Hanania menyimak dengan sesak semua rangkaian aksara yang disusun Arafan untuknya. Mulai dari perkenalan awal suaminya itu dengan perempuan bernama Vanya, sejauh mana hubungan mereka sampai pada akhirnya menceritakan bagian tergetir yang harus didengar Hanania. Arafan mengambil napas sejenak lalu mengembuskannya. Ia tahu ini tidak mudah tapi ia wajib menyampaikannya. “Bukannya aku mau mengelak itu semua. Tapi fakta yang ada memang seperti ini. Aku sangat yakin kalau Abrisam adalah anakku bersama Vanya.” Tidak lagi seperti tersambar petir. Penuturan Arafan itu mengambil detak jantung Hanania secara paksa. Rasanya tak hanya sesak melainkan sakit yang tak lagi terukur. “Aku beberapa kali melakukannya. Mungkin, yang terakhir sebelum kepergiank

