Aku tidak bisa tenang terus-terusan di kamar, jadi Aku memutuskan untuk keluar sebentar. Dan saat Aku keluar, Aku menggunakan sihirku untuk menyegel pintunya. Iya, menyegel. Jadi supaya kalau ada gempa atau kebakaran sekalipun, pintu ini tidak akan terbuka.
Awalnya Aku mondar-mandir tidak jelas ke sekeliling rumah. Malah saking gusarnya, Aku jadi mulai melakukan hal yang tidak suka kulakukan. Aku menyapu, mengepel, bersih-bersih, memacul di kebun, memanen, dan tanpa kusadari, hari sudah pagi.
"Aria?" Aku mendengar namaku dipanggil saat Aku sedang menyikat ubi di halaman belakang. "Kau sedang apa?" Ternyata itu Melisa.
Aku hanya tersenyum. "Hanya sedang membersihkan ubi." Sahutku sambil terus menyikat di keranjang. "Tadi Aku habis memanennya di kebun karena sepertinya sudah matang."
"Kau berkebun daritadi?"
Oh, ubinya sudah bersih. Jadi Aku bangun dan mengangkat keranjang ubiku. "Bagaimana kalau ubi panggang untuk sarapan?"
Satu-persatu, orang-orang mulai bangun dan menanyakan hal yang sama saat melihatku di dapur, bahkan nyonya Flinny. Semua orang terus memandangku aneh saat Aku menyajikan ubi panggang untuk mereka. Untuk beberapa lama, mereka hanya diam menatap ubi panggangku.
"Tumben sekali." Akhirnya Aku mendengar Nina berkomentar.
"Iya, tumben kan?" Aku menyahut riang. "Ah, Aku buang sampah ke luar dulu. Kalian makan saja duluan." Kataku dengan senang hati.
Aku lupa, kalau di luar, para prajurit masih berkeliaran. Aku sempat membeku di depan pintu. Tapi setelah menguatkan hati, Aku kembali menggerakkan kakiku keluar. Tidak apa-apa, hanya buang sampah kan?
Tapi tentu saja, di sana ada prajurit, di sebelah sana juga ada, yang berjalan di depanku juga ada… Kegelisahan akhirnya merayapiku lagi dan Aku pun menatap ke atas, ke arah jendela kamarku.
Setelah ini bagaimana?! Setelah ini Aku harus pergi ke toko roti. Apa tidak apa-apa kalau kutinggal? Maksudku, iya, Aku sudah menyegel pintuku dan semacamnya, tapi tetap saja…
Ditambah, sihir segel itu berlaku untuk luar dan dalam. Jadi kalau-kalau laki-laki itu malah berusaha memecahkan jendelaku untuk kabur, dia juga tidak akan bisa. Meski kurasa dia tidak akan melakukannya dengan banyak prajurit di sana-sini.
PIIITT PIIITT PIITT! Aku langsung melompat kaget begitu ada suara terompet. Rupanya... Ada pembawa pesan dari istana.
Semua orang sontak keluar dari rumah mereka dan melihat ke arah alun-alun kota, di mana ada pembawa pesan yang kelihatan membawa surat besar. Bahkan Melisa dan Dris juga ikut keluar.
"PESAN DARI ISTANA. PANGERAN PERTAMA, ALEXANDER ALKIAN TELAH MENGKHIANATI KERAJAAN, DENGAN BERUSAHA MEMBUNUH YANG MULIA RATU DAN BERHASIL KABUR. BARANGSIAPA YANG BISA MENEMUKANNYA, HIDUP ATAU MATI, AKAN DIBERIKAN HADIAH. SAYA ULANGI..."
Seketika, otakku berhenti bekerja. Pangeran, berkhianat, mencoba membunuh ratu, hidup atau mati… Lihat kan? Beginilah jadinya setiap Aku mulai menggunakan sihirku.
Yang akhirnya menyadarkan pikiranku adalah saat orang-orang mulai bergerak ke arah papan besar, tempat pembawa pesan itu menempelkan gambar sketsa pangeran. Aku tidak bergerak dan hanya lihat dari jauh, tapi iya, gambarnya sama dengan laki-laki yang ada di kamarku sekarang.
Selagi orang-orang masih sibuk, Aku kembali masuk duluan. Nyonya Flinny hampir akan bertanya padaku, tapi Aku buru-buru berkata, "Aku sarapan nanti saja." Dan langsung naik ke lantai dua, membatalkan sihir segelku, dan masuk ke kamar. Dan saat melihat laki-laki itu masih tidur, Aku pun menghela napas lega.
Dia ternyata seorang pangeran. Padahal kupikir dia hanya bangsawan biasa karena dia memang memakai pakaian yang bagus, berkilau juga kalau tidak ada noda darah yang mengotorinya. Pedangnya juga pedang bagus…
Wah, ternyata betulan ada ada lambang istana di sarung pedangnya.
"A-Anu... Sudah pagi." Kataku hati-hati. Tapi karena tidak ada sahutan, Aku mulai mencolek-colek lengannya juga, di bagian yang tidak terluka tentu saja.
"Pangeran... Pangeran... Sudah pagi... Pangeran baru saja jadi buronan seantero negeri. Pangeran… Kenapa dia tidak bangun?”
Maksudku, iya, dia memang masih kekurangan darah. Tapi harusnya dia sedikit bereaksi walaupun hanya sekedar ‘ah’ atau ‘uh’ saja. Curiga sekaligus khawatir, Aku mulai memeriksa keadaannya lagi. Semalam Aku sudah menggunakan banyak sihir dan memberinya banyak obat.
Walaupun belum sembuh total, seharusnya dia sudah lebih baik-- Oh, dia membuka matanya.
Aku spontan mundur sedikit, mungkin khawatir kalau dia mulai memelototiku lagi. Tapi Aku harus mulai bicara, sekarang! Aku tidak punya waktu banyak sampai Aku harus segera ke toko roti. "Anu, pangeran. Pangeran sudah baik-baik saja kan?"
"Kau... Yang merobek bajuku..."
Hm, kurasa itu artinya ingatannya baik-baik saja. "Anu, pangeran, Aku tahu pangeran masih lemas, tapi Aku benar-benar perlu bicara sekarang, jadi apa bisa duduk dulu sebentar saja?" Kataku.
Kurasa dia berusaha memelototiku, tapi mungkin kelopak matanya masih tidak kuat? Jadi kemudian dia menurut dan mulai duduk. Lalu setelah menarik napas panjang dan merapikan emosi, Aku pun mulai menceritakan semua hal yang terjadi dalam semalam, juga tentang dia yang baru saja jadi buronan.
Dia mendengarkanku dengan seksama, sambil terus memberiku tatapan sayu. Lalu akhirnya dia menyahut pelan, "Begitu..." Katanya.
Aku masih memandanginya berharap dia mulai menjelaskan sesuatu, tapi dia malah langsung melontarkan pertanyaan yang sejak semalam belum bisa kujawab. "Kau akan menyerahkanku ke prajurit?" Tanyanya.
"...Tergantung." Sahutku dan dia langsung menatapku diam. "Maksudku, tentu saja! Tapi setidaknya Aku mau dengar...." Aku menggigit bibirku. "Apa pangeran benar-benar berusaha membunuh ratu?"
Terdiam sejenak, dia masih berusaha membaca sikapku. "Kalau Aku jawab tidak, kau akan percaya?"
“...” Aku terdiam sejenak juga. Tapi sebelum kusadari, Aku sudah melepas sandalku dan melemparnya ke wajah pangeran. Plak!
Untuk catatan, Aku juga sebenarnya kaget sendiri. "Eh, maaf, maaf! Maksudku--"
"Beraninya kau--" Dia terlihat kaget, tentu saja. Mungkin dia sudah pernah ditusuk tombak dan disayat pedang, tapi pasti ini pertama kalinya dia dilempar sandal.
"A-Aku minta maaf. Tapi, itu, pangeran, tolong jangan jawab Aku seperti itu." Kataku takut-takut.
"Aku akan mendengarkan, jadi tolong jawab saja yang benar. Masalah percaya atau tidak itu urusan nanti." Lanjutku, sambil mengambil sandalku pelan-pelan.
Tapi dia terus saja menatapku tajam untuk beberapa lama, hening sama sekali. Kupikir dia sedang berpikir, jadi Aku membiarkannya. Dan akhirnya dia pun buka mulut. "Benar, Aku memang mencoba membunuh ratu." Katanya kemudian.
Kekecewaan mulai merayapi perasaanku, tapi Aku masih diam. Kurasa agak berharap dia melanjutkan penjelasannya. Meski begitu, sayangnya dia tidak melanjutkan apa-apa--
TOK TOK TOK. Tapi tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintuku!
Jantungku langsung deg-degan tidak karuan. Aku panik! Dan keputusan yang akhirnya kubuat adalah mendorong selimut di kasur supaya menutupi seluruh tubuh pangeran. "Jangan bersuara!" Perintahku pelan.
"Ehem, ehem." Aku menarik napas sebelum membuka pintu untuk mengatur nada suaraku. Baru kemudian Aku membuka pintu dengan sangaaat melipir. "A-Ada apa?" Tanyaku saat melihat Melisa di depan pintu.
"Ah, itu, tidak ada, hanya, um..." Dia memulai ragu-ragu. "Apa kau baik-baik saja?"
"Iya, Aku tidak kenapa-napa. Memangnya kenapa?"
"Tidak ada. Kau tahu, hanya... kalau-kalau kau sedang ada masalah." Katanya. "Maksudku, semua orang tahu kau hanya berkebun kalau sedang stres. Kau ingat saat terakhir kali kau berkebun? Waktu itu kau sedang stres karena hampir membakar seluruh toko roti."
"...Uh, Aku? Aku begitu?" Tanyaku kikuk dan Melisa hanya menatapku. "Tapi aku tidak apa-apa kok, serius!"
"Kau yakin?" Tanyanya dan Aku mengangguk. "Yah, kalau kau bilang begitu--Ah, tapi apa kau akan pergi ke toko roti? Maksudku, kalau kau mau, Aku bisa menyampaikan pada nyonya Jevine kalau kau sedang sakit atau semacamnya, supaya kau bisa istirahat saja hari ini..."
"Iya, iya! Tolong kalau begitu." Kataku memaksakan senyum. "Kalau dipikir sepertinya Aku memang agak sakit... Agak diare juga kurasa."
Melisa mulai tersenyum. "Oke kalau begitu. Ah, tapi kau harus sarapan. Ubi yang kau panggang masih tersisa di dapur." Katanya. "Istirahat yang banyak saja. Aku pergi dulu ya." Lanjutnya tersenyum dan akhirnya dia pun pergi.
Aku menutup pintu dan menyadari kalau tanganku ternyata dingin dan gemetar. Pikiranku sempat kosong untuk banyak alasan, tapi… Memangnya Aku suka berkebun kalau sedang stres?
"Haha..." Tapi saat Aku berbalik, Aku malah melihat gundukan di balik selimut itu sedang bergetar. "Berkebun kalau sedang stres katanya. Hahaha--Aw, aw... Haha--Aw..."
"Anu, pangeran, kalau masih sakit, tidak usah memaksakan tertawa begitu..."
"Aw... Hahaha--Aw, aw." Dia sama sekali tidak menghiraukanku.
Lagipula memangnya salah siapa Aku stres semalaman... Hh, padahal tadi Aku sedang serius bicara dengannya. Tapi sekarang rasanya jadi sulit menanyakannya lagi.
Menuruti perkataan Melisa, akhirnya Aku pergi ke dapur untuk sarapan. Semua orang kelihatannya sudah pergi, mungkin kecuali nyonya Flinny yang sekarang ada di kebun. Aku penasaran memangnya masih ada yang bisa dilakukan di sana mengingat Aku sudah mengurusnya semalaman...
Aku mengambil ubi panggang yang tersisa. Tapi karena khawatir pangeran mungkin tidak suka ubi panggang, Aku juga mengambil beberapa roti beserta menteganya. Meski anehnya, saat Aku membawakannya ke kamar, dia malah lebih memilih makan ubi panggangku dan tidak menyentuh rotinya sama sekali.
"Pangeran tidak suka roti?" Tanyaku.
"Tidak roti yang sekeras itu." Sahutnya tanpa menoleh. Dasar bangsawan!
Berusaha mengabaikan itu, Aku meniup peluit untuk memanggil burungku. Sebelum Aku mendengar penjelasan lengkap dari pangeran, ada baiknya Aku mencari tahu sendiri juga.
Begitu burung merpati kesayanganku datang, Aku langsung memberinya makan roti yang tadi tidak dimakan pangeran, selagi Aku sendiri mulai menulis surat.
"Kau mau mengirim pesan pada seseorang?" Kudengar pangeran bertanya saat Aku mulai mengikat surat kecil pada kaki burungku. "Pada siapa?"
"Ada, temanku."
"Apa kau akan memberitahu temanmu untuk melapor prajurit, kalau misal nanti Aku menyerangmu, begitu?" Tuduhnya was-was. Ya ampun, pangeran ini curigaan sekali.
Agak kesal, Aku menoleh dan memandangnya tajam juga. "Kalau tidak mau, pangeran harus ceritakan semuanya padaku." Balasku
Pangeran itu diam sejenak, tapi akhirnya dia malah mengalihkan pandangannya. "Tidak seperti kau akan mempercayaiku." Katanya. Aku sendiri sudah tidak ada tenaga mengambil sandalku, jadi Aku hanya menghela napas lagi.
"Tapi, kau... Semakin kuperhatikan, kau benar-benar tidak kelihatan takut padaku ya? Asal kau tahu, walaupun dengan kondisi begini, Aku masih bisa menyerangmu." Katanya lagi.
Orang ini benar-benar... "Qui, tolong patuk dia atau apalah." Kataku dan burungku langsung mengganggunya. Meski terlihat panik, Aku menghargai usahanya untuk tidak bersuara. "Pangeran, tolong jangan ubah topik pembicaraannya."
"Cepat singkirkan burung ini!" Pintanya kemudian.
Aku hampir menyerah lagi untuk bicara padanya. Tapi kemudian Aku teringat sesuatu yang lain. "Oh iya, kalau tidak salah pangeran punya adik kan ya? Namanya tuan putri... Aku lupa namanya..."
Pangeran masih tidak membalas, tapi caranya terdiam justru malah membuatku panik. Sangat tidak diduga, perkataanku sepertinya malah terlalu mempengaruhinya. "Qu-Qui, cepat ke sini! Jangan mengganggu pangeran lagi. Dia sedang sakit! Anu, apa pangeran mau tambah ubinya lagi?"
"Alicia..." Gumamnya tiba-tiba.
Benar, kalau tidak salah namanya adalah tuan putri Alicia. "Tsk, apa boleh buat. Akan kuceritakan semuanya."