2-Pak Bos Bernama Sagra

653 Words
"Nggak duduk?" Sagra melirik dari ekor matanya. Wanita berpenampilan mencolok itu berdiri bak manekin di toko pakaian. "Gimana bisa Lendra kerja sama orang lemot," gerutunya kemudian. "Ya. Saya duduk." Jenni tidak mendengar gerutuan itu dan memilih duduk. Dia melirik ke tablet Sagra lalu menarik bibirnya ke dalam ketika tahu lelaki itu membaca komik. Padahal, dia sempat berpikir jika Sagra gila kerja yang menunggu jadwal penerbangan dengan mengecek laporan. Tidak sangka, lelaki itu seperti orang kebanyakan. "Ehm...." Dia berdeham karena tawanya hampir meledak. Sagra menggeser tabletnya, tahu dari pantulan layar jika Jenni mencuri pandang. Memang salah membaca komik? Orang yang sudah dewasa saja masih banyak yang tergila-gila dengan kartun dan PS. Dia hanya melakukan apa yang dia senangi dan itu bukan tidakan kriminal. Dia lalu mengangkat bahu tidak memedulikan. Suasana hening mulai terasa di antara keduanya. Padahal, di bandara sangat ramai. Seperti lebah yang terus terbang dengan suara bising. Sayangnya, dua orang itu seperti berada di kelambu yang bisa mem-filter suara. Sreek.... Jenni mengusap telapak tangannya di atas celana berbahan linen. Dia melirik arloji berwarna pink yang menunjukkan pukul delapan lebih lima menit. Kemudian melirik Sagra yang masih sibuk dengan bacaannya. "Pak Sagra sudah daritadi?" "Hmm...." Sagra menjawab sambil lalu. "Nunggu dari jam enam pagi?" "Saya menemani seseorang." "Oh...." Jenni manggut-manggut. Dia mengedarkan pandang berusaha mengatasi kecanggungan. Di saat seperti ini, memang paling benar mencari kesibukan lain. Refleks, Jenni berdiri dan membaringkan kopernya. Tindakan itu cukup membuat Sagra kaget. Tanpa sadar dia memperhatikan Jenni yang berjongkok di depan koper, kemudian mengeluarkan sebuah kotak makan. Jenni menutup kembali kopernya dan kembali duduk. "Mending sarapan." "Ck!" Sagra geleng-geleng. Bagaimana bisa wanita itu memasukkan makanan ke koper? Bukannya membawa tottebag atau kantung lain. "Bapak mau?" Jenni menyodorkan kotak makannya, hingga menutupi layar gawai Sagra. Sagra mendorong kotak makan berwarna ungu menyala itu. "Thanks." "Oke...." Akhirnya Jenni memilih menyantap roti dengan selai cokelat favoritnya. "Emm. Enak banget." Sagra melirik Jenni penasaran. Ekspresi karyawannya itu seperti sedang menikmati makan mewah dan paling mahal di dunia. Padahal, hanya memakan roti dengan selai cokelat. Sepertinya wanita itu tahu bagaimana menikmati hidup dengan cara sederhana. "Mau?" Jenni tiba-tiba menoleh merasa Sagra memperhatikannya. Dia kembali menyodorkan roti, sayangnya yang telah tergigit. Namun, dia tidak menyadari hal itu. Seketika kepala Sagra bergerak mundur. Dia bahkan bergeser karena tindakan barusan. Bagaimana bisa orang lain menawarkan makanan yang sudah dimakan? Sebelumnya dia tidak pernah mengalami hal seperti itu. "Ya udah...." Jenni melahap roti itu hingga mulutnya penuh kala Sagra tidak merespons. Tring.... Suara informasi mulai terdengar. Sagra berdiri dan menggeret koper kecil yang sebelumnya tergeletak di samping kirinya. Sedangkan Jenni mulai kelabakan, karena dia baru saja melahap potongan roti yang kedua, ah bahkan belum selesai dikunyah. Dia membuka koper dan memasukkan kotak makan itu secepat mungkin. "Pak! Tunggu!" teriak Jenni yang tentu terbenam karena mulutnya penuh dengan roti. Dia menggeret kopernya lalu berlari mengejar Sagra yang berjalan terlampau cepat. "Pak! Tunggu." Sebelumnya Sagra lupa jika pergi bersama seseorang. Dia berbalik, melihat Jenni yang menghampiri dengan pipi menggembung. Ketika wanita itu sudah di depannya, dia melihat ada noda cokelat di sudut bibir. "Tuh...." Sagra menyentuh sudut bibirnya. Dia sangat risih jika ada orang makan sampai belepotan. Jenni belum merespons, sibuk menelan roti di mulut. Sedangkan Sagra mulai kehilangan kesabaran melihat wanita itu yang lemot. "Jangan bikin malu." Kemudian Sagra mengusap sudut bibir Jenni. Terakhir, dia mengusap ibu jarinya ke lengan kemeja Jenni. Jenni melongo karena tindakan barusan. Dia lalu menoleh ke lengan kemejanya dan melihat ada noda cokelat di sana. "Yah, Pak!" Sagra tidak menggubris dan melanjutkan langkah. Menurutnya ini semua gara-gara Lendra. Lelaki itu harusnya ikut ke Kota Batu. Sehingga dia bisa berbicara masalah pekerjaan untuk membunuh waktu. Bukannya bersama wanita aneh. "Ah! Bego banget!" Jenni baru sadar, jika noda itu dari selai cokelat. Dia mengusap sudut bibirnya, tidak ingin membuat malu kedua kalinya. "Oke! Anggap itu bukan masalah besar." Jenni melanjutkan langkah sambil mengangkat dagu, meski dalam hati dia sangat malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD