"Kok Pak Sagra peduli?" tanya Jenni tanpa pikir panjang.
Sagra seketika melepaskan genggaman dan berbalik. Dia memiringkan kepala, mendapati wanita itu yang masih terlihat malu dengan wajah agak pucat. "Saya nggak suka partner saya merepotkan! Jangan ge-er!"
Jenni menghela napas berat. Ternyata dia semakin dibuat malu karena berbicara tanpa pikir panjang. Ada apa dengan hari ini, Jen?
Saya nggak suka partner saya merepotkan! Jangan ge-er!
Kalimat tegas dan diucapkan satu tarikan napas itu membuat Jenni kicep. Dia sudah berbuat salah, tapi bertanya aneh-aneh. Akibatnya, sekarang berhadapan dengan singa bernama Sagra. Jenni menghela napas berat. Demi Tuhan, dia serem kalau ngamuk.
"Udah ngerti, kan, maksudnya?" tanya Sagra kala Jenni hanya diam. Dia menjauh dan memilih duduk di dekat jendela. Gara-gara Jenni pagi hari dia sudah marah-marah. Pagi hari diawali dengan kemarahan, percayalah sepanjang hari pasti bawaannya emosi. Sagra paling tidak suka itu.
Jenni mengembuskan napas setelah Sagra menjauh. Dia mengedarkan panjang, melihat restoran hotel dengan kursi-kursi yang kosong. Dia menyeret kaki menuju meja terdekat dan segera duduk.
Pandangan Jenni tertuju ke Sagra. Lelaki itu sedang memesan makanan dengan gaya elegan. Hah? Elegan? Yah, setidaknya itu yang terlihat di mata Jenni. Tiba-tiba, Sagra menoleh dan mendapati Jenni tengah memperhatikannya. Satu alisnya tertarik ke atas. "Makan!"
Jenni mengangkat tangan memanggil pelayan dengan bibir mengerucut. Sungguh, dia tidak nafsu makan sekarang. Namun, jika tidak makan Sagra pasti akan memarahinya.
"Silakan, Bu!"
"Ha?" Jenni tergagap karena pelayan itu langsung meletakkan mangkuk besar. Dia mengerjab melihat seporsi bubur ayam yang memenuhi mangkuk putih. "Saya bahkan belum pesan."
"Bapak itu yang memesan." Tangan pelayan itu kemudian terarah ke seorang lelaki yang sedang menyesap kopi.
Jenni menepuk kening. "Ternyata dia ikut campur," gerutunya. "Untung doyan bubur." Kemudian dia melahap bubur ayam yang masih panas itu.
Di sudut lain, Sagra memilih menatap jendela. Sebenarnya, kaca di depannya cukup memantulkan kondisi di dalam ruangan. Jadi, dia bisa melihat Jenni yang melahap bubur ayam sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Beberapa kali, Jenni menunjuknya, tapi pura-pura tidak tahu. "Dasar!" Sagra geleng-geleng kemudian melanjutnya menyesap kopinya.
***
Sejak pukul tiga sore, Sagra sudah berada ke tempat konser. Dia melihat panggung setinggi dua meter setengah dengan alat musik dari perusahaannya. Event kali ini spesial, karena itu dia datang. Selain untuk bersenang-senang, dia juga akan mengadakan bantuan alat musik untuk orang-orang yang memiliki bakat bermusik, tapi terhalang fasilitas.
Sebenarnya kegiatan itu bisa diwakilkan. Namun, karena si pemilik perusahaan yang akan hadir, tidak etis rasanya dia jika tidak menemani. Sagra yakin tindakannya akan semakin memperkuat romor yang beredar. Dia dikenal sangat sopan kepada klien dan atasannya. Namun, tidak dengan karyawan bawahan.
Sagra sendiri bingung sejak kapan pemberitaan itu beredar. Seingatnya, dia tidak pernah berbuat kasar ke karyawan bawahannya. Sesekali dia marah, itupun karena pekerjaan mereka yang tidak becus. Setelah itu dia juga kembali seperti biasa. Tidak ada dendam atau apapun. Kalaupun Sagra jahat ke karyawan, tidak mungkin dia tadi meminta minyak kayu putih ke petugas hotel bahkan menyerahkan sendiri ke karyawaan yang muntah itu.
"Siapa nama, tuh, cewek?" Sagra tiba-tiba lupa dengan wanita berpenampilan mencolok tadi.
"Pak Sagra!"
Sagra berjingkat. Dia menoleh, mendapati lelaki yang mengenakan kaus biru dengan kalung ID card.
"Ini." Lelaki itu menyerahkan sebuah kertas berbentuk persegi. "Nanti Pak Sagra sendiri yang mengesahkan. Atas permintaan Pak Yassar."
Sagra mengambil kertas itu dan membaca susunan acara. Setelah itu dia membalik halaman selanjutnya dan melihat pidato yang telah disiapkan oleh tim. Dia menarik kertas dan menyerahkan ke lelaki di sampingnya. "Saya bisa tanpa kertas kayak gini."
"Ah, maaf, Pak." Lelaki itu mengambil kertas itu dan sedikit memerasnya. "Apa Bapak tidak mau menunggu di tenda?"
Sagra mengedarkan pandang, melihat karyawan lain berlalu lalang dan beberapa pengunjung yang mulai berdatangan. "Ya, nanti."
"Baik, Pak. Saya permisi."
Tidak ada respons dari Sagra. Dia bersedekap dengan satu tangan memegang kertas yang sebenarnya tidak terlalu penting.
"Dasar!"
Telinga Sagra menangkap suara yang tidak asing. Entah kenapa, kata itu seperti ditujukan kepadanya. Lantas Sagra menoleh dan menemukan seorang wanita yang memakai kaus biru, seperti karyawan lainnya.
Jenni mengangkat tangan karena Sagra berbalik menghadapnya. "Duh, kedengeran pasti!"
Yah, Jenni sejak beberapa menit yang lalu berdiri di belakang Sagra, melihat dan mendengar bagaimana Sagra yang menyombongkan diri. Apa salahnya tim penyelenggara menuliskan pidato? Siapa tahu di pidato itu ada pihak-pihak yang harus disebutkan namanya. Terlebih, si pemilik perusahaan turut hadir.
"Kenapa masih di situ?" tanya Sagra kala Jenni hanya diam mematung. Dia memiringkan kepala, memperhatikan wanita itu memakai celana kain berwarna biru tua dan kaus seragam tanpa jaket. Rambutnya masih digerai dan tampak berantakan tertiup angin. "Jangan sampai muntah lagi."
"Saya sudah sehat!" Jenni tidak terima. "Saya permisi!" Setelah itu dia berlari menjauh.
Sagra menghela napas karena lagi-lagi melihat keanehan wanita itu.
"Pak Sagra!"
Baru saja Sagra merasa tenang, tapi ada suara lagi. Dan itu suara wanita yang beberapa detik yang lalu berbicara dengannya. "Apa lagi?"
Jenni tersentak kaget melihat ekspresi sebal Sagra. "Pak Yassar ingin bertemu." Kemudian tangannya bergerak ke belakang kepala.
Sagra mengikuti arah pandang wanita itu dan melihat seorang lelaki yang memakai jas berwarna abu-abu muda. Tanpa merespons, dia langsung melewati Jenni. Bahkan tanpa sengaja lengan itu menabrak lengannya.
"Aaah...." Jenni mengusap lengannya.