatan ibumu akan menjadi tanggung jawabku." "Kenapa saya?" Arka menatapnya beberapa saat. "Karena kamu bukan bagian dari lingkaran orang-orang yang selama ini mengkhianatiku. Dan karena aku tahu kamu sedang membutuhkan sesuatu yang tidak bisa kamu dapatkan sendiri." *** Pintu besar itu akhirnya terbuka. Puluhan pasang mata langsung tertuju kepada Nadin. Di ujung ruangan, seorang perempuan bergaun merah anggur meletakkan gelasnya dan tersenyum. "Cantika," bisik Arka. Istri sahnya. Perempuan yang selama ini dikenal publik sebagai pasangan sempurna Arkana Wiratama. Lutut Nadin terasa lemas. Tanpa sadar, ia menggenggam lengan jas Arka. Pria itu tidak menjauh. Sebaliknya, ia menutupi tangan Nadin dengan telapak tangannya. "Tersenyumlah," bisiknya. "Aku tidak bisa." "Kalau begitu, jangan lepaskan aku." Nadin menarik napas panjang. Ia teringat ibunya, semua pengorbanan yang telah dilakukan, dan alasan mengapa ia menerima pernikahan ini. Perempuan bergaun merah anggur itu berjalan mendekat. "Jadi, ini dia," katanya lembut. "Adik maduku yang baru." Cantika meraih tangan Nadin dan menggenggamnya erat. "Selamat datang di keluarga Wiratama," bisiknya. "Semoga kamu betah. Orang-orang biasanya tidak bertahan lama di sini." Nadin menoleh kepada Arka, tetapi pria itu hanya berdiri dengan wajah dingin. Ia kemudian menegakkan punggung. Jika harus menghadapi semua ini, setidaknya ia tidak akan melakukannya dengan kepala tertunduk. Di sudut ruangan, seseorang mengangkat gelasnya sambil tersenyum tipis. "Akhirnya. Pertunjukan dimulai." --- ## BAB 1: Staf Biasa yang Tidak Seharusnya Ada di Sana Alarm ponsel Nadin berbunyi pukul lima pagi. Seperti biasa, ia sudah terbangun beberapa menit sebelumnya. Kamar kontrakannya hanya berukuran tiga kali tiga meter. Sebuah kasur tipis, lemari plastik, dan kipas angin tua menjadi seluruh isi ruangan. Setelah mandi dan mengenakan blus putih, Nadin memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan dari rumah sakit. Setidaknya, belum ada tagihan baru yang harus dipikirkannya pagi ini. Pukul enam lewat sepuluh, ia tiba di Rumah Sakit Harapan Sentosa dengan membawa bubur ayam. Ibunya, Bu Ratna, sedang duduk bersandar di ranjang. "Kamu datang pagi-pagi lagi, Nak?" "Nadin kan lewat sini, Bu." "Padahal kantormu berlawanan arah." Nadin hanya tertawa kecil sambil membuka bungkus bubur. Setelah menyuapkan beberapa sendok, ia melirik jadwal kemoterapi yang terpasang di ujung ranjang. "Nadin," panggil ibunya. "Kalau uangnya tidak cukup, Ibu bisa pulang saja." Nadin menghentikan tangannya. "Ibu tidak akan pulang sebelum pengobatannya selesai. Soal uang, biar Nadin yang urus." Bu Ratna mengusap pipinya. "Kamu keras kepala sekali. Persis seperti ayahmu." Nadin tersenyum, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. *** Wiratama Group berdiri megah di pusat kota. Gedung berkaca gelap itu menjadi simbol keberhasilan bagi banyak orang. Bagi Nadin, tempat itu hanyalah sumber penghasilan yang harus ia pertahankan. Ia bekerja di divisi administrasi lantai lima belas. Tugasnya mengarsipkan dokumen, menyiapkan laporan, dan memastikan semua berkas sampai ke meja yang tepat. Siang itu, Mbak Rina dari bagian keuangan menyodorkan sekotak risoles. "Kamu kelihatan capek, Din." "Namanya juga hari Kamis, Mbak." "Hari Kamis atau hari kehidupan?" Nadin tertawa kecil. Namun, tawanya segera terhenti ketika Bu Dewi, kepala divisinya, menghampiri meja. "Nadin, laporan evaluasi kuartal ketiga harus sudah ada di meja Pak Arkana besok pagi. Jadwal rapat dimajukan." "Data pemasaran belum lengkap, Bu." "Saya tahu. Makanya saya minta kamu yang menyelesaikannya. Kamu paling teliti." Nadin mengangguk. Itu berarti ia harus lembur. Ia segera mengirim pesan kepada perawat yang menjaga ibunya, meminta agar ibunya ditemani malam ini. *** Pukul sebelas malam, lantai lima belas sudah sepi. Setelah menyelesaikan laporan, Nadin mencetak dan memeriksa setiap halaman sebelum menjilidnya. Biasanya, dokumen seperti itu cukup diletakkan di meja sekretaris CEO. Ia menaiki lift sambil memeluk map tersebut. Pintu terbuka di lantai dua puluh dua. Lorong tampak lengang, hanya cahaya dari sebuah ruangan di ujung yang masih menyala. Nadin meletakkan map di meja sekretaris. Namun, sebelum sempat pergi, ia mendengar suara dari dalam ruangan. "...Kau pikir aku bercanda, Arkana?" Nadin terdiam. "Berapa yang kau mau?" Suara kedua berasal dari Arka, CEO perusahaan yang selama ini dikenal tegas dan sulit ditebak. Nadin tahu seharusnya ia segera pergi. Namun, sebelum sempat melangkah, lantai di bawah kakinya berderit. Percakapan mendadak berhenti. Pintu terbuka. Arkana Wiratama berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih berlengan tergulung dan dasi yang sudah longgar. Wajahnya terlihat letih, tetapi sorot matanya tajam. "Kamu," katanya pelan. "Sudah berapa lama berdiri di sana?" Nadin tidak mampu menjawab. Di belakang Arka, layar ponsel di atas meja masih menyala. Seseorang di seberang sambungan tertawa kecil. "Wah, sepertinya kita punya penonton." Arka tidak menoleh. Tatapannya tetap tertuju kepada Nadin, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Malam itu, Nadin belum tahu bahwa satu langkah kecil yang salah akan menyeretnya ke dalam kehidupan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD